novel-online-gratis

Malam Tanpa Ujung

Selamat menikmati salah satu novel terbaik dari web novel online gratis, silahkan baca hingga bab terakhir dengan gratis.

Bab 1: Matahari yang Terakhir

Matahari padam pada hari Rawuh Lintang berusia sembilan belas tahun.

Tidak ada yang melihat saat-saat terakhirnya. Para pendeta Menara Surya sudah memperingatkan selama tiga generasi bahwa cahaya itu semakin pucat, tetapi manusia adalah makhluk yang pandai mengabaikan peringatan yang terlalu besar untuk dipahami. Mereka terus menanam di ladang, berdagang di pasar, dan menikah di bawah langit yang lama-lama berwarna seperti susu basi. Kemudian, pada suatu pagi di bulan kesembilan, fajar tidak datang. Hanya malam yang terus berlanjut, dan tidak seorang pun ingat kapan terakhir kali mereka melihat bayangan mereka sendiri.

Itu terjadi enam belas tahun yang lalu bagi dunia. Bagi Rawuh, itu terjadi dalam cerita yang diwariskan ibunya sebelum meninggal, karena ia sendiri lahir tiga tahun setelah gelap itu dimulai dan belum pernah melihat matahari seumur hidupnya.

Kini, di dalam kota Kalagiri, satu-satunya kota yang masih bertahan di lembah beku itu, orang-orang hidup dengan cahaya buatan. Lampu-lampu minyak ikan paus tergantung di setiap sudut jalan, menyala redup dan berbau tengik. Ladang-ladang jamur tumbuh di bawah tanah, diterangi batu-batu bercahaya yang digali dari tambang tua. Suhu turun setiap tahun, dan para tabib mencatat bahwa anak-anak yang lahir belakangan semakin pucat dan semakin sering batuk darah. Semua orang tahu kota ini sedang sekarat. Tidak ada yang mengatakannya dengan lantang.

Rawuh tinggal di loteng sempit di sayap pelayan, berbagi ruangan dengan tiga pelayan perempuan lain. Malam hari mereka saling berbagi selimut dan cerita-cerita yang diulang sampai hafal: tentang kampung halaman yang sudah tertimbun salju, tentang kekasih yang tidak pernah pulang dari tambang, tentang rasa buah yang hanya pernah mereka dengar dari orang tua. Seorang pelayan tua bernama Mbok Surti sering menutup cerita malam dengan kalimat yang sama, “Selama ada lampu, kita masih manusia.” Rawuh selalu mengingatnya, tanpa tahu mengapa kalimat itu terasa lebih berat dari yang seharusnya.

Rawuh bekerja sebagai pelayan di Istana Candradipa, tempat Sang Ratu Ratih Kencana memerintah dengan tangan yang semakin lemah. Tugasnya sederhana dan tidak pernah dilirik siapa pun: menyalakan lampu di koridor timur, menyapu abu dari perapian, mengantarkan teh jahe ke kamar-kamar para bangsawan. Ia berjalan menunduk, bicara seperlunya, dan telah belajar menghilang di antara bayangan dinding istana. Ia pandai sekali menjadi tidak terlihat. Dan justru karena itu, ia pandai sekali melihat.

Ia melihat pendeta-pendeta Menara Surya yang berbisik gelisah di lorong. Ia melihat peti-peti berisi bahan bakar yang dipindahkan diam-diam setiap malam ke menara rahasia di belakang istana. Ia melihat putri mahkota, Dyah Laksmi, berdiri sendirian di balkon pada tengah malam, memandang kegelapan dengan wajah yang tidak mirip pewaris tahta mana pun, lebih seperti seseorang yang sedang menghitung berapa lama lagi mereka bisa bertahan.

Ia tidak pernah menceritakan apa pun yang ia lihat pada siapa pun. Bukan karena takut, melainkan karena ia tidak yakin ada gunanya. Dalam kehidupan seorang pelayan, kebenaran adalah barang yang terlalu mahal untuk dimiliki dan terlalu berbahaya untuk dibagi. Ia hanya menyimpannya rapi di dalam kepalanya, seperti menyimpan lilin cadangan di laci, siapa tahu suatu hari dibutuhkan.

Pada suatu malam yang dingin, ketika Rawuh sedang mengganti minyak di lampu koridor paling ujung, ia mendengar suara dari balik pintu yang seharusnya terkunci. Suara itu pelan, seperti bisikan, dan berasal dari ruang pustaka yang dilarang bagi pelayan.

“…tinggal tiga bulan lagi. Setelah itu cadangan terakhir akan habis.”

“Kita tidak bisa memberitahu rakyat.”

“Mereka akan mengetahuinya sendiri ketika lampu pertama padam.”

Rawuh membeku, botol minyak di tangannya bergetar. Ia mengenali kedua suara itu. Yang pertama adalah suara Kepala Pendeta Wirata, lelaki berjanggut kelabu yang selalu berbicara dengan nada yang menenangkan. Yang kedua adalah suara putri mahkota.

Ia mundur selangkah, dan tumit sepatunya menyenggol kaki lampu. Dentingnya kecil, tetapi di dalam keheningan istana, itu terdengar seperti lonceng.

Selama sepersekian detik, pikirannya dipenuhi bayangan-bayangan buruk. Ia akan dicambuk, diusir ke luar tembok kota, atau lebih buruk lagi, dibungkam agar tidak bisa bercerita. Ia pernah mendengar tentang pelayan yang menghilang setelah terlalu banyak tahu. Mbok Surti pernah berbisik bahwa istana ini punya ruang bawah tanah yang tidak tercatat di peta mana pun. Dan kini ia berdiri di depan pintu pustaka dengan botol minyak di tangan dan jantung yang berdentum seperti genderang perang.

Pintu terbuka. Cahaya lilin tumpah ke koridor, dan di ambangnya berdiri Dyah Laksmi dengan gaun malam yang kusut dan mata yang tajam. Ia menatap Rawuh lama sekali, dan Rawuh bersiap menerima hukuman yang biasa diberikan pada pelayan yang mencuri dengar.

“Siapa namamu?” tanya sang putri.

“Rawuh, Tuan Putri.”

“Berapa lama kau berdiri di sana?”

“Tidak lama.” Ia menelan ludah. “Cukup lama.”

Dyah Laksmi menatapnya dengan sesuatu yang tidak bisa Rawuh baca. Bukan amarah, bukan ketakutan. Lebih seperti kelelahan yang akhirnya menemukan tempat untuk bersandar.

“Masuklah,” katanya pelan. “Aku rasa sudah waktunya seseorang selain para pendeta mengetahui kebenarannya.”

Bab 2: Rahasia Menara Surya

Ruang pustaka itu berbau debu dan kulit tua. Rak-rak menjulang hingga langit-langit, dipenuhi gulungan dan buku yang sebagian besar sudah rapuh karena dingin. Kepala Pendeta Wirata duduk di sudut dengan wajah yang tidak senang, tetapi ia tidak membantah ketika sang putri menarik kursi untuk Rawuh dan menyuruhnya duduk.

Lampu-lampu di ruangan itu sengaja dibuat redup, dan di meja tengah, tergeletak tumpukan peta yang sudah menguning. Rawuh memperhatikan bahwa sebagian besar peta itu bertanda silang merah, jalur-jalur ekspedisi yang gagal selama puluhan tahun. Di sudut ruangan, sebuah jam pasir raksasa meneteskan butir-butir terakhirnya, dan Wirata, tanpa menoleh, bergumam bahwa jam itu menghitung hari-hari yang tersisa bagi cadangan bahan bakar kota. Butiran pasirnya hampir habis.

“Tuan Putri,” katanya dengan suara tertahan, “ini bukan keputusan yang bijak.”

“Ini satu-satunya keputusan yang tersisa.” Dyah Laksmi membuka sebuah gulungan di atas meja dan mendorongnya ke arah Rawuh. “Baca ini. Kau bisa membaca, bukan?”

“Ibu saya mengajari saya, Tuan Putri.”

Rawuh membaca, dan semakin ke bawah, semakin dingin tangannya. Gulungan itu ditulis dalam huruf kuno yang tidak sepenuhnya ia pahami, tetapi maknanya cukup jelas. Matahari bukan sekadar bola api di langit. Ia adalah makhluk, lebih tepatnya, sebuah kesadaran tua yang dahulu diikat oleh manusia pertama pada sebuah wadah di langit, sebagai pelindung kehidupan. Dan seperti semua kesadaran, ia bisa lelah.

Di bagian tepi gulungan, seseorang dengan tulisan tangan yang gemetar menambahkan catatan kecil: Jangan kirim yang gagah. Jangan kirim yang pandai. Kirim yang tidak ada yang melihat. Rawuh membacanya dua kali, dan bulu kuduknya berdiri. Seolah seseorang, ratusan tahun lalu, sudah menulis kalimat itu untuknya.

“Ia tidak mati,” kata Dyah Laksmi pelan. “Ia tidur. Dan ia hanya bisa dibangunkan oleh sesuatu yang disebut Pelita Pertama, nyala api dari tangan seseorang yang tidak punya kepentingan apa pun, yang menyalakannya hanya karena ingin orang lain melihat.”

“Seseorang yang tidak punya kepentingan?” ulang Rawuh, bingung.

“Para pendeta mencari Pelita Pertama selama tiga generasi. Mereka mengirim raja-raja, jenderal, orang-orang suci, dan semuanya gagal. Karena setiap dari mereka datang dengan sesuatu yang ingin mereka dapatkan: kekuasaan, kemuliaan, keselamatan keluarga mereka.” Sang putri tersenyum pahit. “Matahari tidak bisa dibangunkan oleh orang yang menginginkan sesuatu darinya.”

Kepala Pendeta Wirata menarik napas panjang. “Ada satu ramalan terakhir di dalam gulungan terdalam. Bahwa Pelita Pertama akan datang dari mereka yang berjalan di antara bayangan, yang tidak pernah dilihat siapa pun, dan yang masih memilih menyalakan lampu untuk orang lain.”

Keheningan jatuh di ruangan itu. Rawuh menatap mereka bergantian, lalu menunduk melihat tangannya sendiri, tangan yang kapalan karena membersihkan perapian, dengan noda minyak yang tidak bisa hilang meski dicuci berkali-kali.

“Kalian… tidak mungkin berpikir…” Suaranya hampir tidak keluar. “Saya hanya seorang pelayan.”

“Kami tahu.” Dyah Laksmi membungkuk sedikit di hadapannya, dan Rawuh hampir terjatuh dari kursinya karena terkejut. Seorang putri mahkota tidak membungkuk pada seorang pelayan. “Kami sudah mengamatimu selama satu tahun. Kau satu-satunya orang di istana ini yang menyalakan lampu di koridor timur, padahal tidak ada bangsawan yang pernah lewat di sana. Mengapa?”

Rawuh menggaruk pipinya, canggung. “Karena… para pelayan lain pulang lewat sana pada malam hari. Gelap di sana. Mereka sering tersandung.”

Dyah Laksmi tersenyum, kali ini tulus untuk pertama kalinya. “Itulah jawabanku.”

Mereka menjelaskan sisanya sepanjang malam, di bawah cahaya lilin yang semakin pendek. Matahari tertidur di dalam sebuah wadah kuno di puncak Gunung Kalamurti, tujuh hari perjalanan ke utara, melewati dataran beku dan hutan-hutan mati. Siapa pun yang membawa Pelita Pertama ke sana harus menyalakan nyalanya langsung di hadapan wadah itu. Tidak boleh ada pasukan, tidak boleh ada pengawal berseragam. Sebab sang matahari akan menolak siapa pun yang datang dengan kekuatan.

Mereka juga menjelaskan bahaya yang menanti. Dataran beku dihuni serigala-serigala pucat yang kelaparan, jurang-jurang tersembunyi di bawah salju tipis, dan yang paling berbahaya, kesunyian yang bisa menggerogoti pikiran. “Banyak yang berhenti bukan karena mati,” kata Wirata pelan. “Tetapi karena merasa tidak ada gunanya melangkah lagi.” Rawuh mencatat peringatan itu dalam hati, dan menyadari bahwa musuh terbesar perjalanan ini mungkin bukan dingin, melainkan keputusasaan.

“Berarti kau harus pergi sendirian,” kata Wirata, dengan suara berat. “Dan kami tidak bisa memberimu apa pun selain perbekalan.”

Rawuh menatap lampu kecil di tengah meja, yang nyalanya bergoyang ditiup angin dari celah jendela. Ia ingat betapa dinginnya koridor timur sebelum ia menyalakan lampu di sana. Ia ingat wajah-wajah pelayan yang bersyukur tanpa mengucapkan terima kasih.

Ia teringat ibunya yang meninggal di musim dingin paling parah, di kamar sempit dengan jari-jari yang sudah membiru. Perempuan itu menjahit sampai napas terakhir, dan di hari terakhirnya, ia hanya berkata bahwa ia menyesal tidak pernah melihat matahari. “Kalau suatu hari kau melihatnya,” bisiknya waktu itu, “ceritakan padaku bagaimana rasanya.” Rawuh tidak pernah melupakan permintaan itu, dan kini, mungkin untuk pertama kalinya, ia punya alasan untuk benar-benar menepatinya.

“Saya tidak yakin saya orang yang tepat,” katanya jujur.

“Tidak ada yang yakin.” Dyah Laksmi menggenggam tangannya, dingin dan gemetar. “Tetapi aku akan ikut denganmu.”

“Tuan Putri…”

“Aku bukan Putri di perjalanan ini. Dan aku tidak akan membiarkan satu-satunya harapan dunia berjalan sendirian menuju kematian.” Ia tersenyum miring, menyembunyikan ketakutannya. “Lagi pula, aku sudah lelah menjadi seseorang yang hanya bisa menghitung hari.”

Bab 3: Dataran Beku

Mereka berangkat tiga malam kemudian, menyelinap melalui gerbang belakang saat pergantian jaga.

Sebelum pergi, Rawuh sempat mampir ke loteng pelayan untuk terakhir kalinya. Mbok Surti terbangun, duduk di tepi ranjang, dan menatapnya lama tanpa bertanya apa pun. Ia hanya meraih tangan Rawuh dan menyelipkan sebuah bungkusan kecil berisi dua potong gula aren yang sudah ia simpan sejak musim dingin lalu. “Untuk perjalananmu,” katanya. “Kau tidak perlu cerita ke mana. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kami semua berterima kasih untuk setiap lampu yang kau nyalakan.” Rawuh menahan tangis, memeluk perempuan tua itu erat-erat, dan pergi sebelum air matanya jatuh.

Perbekalan mereka sederhana: roti jamur kering, daging asap, sebotol minyak ikan, dan sebuah lentera kecil yang dibuat khusus oleh para pendeta, lentera tanpa kaca dengan sumbu yang tidak pernah habis. Itulah wadah bagi Pelita Pertama, kata mereka. Tetapi sumbunya tidak boleh dinyalakan sampai tiba di tempat tujuan. Rawuh membungkusnya dengan kain dan menyimpannya di dada, dekat jantung.

Dyah Laksmi mengenakan mantel bulu yang sudah usang dan topi rajutan yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Dalam penyamaran itu, ia tampak seperti anak muda biasa dari desa miskin, dan Rawuh harus mengingatkan dirinya berkali-kali bahwa gadis yang bersin-bersin di sampingnya adalah pewaris tahta Kalagiri.

Dataran beku menyambut mereka dengan angin yang menggigit tulang. Tidak ada apa pun di sana kecuali putih yang tidak berujung, ditaburi pohon-pohon mati yang mencuat seperti tulang jari raksasa. Langit di atas mereka hitam pekat tanpa bintang, dan satu-satunya cahaya datang dari lentera kecil di tangan Dyah Laksmi, yang berisi batu bercahaya pinjaman dari istana.

Pada malam pertama, mereka mendengar lolongan serigala di kejauhan. Dyah Laksmi menggenggam belatinya dengan tangan yang gemetar, sementara Rawuh menyalakan api kecil dari batu bercahaya dan menggantungkan lentera di atas tongkat yang ditancapkan ke salju. Serigala-serigala itu tidak pernah mendekat, hanya mengelilingi dari jauh dengan mata yang berkilat hijau di kegelapan, seolah ragu menghadapi sesuatu yang tidak mereka mengerti. Menjelang fajar buatan, mereka menghilang satu per satu, dan Dyah Laksmi baru berani menarik napas lega.

“Ceritakan sesuatu,” kata sang putri pada hari ketiga, ketika kaki mereka sudah mati rasa dan percakapan hampir habis. “Apa saja. Aku ingin mendengar suara selain angin.”

Mereka berjalan dalam diam beberapa lama, kemudian Dyah Laksmi mulai bercerita lebih dulu, seolah untuk membayar hutang. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang dihabiskan di ruang belajar yang dingin, tentang guru-guru yang mengajarinya hukum dan sejarah tetapi tidak pernah tertawa, tentang ibunya yang selalu sibuk dan ayahnya yang sudah lama tiada. “Aku punya semua yang bisa dibeli,” katanya, “tetapi aku tidak pernah punya seseorang yang sekadar mau mendengarkan.” Rawuh mendengar semuanya tanpa menyela, dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa putri ini sama kesepiannya dengan dirinya, hanya dengan kain yang lebih mahal.

Rawuh berpikir sejenak. “Ibuku dulu mengajarkan satu lagu tentang matahari. Ia bilang ia mempelajarinya dari neneknya, yang pernah melihat matahari sungguhan.”

“Nyanyikan.”

“Saya tidak pandai bernyanyi, Tuan Putri.”

“Aku tidak peduli.”

Maka Rawuh bernyanyi, dengan suara sumbang yang terombang-ambing oleh angin, tentang burung yang terbang menuju timur, tentang embun yang menggantung di ujung daun, tentang kehangatan di punggung tangan ketika pagi pertama datang. Dyah Laksmi berjalan di sampingnya tanpa berkata apa-apa, dan ketika lagu itu selesai, ia menyeka sesuatu dari pipinya dengan punggung tangan yang bersarung.

“Itu indah,” katanya serak. “Dan sedih.”

“Ibu saya bilang semua lagu tentang sesuatu yang sudah hilang memang seperti itu.”

“Ia perempuan yang bijak.”

“Ia hanya seorang penjahit.” Rawuh tersenyum kecil. “Tetapi kadang-kadang itu sama saja.”

Pada hari kelima, badai salju menyerang mereka. Angin mengamuk dari segala arah, memutihkan dunia dalam sekejap, dan mereka hanya sempat berlindung di balik batu besar yang sebagian terkubur. Mereka duduk berdempetan di bawah satu selimut tebal, tubuh saling menempel untuk menjaga panas yang tersisa. Tidak ada yang berbicara selama berjam-jam, hanya napas yang membentuk kabut tipis di antara mereka.

“Rawuh,” bisik Dyah Laksmi di tengah malam, ketika yakin bahwa pelayan itu sudah tertidur.

“Hm?”

“Jika kita gagal…”

“Kita tidak akan gagal.”

“Tetapi jika gagal.” Suaranya hampir tidak terdengar. “Aku ingin kau tahu bahwa perjalanan ini adalah hal paling hidup yang pernah kualami. Aku menghabiskan seluruh hidupku di balik dinding istana, belajar bagaimana menjadi ratu. Dan ternyata aku baru menjadi manusia ketika aku kedinginan di tengah dataran beku bersama seorang pelayan yang menyanyi dengan suara sumbang.”

Rawuh tidak menjawab. Ia hanya membenarkan selimut agar menutupi bahu sang putri lebih rapat, dan menggenggam tangannya di bawah kain yang tebal. Tangan itu kecil dan dingin, tetapi menggenggam balik dengan kekuatan yang mengejutkan.

Di luar batu pelindung, badai terus menderu. Tetapi untuk pertama kalinya sejak keluar dari istana, Rawuh tidak lagi merasa dingin.

Bab 4: Penjaga di Tengah Gelap

Hutan mati menyambut mereka pada hari ketujuh.

Mereka berjalan hati-hati di antara pohon-pohon itu, setiap langkah menimbulkan gema yang aneh. Dyah Laksmi menyentuh batang salah satunya dan menarik tangannya cepat-cepat, karena permukaannya begitu dingin hingga membakar kulit. “Dulu hutan ini penuh burung,” katanya lirih. “Ibuku pernah menunjukkan lukisan pohon-pohon ini di musim semi. Daun-daunnya hijau muda, seperti kaca tipis yang diterangi cahaya.” Rawuh mencoba membayangkannya, tetapi hanya bisa melihat kegelapan yang membeku.

Pohon-pohon di sana pernah menjulang gagah sebelum matahari padam, sekarang berdiri membeku seperti patung hitam, dengan dahan-dahan yang ditutupi es seperti kaca. Tidak ada daun, tidak ada burung, tidak ada suara. Hanya derak es di bawah sepatu mereka yang terdengar sepanjang jalan.

Mereka menemukan seorang lelaki tua yang duduk di bawah pohon besar di tengah hutan, dengan tongkat di pangkuannya dan lentera kecil yang menyala pucat di sampingnya.

Rawuh menarik putri mahkota ke belakang punggungnya sebelum ia menyadari bahwa itu adalah naluri yang aneh bagi seorang pelayan terhadap bangsawan. Lelaki itu mengangkat kepala perlahan, dan wajahnya yang berkerut seperti kulit kayu tersenyum tanpa gigi.

Ia mengenakan mantel bulu tebal yang sudah compang-camping, dan di tangannya, selain tongkat, tergenggam sebuah buku catatan kecil yang halamannya penuh coretan. Rawuh menduga ia sudah menuliskan setiap pengelana yang pernah lewat, setiap kegagalan yang ia saksikan. Namun ketika lelaki itu menatap mereka, tidak ada kepahitan dalam tatapannya, hanya kelelahan panjang dan kelembutan yang aneh, seperti kakek yang menyambut cucu-cucunya setelah musim yang panjang.

“Akhirnya,” katanya dengan suara parau. “Sudah dua puluh tahun aku menunggu seseorang melewati hutan ini.”

“Siapa Bapak?” tanya Rawuh waspada.

“Aku penjaga jalan menuju Kalamurti. Namaku tidak penting. Aku sudah lama melupakannya.” Ia meraih tongkatnya dan berdiri dengan susah payah. “Kalian membawa Pelita Pertama, bukan? Aku bisa merasakannya dari sini. Hangat, seperti bara kecil di tengah badai.”

Dyah Laksmi melangkah maju. “Kau tahu tentang pelita itu?”

“Aku adalah salah satu dari mereka yang gagal.” Lelaki tua itu tertawa kecil, getir. “Dulu aku seorang jenderal, tiga puluh tahun yang lalu, ketika matahari baru mulai meredup. Aku datang ke sini membawa seribu prajurit dan sebuah tekad untuk menyelamatkan kerajaanku. Dan aku mempelajari kebenaran yang pahit: matahari tidak peduli pada niat besar. Ia hanya mendengarkan hati yang tidak mengharapkan imbalan.”

“Apa yang terjadi pada pasukanmu?” tanya Rawuh.

“Mereka semua mati, Nak. Bukan oleh musuh. Oleh dingin yang diundang oleh keserakahanku.” Ia menatap lentera di sisinya. “Sejak itu aku menjaga jalan ini, menyalakan lentera kecil agar para pengelana yang tersesat tidak mati sendirian. Itulah satu-satunya hal yang pernah kulakukan tanpa mengharapkan apa-apa.”

Rawuh menatap lentera pucat itu, dan sebuah kesadaran menusuknya begitu tiba-tiba hingga ia hampir tersandung. “Bapak… bukankah itu yang dicari? Seseorang yang menyalakan lampu hanya karena ingin orang lain melihat?”

Lelaki tua itu tersenyum, dan matanya yang keruh tampak basah. “Aku sudah mencoba menyalakannya di hadapan wadah itu, bertahun-tahun yang lalu. Tidak berhasil. Karena di balik niat baikku, masih ada satu keinginan kecil: aku ingin dikenang. Aku ingin ada yang mengatakan bahwa Jenderal ini akhirnya menyelamatkan dunia.” Ia menggeleng pelan. “Hati manusia itu licik, Nak. Ia bisa menyembunyikan keinginan di balik kebaikan bahkan dari pemiliknya sendiri.”

Ia menyerahkan tongkatnya pada Rawuh, tongkat tua dengan ukiran matahari di ujungnya. “Bawalah ini. Ia akan menunjukkan jalan di tempat yang paling gelap. Dan ingat satu hal: ketika sampai di hadapan wadah itu, kau tidak boleh meminta apa pun. Bahkan bukan kesempatan untuk berhasil.”

“Bagaimana mungkin?” Rawuh menatapnya bingung. “Bukankah semua orang menginginkan sesuatu?”

“Karena itulah pekerjaannya sangat sulit.” Lelaki tua itu tersenyum. “Tetapi kau bukan pembawa pelita yang biasa. Kau pelayan. Seumur hidupmu kau menyalakan lampu untuk orang lain tanpa pernah berpikir untuk diri sendiri. Itu bukan bakat. Itu kebiasaan. Dan kebiasaan, ketika cukup lama dijalani, menjadi jiwa.”

Dyah Laksmi menggenggam tangan Rawuh erat. “Kita akan sampai.”

Lelaki tua itu membekali mereka dengan sepotong roti keras dan secangkir teh jahe yang masih hangat dari lenteranya. Rasanya sederhana, tetapi bagi Rawuh dan Dyah Laksmi yang sudah berhari-hari hanya makan jamur kering, itu terasa seperti jamuan istana. “Habiskan,” katanya sambil tersenyum. “Aku sudah menyimpannya untuk tamu yang pantas. Dan aku rasa aku baru saja menemukannya.”

Ketika mereka meninggalkan hutan itu, Rawuh menoleh sekali ke belakang. Lelaki tua itu sudah kembali duduk di bawah pohon besar, dengan lentera kecilnya yang pucat, menunggu pengelana berikutnya yang mungkin tidak akan pernah datang.

Bab 5: Gunung Kalamurti

Puncak Kalamurti menjulang seperti taring hitam yang menembus langit tanpa bintang.

Dari kaki gunung, mereka sudah bisa merasakan sesuatu yang aneh di udara: getar halus yang merambat melalui es, seperti denyut jantung raksasa yang sangat pelan. Dyah Laksmi menempelkan telapak tangannya ke permukaan batu dan menutup mata. “Ia ada di sana,” bisiknya. “Aku bisa merasakannya. Ia masih hidup.” Rawuh tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mengeratkan genggaman pada tongkat dan mulai mendaki.

Pendakian terakhir memakan waktu dua hari penuh, melewati tebing es yang licin dan celah-celah yang dalam. Tongkat dari lelaki tua itu ternyata bukan sekadar hiasan. Setiap kali Rawuh menancapkannya ke tanah, ujungnya berpendar kuning samar, memperlihatkan pijakan yang aman di tengah gelap. Tetapi semakin tinggi mereka mendaki, semakin berat udara, dan semakin sulit bagi Dyah Laksmi untuk bernapas.

Pada ketinggian terakhir, ia terjatuh.

Malam itu mereka berlindung di sebuah gua sempit di dinding gunung. Rawuh menggosok-gosok tangan dan kaki sang putri dengan minyak ikan untuk mengembalikan peredaran darahnya, sementara Dyah Laksmi, yang menggigil hebat, hanya bisa menatap langit-langit gua dengan senyum lemah. “Kau tahu,” katanya dengan suara serak, “aku selalu mengira orang yang kuat adalah mereka yang tidak pernah goyah. Ternyata aku salah. Orang yang kuat adalah yang tetap menggenggam tangan orang lain ketika dirinya sendiri hampir jatuh.” Rawuh tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menyelimutinya lebih rapat dan duduk berjaga sampai pagi.

Rawuh menangkapnya tepat sebelum tubuhnya meluncur ke jurang. Wajah sang putri pucat sekali, bibirnya membiru, dan napasnya pendek-pendek seperti burung yang terluka. “Aku tidak apa-apa,” katanya terengah, meski jelas ia berbohong. “Teruskan saja. Aku akan menyusul.”

“Tidak ada yang menyusul.” Rawuh mengangkatnya ke punggungnya dengan susah payah. “Kita naik bersama atau tidak sama sekali.”

“Rawuh, bodoh, kau juga hampir tidak kuat…”

“Saya memang bodoh.” Ia mendengus, napasnya mengepul di udara beku. “Tetapi saya cukup bodoh untuk tidak pernah meninggalkan seseorang di tengah gelap.”

Mereka tiba di puncak pada tengah malam yang abadi. Di sana, di tengah dataran kecil yang diselimuti kabut, berdiri sebuah altar batu bundar, dan di atasnya bertengger wadah kuno yang sudah retak. Bentuknya seperti telur raksasa dari kaca hitam, berdenyut samar dengan napas yang sangat pelan. Di sekelilingnya, mengelilingi altar seperti pagar, tergeletak ratusan kerangka manusia dengan pakaian dan zirah dari segala zaman. Mereka semua yang pernah mencoba dan gagal.

Dyah Laksmi, yang bersandar di bahu Rawuh, menatap kerangka-kerangka itu dengan mata berkaca. “Mereka semua datang dengan harapan yang sama.”

Rawuh melangkah di antara kerangka-kerangka itu dengan hormat, menghindari menginjak satu pun. Di antara mereka ada yang masih menggenggam pedang, ada yang memeluk lentera, ada yang meringkuk seperti anak kecil yang kedinginan. Satu kerangka kecil, hampir seukuran anak sepuluh tahun, masih mengenakan syal rajutan berwarna merah yang sudah memudar. Rawuh berhenti sejenak di sana, menundukkan kepala, dan membisikkan doa yang diajarkan ibunya untuk orang-orang yang pergi tanpa sempat pulang.

“Dan mati dengan kesadaran yang sama,” bisik Rawuh.

Ia melangkah maju sendirian, meninggalkan sang putri di tepi altar. Setiap langkah terasa seperti menyeret kaki melewati lumpur. Ia mengeluarkan lentera kecil dari balik mantelnya, membuka kainnya, dan meletakkannya di atas altar di depan wadah hitam itu.

Lalu ia berhenti, karena menyadari sesuatu yang membuat dadanya mencelos.

Ia tidak tahu bagaimana cara menyalakannya.

Ia tidak membawa batu api. Tidak ada korek, tidak ada bara. Para pendeta hanya mengatakan bahwa Pelita Pertama menyala dari tangan seseorang yang tidak punya kepentingan, tetapi tidak seorang pun menjelaskan caranya. Ia berdiri di sana, tangan gemetar, dengan seluruh dunia menunggu di belakang punggungnya, dan merasakan panik yang dingin merayap dari perutnya.

“Aku ingin menyelamatkan mereka,” bisiknya tanpa sadar. “Aku ingin Dyah selamat. Aku ingin dunia ini terang lagi.”

Tidak ada yang terjadi. Lentera itu tetap dingin dan gelap.

Ia memejamkan mata, dan tiba-tiba, ia mengerti. Setiap kalimat yang baru saja ia ucapkan adalah keinginan. Sekalipun mulia, sekalipun penuh kasih, itu tetap permintaan. Dan matahari tidak bisa dibangunkan oleh siapa pun yang datang meminta.

Ia membuka mata dan menatap wadah hitam itu dengan sesuatu yang lebih lembut dari keputusasaan. Ia teringat koridor timur yang gelap. Ia teringat para pelayan yang tersandung, dan tangan-tangannya sendiri yang menyalakan sumbu demi sumbu setiap malam tanpa pernah berharap ada yang menyadari. Bukan karena ia ingin menjadi pahlawan. Hanya karena ia tidak sanggup membayangkan ada orang yang berjalan dalam gelap tanpa alasan.

Dan tanpa permintaan, tanpa harapan, ia menyentuh sumbu lentera dengan ujung jarinya, dan berbisik pelan, bukan pada matahari, bukan pada dunia, tetapi pada ruangan kosong di hadapannya:

“Terang untukmu. Siapa pun kau.”

Bab 6: Fajar Pertama

Awalnya hanya sebutir cahaya.

Ia teringat ibunya sekali lagi. Ia membayangkan perempuan itu berdiri di sampingnya, jari-jarinya yang kasar karena jarum menyentuh bahunya, dan untuk sesaat ia hampir bisa mendengar suaranya yang berkata bahwa semua lagu tentang sesuatu yang hilang pada akhirnya selalu berakhir dengan seseorang yang menemukannya kembali. Air matanya jatuh tanpa suara, menetes ke altar batu dan menguap dalam hangat cahaya yang baru lahir.

Ia muncul di ujung sumbu, sebesar biji padi, berwarna kuning pucat. Cahaya itu tidak bergoyang oleh angin. Ia tidak menghangatkan jari Rawuh. Ia hanya ada, kecil dan sabar, seperti sesuatu yang telah menunggu seribu tahun untuk dipanggil oleh orang yang tepat.

Lalu cahaya itu bertumbuh. Pelan, begitu pelan, seperti fajar yang tidak ingin mengejutkan. Ia merambat dari sumbu ke badan lentera, dari lentera ke altar batu, dari altar ke tanah di sekelilingnya. Kerangka-kerangka yang bergelimpangan bergetar halus dalam sinarnya, dan satu per satu, tubuh-tubuh tua itu runtuh menjadi serbuk keemasan yang melayang naik ke udara, seolah akhirnya diizinkan pulang.

Dyah Laksmi menahan napas. Ia menyaksikan wadah hitam di atas altar retak dengan suara seperti kaca yang ditiup lembut, dan dari celahnya mengalir sinar yang lebih terang dari apa pun yang pernah ia saksikan. Ia menutup mata dengan lengannya, tetapi cahaya itu bukan menyakitkan. Ia hangat, sehangat pelukan yang lama dirindukan.

Suara pertama yang terdengar adalah helaan napas panjang, seperti seseorang yang bangun dari tidur yang sangat lama.

Siapa yang menyalakan cahaya tanpa meminta?

Suara itu tidak datang dari satu arah. Ia datang dari segalanya, dari udara, dari batu, dari dada Rawuh sendiri. Pelayan itu jatuh berlutut, tangannya masih terulur ke arah lentera.

“Saya hanya pelayan,” jawabnya terbata-bata. “Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan.”

Kau memberikan yang paling langka. Kau memberikannya tanpa menghitung.

Cahaya itu mengembang dengan cepat sekarang, membanjiri puncak gunung dan meluncur turun ke lembah-lembah di bawahnya. Dari ketinggian Kalamurti, Rawuh dan Dyah Laksmi menyaksikan dataran beku yang tadinya hitam berubah menjadi hamparan perak yang berkilau. Hutan mati menggeliat. Es di dahan-dahan mencair menjadi tetesan yang jatuh seperti hujan permata. Dan di kejauhan, jauh di balik cakrawala, muncul garis tipis berwarna jingga yang merekah perlahan di langit.

Matahari terbit.

Rawuh belum pernah melihat matahari seumur hidupnya. Ia tidak siap pada betapa besarnya, betapa indahnya, dan betapa menyakitkannya ia di mata. Ia tertawa dan menangis sekaligus, menutup wajah dengan kedua tangan, sementara hangat yang tidak pernah ia kenal menyentuh punggung tangannya, persis seperti yang selalu dinyanyikan ibunya.

Dyah Laksmi berlutut di sampingnya, dan tanpa berkata apa-apa, ia memeluk Rawuh erat-erat. Mereka berdua menangis tanpa malu di tepi altar batu itu, di bawah langit yang akhirnya kembali menjadi biru.

Ketika mereka akhirnya turun gunung, mereka tidak lagi kedinginan. Hutan mati di kaki Kalamurti sudah menumbuhkan tunas-tunas hijau. Burung-burung kecil, yang entah bersembunyi di mana selama enam belas tahun, terbang berputar-putar di atas kepala mereka sambil bernyanyi dengan suara yang sumbang dan gembira. Dan di bawah pohon besar di tengah hutan, tempat lelaki tua itu pernah duduk, mereka hanya menemukan sebuah lentera kecil yang masih menyala, dan senyum samar yang seolah masih tergantung di udara.

Mereka tiba di Kalagiri tujuh hari kemudian dan disambut oleh lautan manusia yang berlutut di jalanan, menangis, tertawa, dan memeluk anak-anak yang belum pernah melihat bayangan mereka sendiri. Sang Ratu Ratih Kencana, yang sudah terlalu lemah untuk berdiri, dibawa keluar ke balkon istana dan menatap matahari dengan air mata mengalir di wajah tuanya.

Dunia berubah dengan cepat setelah itu, tetapi tidak lebih cepat dari hati yang berubah di antara dua orang yang telah berjalan bersama melintasi malam. Tidak ada upacara yang diumumkan, tidak ada gelar yang diberikan. Rawuh menolak semua tawaran hadiah, dan Dyah Laksmi, setelah naik tahta pada musim semi berikutnya, tidak pernah memaksanya.

Para petani yang sudah tidak pernah menanam selama enam belas tahun kembali membajak tanah yang masih lembap oleh es yang mencair. Pasar-pasar dipenuhi suara tawar-menawar yang riuh, dan untuk pertama kalinya, para pedagang tidak berbisik ketika menyebut harga. Anak-anak dilarang bermain di bawah sinar matahari terlalu lama oleh ibu-ibu mereka yang panik, tetapi mereka berlarian juga, menjerit kegirangan melihat bayangan mereka sendiri memanjang di jalan berbatu. Seorang lelaki tua berlutut di tengah alun-alun dan membenamkan tangannya ke tanah, tertawa seperti anak kecil karena merasakan hangat di bawah telapaknya.

Namun setiap pagi, tanpa pernah dijadwalkan, mereka bertemu di balkon timur istana, tempat Rawuh dulu menyalakan lampu bagi orang-orang yang tersandung. Mereka duduk berdampingan menyaksikan fajar, ratu dan pelayan, tangan saling menggenggam, tanpa perlu bicara.

Pada pagi pertama di bulan keempat musim semi, Rawuh akhirnya memenuhi janji yang tertinggal. Ia pergi ke pemakaman kota, ke makam sederhana di sudut yang jarang dikunjungi, dan duduk di sana sepanjang pagi dengan wajah menghadap timur. Ia menceritakan semuanya pada nisan kecil itu: bagaimana rasanya cahaya pertama menyentuh kulit, bagaimana langit tampak seperti kain biru yang tidak berujung, bagaimana ia akhirnya mengerti mengapa lagu ibunya selalu terdengar sedih sekaligus penuh harapan. Dan ketika ia selesai, angin hangat berembus lembut, menggoyang rumput di atas makam itu, seperti jawaban yang tidak butuh kata.

Orang-orang Kalagiri yang lewat sering melihat mereka dan berbisik, bahwa matahari yang kembali bukan sekadar anugerah dari langit. Ia hadir karena seseorang bersedia menyalakan cahaya tanpa pernah meminta untuk dilihat.

Dan itu, kata mereka, adalah harapan terakhir yang paling cukup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *