Novel petualangan ini akan memberimu pengalaman menarik, ditulis oleh penulis terbaik web novel online gratis. selamat menikmati.
Bab 1: Pewaris Api dari Gunung Brahma
Di puncak Gunung Brahma, tempat awan berhenti berarak karena takut pada panasnya, berdiri sebuah benteng batu hitam yang tidak pernah mengenal musim dingin. Di sanalah keluarga Agniwangsa memelihara Api Purba, nyala pertama yang pernah menyala di dunia, yang konon dinyalakan sendiri oleh dewa untuk menghangatkan manusia pertama. Selama tujuh puluh tujuh generasi, api itu tidak pernah padam, dan selama tujuh puluh tujuh generasi pula, keluarga itu membayarnya dengan sesuatu yang tidak pernah mereka bicarakan.
Bhaskara, anak sulung penguasa Agniwangsa, belajar harga itu ketika ia berusia enam tahun.
Ia ingat betul hari itu. Ibunya sedang membungkuk di dekat tungku, menyuapinya bubur hangat, dan ia ingin sekali memeluknya. Ia mengulurkan tangan kecilnya, dan ketika jemarinya menyentuh pipi sang ibu, terdengar desis pelan, bau kulit hangus, dan jeritan yang masih menggema di dalam kepalanya dua puluh tahun kemudian. Tangannya tidak terluka sedikit pun. Tetapi bekas telapak tangan kecil tercetak merah di wajah ibunya selamanya.
Sejak hari itu, Bhaskara belajar menjaga jarak.
Api Purba tidak tinggal di tungku batu di aula utama seperti yang dikira para pengunjung. Ia tinggal di dalam darah para pewarisnya, menyala di bawah kulit, menunggu saat untuk melompat keluar. Ayahnya mengajarinya mengendalikannya: bernapas dalam-dalam, menghitung sampai seratus, membayangkan sungai es setiap kali amarah mulai mendidih. Ia menjadi pandai mengatur diri. Ia menjadi pemuda yang tenang, dingin di luar, tidak pernah tertawa terlalu keras dan tidak pernah menangis di depan siapa pun. Para pelayan menjulukinya Pangeran Batu, tanpa tahu bahwa ia hanya takut menyakiti siapa pun yang terlalu dekat.
Ada satu tempat di benteng yang selalu ia datangi pada malam hari: menara timur yang paling tinggi dan paling dingin, tempat angin gunung berembus tanpa penghalang. Di sana ia duduk berjam-jam menatap lembah yang jauh, tempat lampu-lampu desa berkelip seperti bintang yang jatuh. Ia sering bertanya-tanya bagaimana rasanya dipeluk tanpa rasa takut, bagaimana rasanya membiarkan seseorang bersandar di bahunya tanpa harus menghitung sampai seratus. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah ia ucapkan pada siapa pun, karena ia tahu tidak ada jawaban yang bisa diberikan orang lain.
Pada tahun kedua puluh enam usianya, ayahnya jatuh sakit.
Penyakit itu tidak datang dari luar. Api Purba, yang telah menghangatkan tubuh pria itu selama enam puluh tahun, mulai memakannya dari dalam. Kulitnya menjadi pucat seperti abu, matanya redup, dan setiap malam ia terbatuk dengan percikan merah di bibir. Para tabib hanya menggeleng. “Api memilih waktunya sendiri,” kata mereka. “Tidak ada obat untuk sesuatu yang tidak bisa dipadamkan.”
Pada malam terakhirnya, sang ayah memanggil Bhaskara ke kamarnya. Ruangan itu gelap kecuali nyala kecil di sudut ranjang, dan udara terasa kering seperti padang pasir. Ia terbaring dengan tangan yang gemetar, memegang sebuah gulungan kulit kayu tua yang disegel dengan lilin merah.
“Kau akan menjadi penjaga api berikutnya,” katanya parau. “Dan kau akan menerima sesuatu yang tidak pernah kuberitahukan padamu.”
“Ayah, jangan memaksakan diri.”
“Dengarkan.” Tangan tua itu menggenggam pergelangan Bhaskara dengan kekuatan yang mengejutkan. Kulitnya terasa panas dan dingin sekaligus. “Pada awal dunia, leluhur kita membuat sumpah dengan keluarga Sekar Jagad, para penjaga bunga. Api tanpa bunga akan membakar segalanya. Bunga tanpa api akan membeku dalam musim dingin yang tidak berakhir. Maka sumpah itu menyatukan keduanya: setiap tiga generasi, pewaris api harus menikahi putri bunga.”
Bhaskara menatapnya, tidak mengerti. “Menikahi?”
“Putri Nawangsari, putri bungsu raja Sekar Jagad. Kalian sudah dijodohkan sejak ia lahir.” Ia terbatuk, dan cipratan merah jatuh ke seprai putih, meninggalkan lubang hangus kecil. “Aku tahu apa yang kau takutkan. Aku juga pernah takut. Tetapi sumpah itu bukan hanya kewajiban, Nak. Ia adalah satu-satunya cara agar api tidak membunuh kita.”
“Bagaimana mungkin aku menikahi seseorang yang akan terbakar jika kusentuh?”
Ayahnya tersenyum, sangat tipis. “Jawabannya ada di dalam gulungan ini. Tetapi kau hanya boleh membukanya pada malam pernikahanmu, bukan sebelum itu.” Ia melepaskan genggamannya, dan tangannya jatuh lemas di atas selimut. “Bhaskara, dengarkan satu hal lagi. Aku tidak pernah memelukmu karena aku takut. Aku tidak ingin kau melakukan kesalahan yang sama.”
Malam itu ayahnya meninggal. Api di sudut kamar padam bersamaan dengan napas terakhirnya, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh puluh tujuh generasi, benteng Agniwangsa gelap total selama tiga detik. Lalu dari dada Bhaskara, dengan suara seperti jantung yang baru lahir, api itu menyala.
Ia berdiri di tengah ruangan yang gelap, memegang gulungan kulit kayu bersegel merah, merasakan kehangatan baru mengalir di bawah kulitnya, panas, tua, dan haus. Ia adalah penjaga api sekarang. Dan di dalam dadanya, ia bisa merasakan sesuatu yang lain, sebuah keinginan yang tidak pernah ia akui pada siapa pun.
Ia ingin menyentuh seseorang tanpa menyakitinya.
Esok paginya, dengan gulungan tersimpan di balik jubah dan mata yang menyala samar, Bhaskara berangkat ke selatan, menuju kerajaan Sekar Jagad, tempat seorang putri yang tidak pernah ia temui sedang menunggunya.
Bab 2: Putri yang Tak Boleh Disentuh
Kerajaan Sekar Jagad tidak seperti kerajaan mana pun yang pernah Bhaskara lihat.
Tidak ada tembok batu yang tinggi, tidak ada menara pengawas, tidak ada prajurit berzirah. Yang ada hanyalah hamparan taman tak berujung, dengan bunga-bunga dari segala warna yang menyelimuti lembah hingga ke kaki gunung. Istana di tengahnya terbuat dari kayu putih dan kaca, dikelilingi sulur-sulur yang hidup dan bergerak pelan seperti napas. Udara di sana harum, manis dan lembap, dan setiap langkah di atas rumput terasa seperti menginjak sesuatu yang hidup.
Ia berjalan dengan hati-hati, menjaga api di dadanya tetap rendah sampai hampir padam. Tetapi tetap saja, di setiap tempat yang ia lewati, bunga-bunga di tepi jalan menunduk dan kelopaknya menggulung, seperti makhluk kecil yang ketakutan.
“Mereka tidak membencimu,” kata sebuah suara dari balik semak mawar. “Mereka hanya belum terbiasa.”
Bhaskara berhenti. Dari balik dedaunan, muncul seorang gadis berambut cokelat tua yang dikepang longgar, dengan mahkota bunga liar yang miring di kepalanya dan tanah di ujung gaunnya. Ia membawa keranjang anyaman penuh benih, dan menatapnya dengan mata yang jernih dan tanpa takut sedikit pun.
“Kau pasti utusan dari Gunung Brahma,” katanya. “Aku Nawangsari. Dan aku tahu kau akan bertanya apakah aku putri raja atau tukang kebun. Jawabannya adalah keduanya.”
Bhaskara, yang sudah menyiapkan seribu kalimat sopan untuk pertemuan ini, tidak mampu mengucapkan satu pun. Ia hanya berdiri kaku, tangan terlipat rapat di belakang punggung, menahan panas yang tiba-tiba menyentak di dadanya.
Nawangsari memperhatikannya dengan alis terangkat. “Kau menahan api itu dengan sangat keras, ya? Aku bisa merasakannya dari sini. Seperti berdiri di depan tungku yang pintunya diganjal batu.”
“Aku tidak ingin menyakitimu.”
“Aku tahu.” Ia mengambil segenggam benih dari keranjangnya dan menaburkannya di tanah di antara mereka. “Tetapi kau tidak bisa terus menahannya seumur hidup. Itu seperti mencoba tidak bernapas.”
Percakapan pertama mereka berlangsung selama tiga jam di tengah taman, tanpa ada yang menyentuh yang lain. Bhaskara duduk di bangku batu, Nawangsari berlutut di tanah beberapa langkah darinya, tangannya sibuk menanam benih sambil bercerita. Ia bercerita tentang bunga-bunga yang berbicara pada waktu fajar, tentang lebah yang dilatih membawa pesan, tentang para tetua yang mengira ia terlalu banyak bermimpi. Ia tertawa dengan mudah dan mendengar dengan lebih mudah lagi. Dan di tengah semua itu, Bhaskara menyadari sesuatu yang membuat dadanya sakit: api di dalam tubuhnya, yang sepanjang hidupnya terasa seperti beban, untuk pertama kalinya terasa seperti sesuatu yang bisa dibagi.
Sore itu mereka juga berbagi makan malam sederhana di tepi danau, masing-masing di ujung tikar yang panjang. Nawangsari menyodorkan sepotong roti madu dengan menjulurkan lengan serenggang mungkin, dan Bhaskara menerimanya dengan ujung jari yang gemetar. Mereka tertawa gugup ketika remah roti itu hampir jatuh. Tidak ada yang berkata apa-apa tentang jarak di antara mereka, tetapi keduanya menyadari bahwa sesuatu yang kecil dan rapuh baru saja dimulai.
Namun tidak semua penghuni istana menyambut kedatangannya dengan senyum.
Penasihat kerajaan, seorang lelaki kurus berjubah hijau gelap bernama Gandamaya, menyambutnya di aula dengan keramahan yang terlalu sempurna. “Pewaris Api, kehormatan besar bagi kami,” katanya sambil membungkuk dalam-dalam, tetapi matanya yang sipit tidak pernah ikut tersenyum. “Aku harap perjalananmu menyenangkan. Kuharap api di dadamu juga tidak membuat para tanaman kami terlalu gelisah.”
“Aku akan berusaha menjaganya,” jawab Bhaskara tenang.
“Tentu. Tentu saja.” Gandamaya tersenyum lagi, dan Bhaskara merasa api di dadanya menggeliat tidak nyaman, seperti binatang yang mencium bahaya. “Dan aku harap kau menyadari bahwa pernikahan ini bukan sekadar urusan hati. Ada banyak pihak yang berkepentingan dengan keseimbangan dunia.”
Ucapan itu tidak terdengar seperti nasihat. Terdengar seperti peringatan.
Bhaskara memikirkan kata-kata itu sepanjang makan malam. Ia mengamati Gandamaya dari seberang meja, memperhatikan caranya mengaduk teh, caranya memandang Nawangsari dengan sorot mata yang tidak bisa ia tafsirkan. Ada sesuatu yang aneh dalam ketenangan lelaki itu, seperti permukaan danau yang terlalu rata sebelum badai. Tetapi ketika Nawangsari tertawa dan menariknya kembali ke percakapan, ia memutuskan untuk menyimpan kecurigaan itu untuk nanti.
Malam itu, ketika Bhaskara berbaring di kamar tamu dengan jendela yang terbuka ke arah taman, ia mendengar langkah kaki kecil di bawah. Nawangsari berdiri di antara bunga-bunga yang berpendar samar di bawah cahaya bulan, mengenakan gaun tidur putih, rambutnya tergerai bebas. Ia tidak mendongak. Ia hanya berbicara pelan, seolah pada angin.
“Aku tidak tahu apakah kita akan baik-baik saja, Bhaskara. Tetapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak takut padamu. Aku hanya takut pada apa yang harus kita bayar untuk sumpah ini.”
Bhaskara menggenggam gulungan kulit kayu di bawah bantalnya. Ia ingin menjawab, tetapi tidak ada kalimat yang cukup. Maka ia hanya menutup jendela dengan sangat lembut, dan membiarkan dirinya untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, tertidur tanpa mimpi tentang api.
Bab 3: Taman yang Tak Pernah Terbakar
Hari-hari berikutnya berlalu seperti musim semi yang tidak mau berhenti.
Nawangsari mengajak Bhaskara berkeliling taman setiap pagi, memperkenalkannya pada bunga-bunga satu per satu seolah mereka adalah sanak keluarga. Ada bunga kenanga yang tidak mau mekar jika dipuji terlalu banyak, melati yang hanya harum pada malam hari, dan anggrek bulan yang selalu merajuk bila tidak disapa. Bhaskara mendengarkan semuanya dengan kesungguhan yang membuat sang putri hampir tertawa, dan perlahan, ia mulai mengenali nama-nama itu.
Setiap sore, mereka duduk berjauhan di bawah pohon beringin besar di tengah taman, dua langkah memisahkan mereka. Itu jarak yang ditetapkan Nawangsari, setelah percobaan pertama yang berakhir dengan sehelai daun layu di telapak tangannya dan raut wajah Bhaskara yang pucat. “Kita mulai dari dua langkah,” katanya waktu itu. “Dan kita akan mengurangi jaraknya sedikit demi sedikit, selama api itu belajar untuk tidak ketakutan.”
Dan itulah yang mereka lakukan. Dua langkah menjadi satu setengah. Satu setengah menjadi satu. Setiap kali Bhaskara merasakan panas di dadanya naik, Nawangsari akan memintanya berhenti, menarik napas, dan memejamkan mata. Lalu ia bercerita tentang hal-hal yang menenangkan, tentang mata air di hutan, tentang bunga salju yang hanya mekar di musim paling dingin, tentang bagaimana akar-akar tanaman menggenggam bumi dengan sabar. Perlahan, api itu menurun. Tidak padam, hanya menghangat, seperti bara yang tidak lagi ingin melahap.
Para pelayan istana mulai membicarakan mereka dengan bisik-bisik hangat. Mereka melihat sang putri berlari-lari kecil di lorong sambil menggenggam benih, dan sang pewaris api berjalan di belakangnya dengan langkah yang semakin ringan. Mereka melihat Bhaskara tertawa untuk pertama kalinya pada hari ke dua belas, tawa yang kaku dan tidak terlatih seperti suara pintu tua yang lama tidak dibuka. Seorang dayang tua menyeka matanya diam-diam. “Sudah lama sekali taman ini tidak mendengar suara itu,” katanya pada rekan di sampingnya, “dan aku bahkan tidak tahu itu suara yang kurindukan.”
“Kau tahu apa yang kupikirkan?” kata Nawangsari suatu sore, sambil memetik helai rumput. “Mungkin api bukan musuh bunga. Mungkin mereka hanya tidak pernah diajari bagaimana berbicara satu sama lain.”
“Leluhur kita bertengkar sejak awal dunia.”
“Mungkin mereka tidak bertengkar. Mungkin mereka hanya sama-sama takut.” Ia menatap Bhaskara dengan tatapan yang membuat jantungnya berdetak dua kali. “Kau takut menyakitiku. Aku takut kau tidak akan pernah mengizinkan dirimu dekat denganku. Mungkin itu sebenarnya sama saja.”
Bhaskara memikirkan kalimat itu untuk waktu yang lama. Selama dua puluh enam tahun, ia diajari bahwa api adalah bahaya yang harus dijinakkan, bukan sahabat yang bisa diajak bicara. Ia teringat ayahnya yang tidak pernah memeluknya, ibunya yang menyembunyikan bekas luka di balik kerudung. Mungkin mereka semua hanya orang-orang ketakutan yang saling menjauh demi melindungi satu sama lain, dan dalam usaha melindungi itu, mereka kehilangan segala yang paling ingin mereka lindungi.
Pada hari kedua puluh tiga, ketika jarak mereka tinggal sejengkal, Nawangsari mengulurkan tangannya.
“Jangan,” bisik Bhaskara, tubuhnya menegang. “Belum.”
“Aku tidak akan menyentuhmu.” Telapak tangannya terbuka di udara, setengah inci dari kulit Bhaskara, mengambang di antara hawa panas dan harum bunga. “Aku hanya ingin merasakan. Katakan padaku apa yang kau rasakan.”
Bhaskara memejamkan mata. Napasnya melambat. Ia bisa merasakan kehangatan tangan Nawangsari, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sesuatu yang aneh dan baru, seperti air yang menyapa api tanpa memadamkannya. “Hangat,” bisiknya akhirnya. “Aku merasa hangat. Bukan panas. Hangat.”
Nawangsari tersenyum, dan di bawah matanya yang terpejam, setetes air mata jatuh. “Lihatlah tanganmu.”
Bhaskara membuka mata. Di telapak tangannya yang terbuka, tepat di bawah tangan sang putri yang melayang, tumbuh sehelai tunas hijau kecil dari udara kosong. Tunas itu mekar perlahan menjadi sekuntum bunga mungil berwarna jingga, dengan inti yang berpendar seperti bara. Bunga yang belum pernah ada sebelumnya, bunga api yang tidak membakar.
“Apa ini?” bisiknya.
“Aku tidak tahu,” jawab Nawangsari, tawa dan tangis bercampur di suaranya. “Tetapi sepertinya ia adalah jawaban.”
Mereka berdua menatap bunga kecil itu seperti dua anak yang menemukan sarang burung di semak. Tidak ada yang berani menyentuhnya, takut menghancurkan sesuatu yang begitu baru. Angin berembus pelan, dan bunga itu bergoyang tanpa layu, seolah menyetujui bahwa ia memang berhak ada.
Malam itu, Bhaskara tidak bisa tidur. Ia duduk di tepi jendela, memandangi bunga jingga di telapak tangannya, yang berpendar lembut dan tidak layu. Di bawah, di antara hamparan taman yang berkilau, ia melihat Nawangsari duduk di bangku batu, memandangi langit dengan senyum yang tidak ia sadari. Dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Bhaskara merasa api di dadanya bukan sebuah kutukan.
Namun di balik bayang-bayang pilar istana, seseorang memperhatikan mereka dengan mata yang dingin. Gandamaya menyaksikan bunga api itu berpendar, dan senyumnya, untuk pertama kalinya, tidak lagi sempurna.
“Mereka menemukannya terlalu cepat,” gumamnya pada kegelapan. “Aku harus bertindak sebelum pernikahan itu terjadi.”
Bab 4: Isi Gulungan Kulit Kayu
Pernikahan itu dijadwalkan pada bulan purnama ketiga.
Seluruh Sekar Jagad bersiap dengan kegembiraan yang tidak biasa. Jalan-jalan dihiasi untaian bunga, anak-anak berlarian membawa keranjang kelopak, dan para penenun bekerja siang malam menyelesaikan gaun pengantin dari sutra yang ditenun dengan benang embun. Nawangsari menjalani semuanya dengan gugup yang manis, sementara Bhaskara berjalan dari satu upacara ke upacara berikutnya dengan wajah yang masih sulit mempercayai nasibnya sendiri.
Pada malam sebelum pernikahan, Nawangsari menemukan Bhaskara di tepi danau, memandangi permukaan air yang memantulkan bulan setengah penuh. Ia duduk di sampingnya, menjaga jarak sejengkal yang kini menjadi jarak paling nyaman bagi mereka. “Kau takut?” tanyanya. “Pada pernikahan, atau pada aku?” “Pada kemungkinan bahwa aku terlalu bahagia,” jawab Bhaskara jujur. “Aku tidak pernah belajar bagaimana menjaga sesuatu yang kuinginkan.” Nawangsari menyandarkan kepala ke bahu yang tidak sepenuhnya menyentuh bahunya, hanya cukup dekat untuk merasakan hangatnya, dan mereka duduk dalam diam sampai bulan bergeser jauh ke barat.
Ia tidak sabar menunggu malam pernikahan, bukan karena hasrat, melainkan karena gulungan itu. Ia ingin tahu apa yang tersimpan di dalamnya, rahasia yang tidak berani diceritakan ayahnya di hari terakhir hidupnya.
Malam itu akhirnya tiba. Setelah upacara panjang di bawah pohon beringin, setelah tarian, nyanyian, dan jamuan yang tidak ada habisnya, Bhaskara dan Nawangsari akhirnya ditinggalkan sendirian di sebuah paviliun kecil di tepi danau. Lilin-lilin kecil berkedip di sekeliling mereka, dan harum bunga memenuhi ruangan seperti selimut yang lembut.
“Kau gugup?” tanya Nawangsari pelan, duduk di seberangnya dengan gaun putih yang berkilau seperti embun.
“Sangat.” Bhaskara tersenyum gugup, dan mengeluarkan gulungan kulit kayu dari balik jubahnya. “Ayahku bilang aku hanya boleh membukanya malam ini.”
Mereka membuka segel lilin merah bersama-sama, dan membaca isinya dengan kepala berdekatan. Tulisan di dalamnya kuno dan tidak rapi, tetapi mudah dimengerti.
Sumpah Api dan Bunga tidak akan terpenuhi dengan pernikahan semata. Pada malam penyatuan, Api harus menyerahkan dirinya menjadi Abu, agar Bunga dapat tumbuh darinya. Pewaris Api akan padam, dan dari abunya akan lahir musim semi yang baru. Demikianlah keseimbangan dijaga sejak awal dunia.
Keheningan jatuh di antara mereka, tebal dan menyesakkan. Nawangsari membaca baris itu sekali lagi, lalu sekali lagi, jemarinya gemetar di atas kulit kayu yang kasar.
Di luar paviliun, musik pesta masih terdengar samar, tawa para tamu dan denting cawan bercampur dengan nyanyian merdu. Dunia di luar tidak tahu bahwa di dalam ruangan kecil itu, dua orang sedang membaca vonis yang mengubah segalanya. Lilin-lilin berkedip, seolah ikut gelisah, dan di sudut ruangan, bunga api jingga milik Bhaskara berpendar redup seperti hati yang tiba-tiba ketakutan.
“Ini bohong,” bisiknya. “Pasti ada kesalahan.”
“Ayahku tahu,” kata Bhaskara pelan, hampir pada dirinya sendiri. “Itu sebabnya ia tidak pernah memelukku. Itu sebabnya ia memberitahuku di akhir hidupnya. Ia tidak ingin aku menolak.” Ia mengusap wajahnya, dan jemarinya meninggalkan jejak hitam hangus di pipinya. “Setiap pewaris api mati pada malam pernikahannya. Semua tujuh puluh tujuh generasi. Mereka tidak mati karena penyakit. Mereka mati demi sumpah.”
“Aku tidak akan membiarkanmu.”
“Nawang…”
“Tidak!” Suaranya pecah, dan seisi paviliun berderak seolah ikut mendengarkan. “Aku tidak akan menikah dengan seseorang yang dikorbankan demi musim semi yang tidak bisa kunikmati. Aku baru saja belajar bagaimana rasanya dekat denganmu.”
Namun sebelum Bhaskara sempat menjawab, jendela-jendela paviliun meledak ke dalam, dan udara dipenuhi bau asap.
Gandamaya berdiri di ambang pintu, jubah hijaunya berkibar, dan di tangannya terpegang sebuah botol kaca penuh cairan merah menyala. Matanya berkilat liar, seperti seseorang yang sudah memutuskan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali. “Maafkan aku, Putri,” katanya dengan senyum yang kini sepenuhnya terbuka. “Tetapi aku sudah menunggu terlalu lama. Seribu tahun keluargaku menjadi pelayan keluarga bunga, dan aku sudah lelah menyaksikan dunia dijaga oleh sumpah yang membunuh orang-orang tidak bersalah.”
“Jadi kau ingin menghentikannya dengan membunuh kami?” Bhaskara berdiri, api di dadanya mulai menggeliat.
“Bukan membunuh. Membebaskan.” Gandamaya mengangkat botol itu tinggi-tinggi. “Api Purba yang dilepas tanpa kendali akan membakar taman ini hingga habis. Dan ketika Sekar Jagad menjadi abu, sumpah itu akan terputus selamanya. Tidak akan ada lagi pewaris yang mati. Tidak akan ada lagi putri yang menunggu.”
“Kau akan membunuh ribuan orang!”
“Aku akan mengakhiri sebuah kebohongan.”
Bhaskara menyadari bahwa lelaki itu tidak sedang berbohong. Ada kebenaran yang pahit dalam matanya, kebenaran seseorang yang kehilangan terlalu banyak dan memilih menyalahkan seluruh dunia. Itu yang membuat Gandamaya jauh lebih berbahaya daripada musuh biasa: ia tidak membenci, ia hanya lelah, dan kelelahan yang tidak punya tempat untuk berlabuh selalu mencari sesuatu untuk dibakar.
Ia melemparkan botol itu ke lantai, dan cairan merah di dalamnya, tidak lain adalah darah sang ayah Bhaskara yang ia curi dari jasad, meledak menjadi lidah api yang menjilat tirai dan dinding kayu. Api Purba di dada Bhaskara menjerit menyambutnya, seperti anak yang mendengar suara ayahnya.
Bab 5: Api di Taman Sekar
Dalam hitungan detik, paviliun itu menjadi neraka.
Api merambat dari tirai ke dinding, dari dinding ke atap, lalu melompat ke pohon-pohon di sekitar danau dan melahap bunga-bunga yang tidak sempat melarikan diri. Jeritan penduduk terdengar dari kejauhan, tercampur dengan dentang lonceng peringatan dan gemuruh api yang tidak mengenal ampun. Langit malam berubah merah, dan danau memantulkan bayangan neraka itu seperti cermin yang ketakutan.
Di antara kekacauan itu, Bhaskara melihat para penduduk berlarian membawa ember-ember air dari danau, tangan mereka gemetar, wajah mereka pucat dan penuh jelaga. Seorang anak kecil menangis di pelukan ibunya, memegangi boneka yang sudah setengah hangus. Seorang lelaki tua mencoba menyelamatkan pot anggrek terakhir di beranda rumahnya sebelum atap runtuh. Pemandangan itu menusuk Bhaskara lebih dalam daripada api mana pun: semua yang ia lihat adalah akibat dari ketakutan yang diwariskan turun-temurun, dan ia adalah satu-satunya yang bisa menghentikannya.
Bhaskara berlari keluar dengan Nawangsari di sisinya. Api Purba di dalam dadanya mengamuk, ditarik oleh darah ayahnya yang membakar di luar, dan ia merasakan kendali yang ia pelajari selama dua puluh tahun, dan sebulan terakhir bersama Nawangsari, mulai retak seperti es di musim semi.
“Bhaskara!” Nawangsari menggenggam lengan bajunya, matanya dipenuhi asap dan ketakutan. “Dengarkan aku. Kau tidak boleh melawannya dengan menahan. Itu yang membuat api itu liar.”
“Aku tidak tahu cara lain!”
“Ada. Kau pernah melakukannya di taman itu. Kau hanya perlu mempercayainya.”
Ia memejamkan mata, dan dengan susah payah mengingat bagaimana rasanya duduk di bawah beringin, dengan telapak tangan terbuka dan bunga jingga mekar di atasnya. Api di dalam dirinya meraung, tetapi ia menarik napas dalam-dalam, dan membayangkan bukan sungai es, tetapi kehangatan yang menyambut. Ia membayangkan api bukan sebagai musuh yang dikendalikan, tetapi sebagai sahabat yang diajak berbicara.
Dan api itu mendengarkan.
Gelombang panas yang sebelumnya menggeliat liar mendadak tenang, mengalir keluar dari dadanya dalam arus lembut yang berpendar keemasan. Api itu tidak lagi melawan. Ia mengikuti kehendaknya, merambat melintasi tanah yang terbakar, dan bertemu dengan api liar Gandamaya di tengah taman. Dua nyala berbenturan, berputar, lalu perlahan, satu per satu, api liar itu padam, tertelan oleh kehangatan yang lebih tua dan lebih sabar.
Para penduduk yang menyaksikannya dari kejauhan membeku dengan ember di tangan. Mereka melihat sosok pria yang selama ini dikabarkan sebagai ancaman, berdiri di tengah lautan api dengan tangan terentang, dan api itu tidak membakarnya melainkan menari di sekelilingnya seperti anak-anak yang akhirnya menemukan rumah. Seseorang menjatuhkan embernya. Seseorang lain berbisik, nyaris tak terdengar, “Dia memelihara api itu, bukan memerintahnya.” Bisikan itu menjalar dari mulut ke mulut seperti angin musim semi.
Gandamaya menjerit. Di tengah taman yang hangus, di hadapan sisa-sisa bunga yang masih berasap, ia jatuh berlutut. Wajahnya tidak lagi sinis, hanya lelah dan hancur, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa musuhnya sepanjang hidup hanyalah bayangan.
“Kau tidak mengerti,” katanya terbata-bata. “Kau tidak tahu betapa banyak yang telah kuhilang. Ayahku, kakekku, semua mati karena sumpah ini.”
“Aku mengerti,” kata Bhaskara pelan. “Ayahku juga.”
Gandamaya mengangkat wajahnya, dan untuk sesaat, dua lelaki yang kehilangan ayah mereka karena sumpah yang sama saling berpandangan tanpa kebencian. Tidak ada yang bisa menghapus apa yang sudah terjadi, tetapi dalam keheningan di antara dua tatapan itu, ada sesuatu yang lebih tua daripada permusuhan: pengakuan bahwa mereka berdua adalah korban dari kisah yang sama, hanya memilih jalan yang berbeda untuk menanggung lukanya.
Namun api yang ia lepaskan telah menuntut harga. Tubuhnya gemetar, dan kulitnya mulai retak seperti tanah kering, memperlihatkan cahaya emas di baliknya. Napasnya pendek, dan kakinya hampir tidak mampu menahan berat badannya. Ia sudah memberikan terlalu banyak.
Nawangsari menangkapnya sebelum ia jatuh. Tangannya, yang dulu layu ketika menyentuh kulitnya, kini menggenggam bahunya dengan hangat dan utuh. Tidak ada yang terbakar. Tidak ada yang layu.
Ia memeluk Bhaskara erat-erat, seolah takut tubuh itu akan menguap seperti embun jika ia melonggarkan genggamannya. Di sekeliling mereka, taman yang hangus mulai mengepulkan asap tipis yang berbau tanah basah, seperti bumi yang menarik napas panjang setelah mimpi buruk. Dan dari kejauhan, terdengar suara pertama burung fajar, kecil dan ragu-ragu, seolah bertanya apakah sudah aman untuk bernyanyi lagi.
“Lihat,” bisiknya sambil menangis. “Tidak terbakar.”
“Tidak,” Bhaskara tersenyum lemah. “Karena sebagian dari diriku sudah menjadi abu.”
Dan ia mengerti, seperti dalam sekejap yang lama, isi sebenarnya dari sumpah itu. Para pewaris api sebelumnya tidak mati karena kutukan. Mereka mati karena mereka menyerah pada ketakutan, memilih untuk menjadi abu dengan terpaksa, alih-alih memilihnya dengan cinta.
“Nawang,” katanya lirih, “apakah kau percaya padaku?”
Perempuan itu menggenggam wajahnya dengan kedua tangan, air matanya menetes di bibir yang pecah. “Selalu.”
Bab 6: Abu yang Menyuburkan
Fajar menyingsing di atas Sekar Jagad, pucat dan tenang, menyinari taman yang hangus dan bunga-bunga yang berasap.
Bhaskara berbaring di atas tanah hitam di tengah taman, kepalanya di pangkuan Nawangsari. Tubuhnya hampir transparan, seperti kaca tipis yang menyimpan cahaya dari dalam, dan dari retakan-retakan di kulitnya, serpihan abu halus beterbangan terbawa angin pagi. Ia tidak lagi merasa sakit. Ia merasa ringan, seperti seseorang yang akhirnya diizinkan meletakkan beban yang dibawanya sepanjang hidup.
“Jangan pergi,” bisik Nawangsari, tangannya menggenggam tangan Bhaskara yang mulai pudar. “Kau sudah memadamkan api itu. Sumpahnya sudah terpenuhi. Tidak ada alasan lagi bagimu untuk pergi.”
“Bukan aku yang pergi.” Suaranya nyaris tidak terdengar. “Api itu yang pergi. Dan aku hanya orang yang kebetulan membawanya.” Ia tersenyum, dan matanya yang kini berwarna cokelat biasa, tidak lagi menyala, memandangi wajah sang istri dengan keheranan yang polos. “Nawang, kau tahu? Untuk pertama kalinya aku tidak merasa panas.”
“Bhaskara…”
“Aku merasa seperti manusia.”
Ia menutup mata. Dan dari dalam dadanya, terakhir kalinya, api purba itu keluar, bukan sebagai nyala yang ganas, melainkan sebagai satu butir cahaya kecil yang melayang naik, berputar-putar di udara, lalu jatuh perlahan ke tanah hitam di samping mereka. Cahaya itu meresap ke dalam abu yang berserakan, dan di sana, di antara debu dan arang, sesuatu menggeliat.
Sehelai tunas hijau menyeruak.
Nawangsari memeluk tubuh yang berhenti bernapas itu, dan untuk beberapa saat, dunia terasa begitu hening hingga ia mendengar denyut tunas itu tumbuh. Tunas itu membesar cepat, merambat naik, bercabang, lalu mekar dalam hitungan napas menjadi bunga jingga berinti bara, sama seperti yang pernah mekar di telapak tangan Bhaskara. Lalu satu. Lalu dua. Lalu seluruh taman yang hangus bergetar, dan dari abu yang beterbangan, ribuan tunas hijau menyembul, merambati tanah hitam seperti karpet hidup, menyelimuti reruntuhan dengan warna jingga yang lembut.
“Kau lihat?” bisik Nawangsari, air matanya jatuh membasahi wajah Bhaskara. “Kau lihat apa yang kau lakukan?”
Dan pada saat itu, tubuh di pangkuannya menarik napas.
Pelan, goyah, seperti seseorang yang baru belajar bernapas untuk pertama kalinya. Dadanya naik, dan di bawah kulitnya yang tidak lagi retak, terdengar denyut jantung manusia biasa. Kelopak matanya bergetar, lalu terbuka. Cokelat, hangat, dan sangat bingung.
“Aku… masih di sini?” gumamnya.
Nawangsari tertawa dan menangis sekaligus, menciumi dahinya, pipinya, kedua tangannya yang hangat dan tidak membakar. “Kau masih di sini. Kau masih di sini.”
Bhaskara mengangkat tangannya yang bergetar, dan untuk pertama kalinya, dengan keberanian yang membuat lututnya lemas, ia menyentuh pipi istrinya dengan telapak yang telanjang. Tidak ada desis. Tidak ada bau hangus. Hanya kulit yang bertemu kulit, hangat dan lembut, dan air mata yang mengalir di antara jemarinya seperti sungai kecil yang akhirnya menemukan hilirnya.
Para tetua Sekar Jagad, yang berdiri terpukau di tepi taman, mengatakan kemudian bahwa itu adalah mukjizat. Tetapi beberapa di antara mereka, yang tahu lebih banyak, berbisik bahwa tidak ada mukjizat. Sumpah kuno itu memang tidak pernah meminta kematian. Ia hanya meminta pengorbanan yang tulus, dan pengorbanan yang tulus, ketika benar-benar diberikan, tidak pernah dibalas dengan kehilangan.
Gandamaya diadili dan diampuni, dengan syarat ia menghabiskan sisa hidupnya merawat taman yang pernah ia bakar. Ia melakukannya selama empat puluh tahun, setiap pagi, dengan tangan yang gemetar dan penyesalan yang tidak pernah hilang. Dan di antara bunga-bunga jingga yang tumbuh paling lebat di sudut taman, ia sering duduk sendirian, berbicara pelan pada nisan-nisan kecil yang tidak ada di sana.
Bhaskara tidak pernah lagi memanggil api. Ia tidak lagi menjadi penjaga Gunung Brahma, dan benteng batu hitam itu perlahan ditumbuhi lumut dan bunga liar. Ia menjadi tukang kebun di sisi istrinya, seorang pria biasa dengan tangan yang tidak membakar siapa pun, yang tertawa terlalu keras dan menangis di depan siapa saja tanpa malu.
Setiap musim semi, ia membawa Nawangsari mendaki Gunung Brahma, bukan untuk menjaga api, tetapi untuk menanam bunga di sela-sela reruntuhan benteng. Penduduk desa di kaki gunung sering melihat dua sosok kecil di puncak yang dulu terlarang, menggali tanah bersama-sama, saling melempar segenggam tanah sambil tertawa. Dan pada malam hari, ketika bintang-bintang bermunculan, mereka sering berbaring di atas rerumputan hangat, menatap langit tanpa rasa takut. Bagi Bhaskara, itu adalah bentuk kebahagiaan yang paling ia syukuri: kesederhanaan yang tidak pernah ia bayangkan pantas ia miliki.
Dan setiap malam, ketika api unggun kecil dinyalakan di halaman rumah mereka, mereka duduk berdampingan, tangan saling menggenggam. Bhaskara memandangi nyala itu dengan senyum yang lembut, seperti seseorang yang bertemu kembali dengan sahabat lama yang kini tidak lagi menyakitinya.
Bunga jingga berinti bara itu kemudian dikenal di seluruh negeri dengan nama Kembang Abu. Orang-orang percaya bahwa jika dua orang yang saling mencintai menanamnya bersama dan menyiramnya dengan kejujuran, bunga itu akan mekar tanpa pernah layu. Dan di setiap kelopaknya yang hangat, tersimpan pelajaran yang diwariskan dari tujuh puluh tujuh generasi yang tidak pernah berani memercayainya:
Bahwa cinta sejati tidak meminta api untuk padam, melainkan mengajarkannya cara menghangatkan tanpa membakar.