Bab 1: Badai Tujuh Malam
Orang-orang di Desa Teluk Pasir Putih biasa berkata bahwa laut selatan memiliki suasana hati seperti seorang raja tua: kadang murah hati, kadang murung, dan sesekali murka tanpa sebab yang bisa dimengerti. Para nelayan mempelajari suasana hatinya sejak kecil, seperti anak-anak mempelajari watak ayah mereka. Mereka tahu kapan harus melaut dan kapan harus tinggal di darat, kapan harus menabur bunga di pantai dan kapan harus berdoa di dalam rumah dengan pintu terkunci.
Tetapi tidak seorang pun pernah belajar menghadapi badai yang datang pada musim kemarau, dan bertahan selama tujuh malam penuh.
Badai itu mulai pada malam bulan baru. Awan hitam menggulung dari selatan dengan kecepatan yang tidak masuk akal, dan dalam hitungan jam, laut yang tadinya tenang mendadak mengamuk seperti binatang yang disiksa. Ombak setinggi pohon kelapa menghantam pantai tanpa jeda. Perahu-perahu yang tertambat dihempaskan ke daratan seperti mainan, dan atap-atap rumbia beterbangan bersama jeritan angin. Selama tujuh malam, tidak seorang pun di desa itu bisa tidur. Mereka berkumpul di balai desa yang paling kokoh, saling berpelukan, mendengar laut menggedor dinding seolah ia sedang mencari sesuatu yang hilang.
Kemala tidak ikut berkumpul di balai desa.
Para tetangga sebenarnya sudah berkali-kali mengajaknya pindah ke dekat balai desa, setidaknya pada musim badai. Tetapi Kemala selalu menolak dengan alasan yang berubah-ubah: jala belum selesai ditambal, atap belum diperbaiki, ia tidak mau merepotkan siapa pun. Alasan sebenarnya jauh lebih sederhana dan lebih menyakitkan. Gubuk di ujung teluk itu adalah tempat terakhir ayahnya melambaikan tangan, dan ia takut jika ia pergi, ayahnya tidak akan menemukan jalan pulang.
Ia tinggal di sebuah gubuk kecil di ujung teluk, terpisah dari rumah-rumah lain, bersama perahu tua peninggalan ayahnya dan jala-jala yang sudah ditambal ratusan kali. Usianya dua puluh enam tahun. Ayahnya hilang di laut sepuluh tahun lalu, pada hari yang awalnya cerah, dan sejak itu Kemala hidup dengan hubungan yang aneh pada air asin: ia membencinya dan membutuhkannya dalam napas yang sama. Setiap pagi ia mendayung keluar sebelum matahari terbit, dan setiap malam ia pulang membawa ikan seadanya sambil bersumpah bahwa suatu hari ia akan berhenti.
Ia belum pernah berhenti.
Malam itu, ketika badai mengamuk di luar, ia duduk di lantai gubuk dengan punggung bersandar pada dinding bambu yang bergetar, memeluk lutut dan mendengarkan laut menggedor-gedor seolah ingin masuk. Ia teringat ayahnya pernah berkata bahwa laut tidak pernah marah tanpa alasan. “Dia hanya kehilangan sesuatu,” kata lelaki itu waktu itu sambil tertawa, tidak tahu bahwa kalimat itu akan terus menghantui putrinya selama sepuluh tahun. Kemala menutup telinga dengan kedua tangan dan berbisik pada kegelapan, “Kalau kau kehilangan sesuatu, cari saja di tempat lain.”
Pada malam ketujuh, ketika angin mulai reda dan hujan menipis menjadi gerimis, Kemala memberanikan diri keluar menjenguk perahunya. Ia membawa lentera minyak dengan nyala yang bergoyang, melangkah di atas pasir basah yang berserakan pecahan kayu dan rumput laut. Pantai tampak seperti medan perang yang sunyi.
Ia menyusuri garis pantai dengan hati-hati, menghindari pecahan kayu yang tajam. Jaring-jaring milik tetangga tersangkut di pohon bakau seperti rambut raksasa yang kusut, dan di kejauhan, perahu Pak Waluyo terbalik di atas karang dengan lambung retak. Bau garam bercampur bau kayu patah menusuk hidungnya. Tidak ada satu pun burung camar yang terbang. Seolah seluruh pantai sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak ia ketahui.
Dan di sanalah, di tepi ombak yang menyurut, ia melihat sesuatu yang bukan kayu.
Seorang pria terbaring telungkup di atas pasir. Pakaiannya, kain biru gelap yang tampak terlalu halus untuk pakaian nelayan, melekat pada tubuhnya yang basah. Rambutnya hitam panjang dan kusut, bergelombang seperti rumput laut. Kulit punggungnya pucat seperti mutiara, dan di pergelangan tangan kirinya yang terkulai, berkilau deretan sisik tipis keperakan yang tidak mungkin dimiliki manusia biasa.
Kemala berdiri membeku dengan lentera di tangan. Nalurinya sebagai anak nelayan berteriak agar ia mundur, karena semua cerita yang ia dengar sejak kecil mengatakan bahwa apa pun yang dikirim laut dengan cara seperti ini membawa kutukan. Tetapi ia juga mengingat tubuh ayahnya yang tidak pernah ditemukan, dan hatinya menolak membiarkan seorang pun terbaring tanpa pertolongan di tepi laut yang telah merenggut begitu banyak.
Ia berlutut dan membalikkan tubuh itu dengan susah payah. Wajahnya muda, mungkin sebaya dengannya, dengan garis rahang yang tegas dan bulu mata yang panjang dan basah. Napasnya sangat lemah, tetapi masih ada. Dan ketika Kemala menyentuh pipinya yang dingin, matanya terbuka.
Mata itu tidak berwarna seperti mata manusia. Di bawah cahaya lentera, irisnya berubah-ubah, hijau seperti lumut di batu karang, lalu biru tua seperti palung, lalu kelabu pucat seperti langit sebelum badai. Mereka memandang Kemala dengan kebingungan murni, tanpa ketakutan dan tanpa kecurigaan, seperti mata bayi yang baru lahir.
“Aku…” Suaranya serak, seolah kerongkongannya sudah lama tidak digunakan. “Siapa… aku?”
Kemala menelan ludah. “Aku tidak tahu. Siapa namamu?”
Pria itu menutup mata, dahinya berkerut dalam usaha yang menyakitkan. Ia mencoba menggali sesuatu dari kedalaman pikirannya, dan Kemala bisa melihat kegelisahan di wajahnya, seperti seseorang yang berdiri di tepi ruangan gelap dan tidak bisa menemukan saklar. Ia membuka mata kembali, dan matanya basah.
“Tidak ada,” bisiknya. “Tidak ada apa-apa.”
Di kejauhan, ombak terakhir dari badai tujuh malam itu menghempas pelan di pantai dan menyurut, seolah laut sendiri baru saja melepaskan napas yang ditahannya terlalu lama. Kemala menatap pria asing di pangkuannya, dan ia tahu, dengan kepastian yang aneh dan menakutkan, bahwa hidupnya baru saja berubah arah tanpa ia sempat bertanya.
“Baiklah,” katanya akhirnya, menyelipkan lengannya di bawah bahu pria itu. “Pertama-tama, kita keluar dari angin. Soal nama, kita pikirkan nanti.”
Bab 2: Nama yang Dipinjam
Pria itu tidur selama dua hari penuh di atas dipan bambu di sudut gubuk Kemala.
Pada malam pertama, Kemala hampir saja berlari memanggil tetua desa. Setiap naluri yang diajarkan neneknya berteriak agar ia tidak menyimpan orang asing yang dikirim badai di dalam rumahnya. Tetapi ketika ia memandang wajah yang tertidur itu, wajah yang tampak begitu tersesat bahkan dalam lelapnya, ia tidak sanggup. Ia menarik bangku ke samping dipan dan duduk di sana sampai fajar, menjaga sesuatu yang bahkan belum ia pahami.
Ia terbangun hanya sesekali, meneguk air yang disodorkan, menggumamkan sesuatu dalam bahasa yang tidak Kemala kenali, lalu tertidur lagi. Kemala menyeka wajahnya dengan kain basah, mengganti pakaiannya dengan baju lama ayahnya yang masih tersimpan di peti kayu, dan memperhatikan bahwa setiap kali ia menyentuh air laut dalam wadah yang ia siapkan di dekat dipan, napas pria itu menjadi lebih tenang. Seolah air asin itu obat yang hanya dipahami oleh tubuhnya.
Pada pagi ketiga, ia membuka mata dan memandang langit-langit gubuk yang bocor di beberapa tempat. “Rumahmu bagus,” katanya, suaranya jauh lebih jernih. “Meskipun atapnya perlu diperbaiki.”
Kemala hampir menjatuhkan mangkuk bubur di tangannya. “Itu kalimat pertamamu setelah tiga hari? Atapku?”
“Aku tidak ingat apa pun, tetapi aku cukup yakin atap tidak seharusnya meneteskan air ke wajah orang sakit.” Ia tersenyum kecil, dan senyum itu mengubah seluruh wajahnya, memperlihatkan sesuatu yang hangat dan lucu di balik ketenangan misterius yang sebelumnya menyelimutinya.
Mereka berbincang untuk pertama kalinya sambil makan bubur ikan. Pria itu, yang belum punya nama, mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membuat Kemala sadar betapa banyak hal yang ia anggap lumrah. Mengapa ikan harus ditangkap pagi-pagi sekali? Mengapa jala harus ditambal dengan simpul tertentu? Mengapa orang-orang di desa ini selalu menunduk ketika menyebut nama laut?
Banyu menghabiskan tiga mangkuk bubur, lalu menatap mangkuk kosong itu dengan pandangan yang nyaris khidmat. “Aku tidak tahu apa yang biasa kumakan,” katanya jujur, “tetapi aku yakin ini yang terbaik yang pernah kucicipi.” Kemala mendengus, berusaha menyembunyikan senyumnya. “Itu bubur ikan seadanya. Kau hanya kelaparan.” “Mungkin.” Banyu mengangkat bahu. “Tetapi aku menolak dugaan bahwa aku tidak punya selera.”
“Karena laut bukan sekadar air,” jawab Kemala pelan. “Ayahku selalu bilang laut itu seperti raja yang kita tinggali wilayahnya. Kita boleh mengambil dari kerajaannya, tetapi kita harus tahu diri.”
“Dan ayahmu?”
“Hilang. Sepuluh tahun lalu.” Kemala menatap mangkuknya. “Laut tidak pernah mengembalikannya.”
Pria itu terdiam lama. Ketika ia berbicara lagi, suaranya sangat lembut. “Aku turut berduka. Meskipun aku tidak tahu mengapa aku merasa bahwa aku seharusnya meminta maaf.”
Kemala menatapnya, bingung. Tetapi pria itu hanya mengangkat bahu dengan kebingungan yang sama.
Ia tinggal di gubuk itu hari demi hari. Kemala memutuskan untuk memanggilnya Banyu, yang berarti air, karena itulah satu-satunya hal yang membuatnya tenang. Pria itu menerimanya dengan senang, mengulangi nama itu beberapa kali seolah mencicipi rasanya. “Banyu,” katanya. “Aku suka. Rasanya seperti sesuatu yang sudah lama kutunggu untuk dipanggil.”
Hari-hari awalnya dipenuhi hal-hal kecil yang lucu. Banyu tidak bisa memakai sandal dan selalu menaruhnya terbalik. Ia takut pada ayam, tetapi sama sekali tidak takut pada ular sawah yang pernah melintas di halaman. Ia menolak makan garam kasar langsung dari tangan, tetapi merasa tenang ketika mencelupkan kakinya ke dalam air asin hingga Kemala harus menariknya pulang karena ia bisa duduk di tepi pantai berjam-jam tanpa bergerak, menatap ombak seperti seseorang yang sedang mendengarkan percakapan lama.
Namun kehadiran seorang asing di Teluk Pasir Putih tidak bisa disembunyikan lama. Pada hari kelima, Pak Waluyo, kepala desa yang bertubuh gempal dengan kumis lebat, datang dengan tiga orang tetua dan wajah yang tegang. Mereka berdiri di ambang pintu gubuk, memandangi Banyu yang sedang duduk di beranda memperbaiki jaring.
“Kemala,” kata Pak Waluyo dengan suara yang dibuat sabar, “kami dengar kau menolong seseorang yang terdampar.”
Suasana di halaman mendadak tegang. Banyu menaruh jaringnya perlahan dan berdiri di samping Kemala, bukan di depannya, seperti seseorang yang tidak ingin menyembunyikan apa pun. “Aku tidak ingin menimbulkan masalah,” katanya pada para tetua. “Jika kalian ingin aku pergi, aku akan pergi.” Pak Waluyo menggeleng, jengah, tidak siap menghadapi kejujuran semacam itu dari orang yang katanya membawa bencana.
“Benar, Pak.”
“Dari mana asalnya?”
“Ia tidak ingat.”
Para tetua saling berpandangan. Salah satunya, seorang perempuan tua berambut putih yang dikenal sebagai Mbah Sarinem, melangkah maju dan memandangi pergelangan tangan Banyu yang terbuka. Sisik-sisik perak di sana berkilau samar di bawah sinar matahari. Wajah Mbah Sarinem memucat, dan ia mundur setengah langkah.
“Kemala,” bisiknya, “kau tahu siapa yang kau selamatkan?”
“Seorang nelayan yang terdampar?”
“Bukan.” Perempuan tua itu menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari tangan Banyu. “Sudah tujuh malam badai mengamuk di laut selatan, dan tidak ada yang tahu sebabnya. Sudah sepekan ikan-ikan menghilang dari jaring kita. Para tetua kuno selalu bercerita bahwa ketika sang Penguasa Laut Selatan lenyap dari singgasananya, lautan akan mengamuk seperti anak yang kehilangan ayah.”
Semua orang terdiam. Hanya terdengar deburan ombak yang lembut di kejauhan, begitu lembut hingga terasa seperti sedang mendengarkan.
Banyu mengangkat wajahnya, memandang Mbah Sarinem dengan mata yang berubah warna dari kelabu menjadi hijau tua. “Aku tidak tahu siapa yang kalian bicarakan,” katanya pelan. “Tetapi jika laut sedang menderita, aku ingin tahu bagaimana cara menolongnya.”
Dan di belakangnya, di cakrawala yang jauh, awan gelap yang tadinya menggantung rendah di atas samudra mulai membelah, perlahan, seperti tirai yang disibak.
Bab 3: Pelajaran Menjaring
Setelah hari itu, penduduk Teluk Pasir Putih memperlakukan Banyu dengan campuran hormat dan waspada yang canggung.
Mbah Sarinem datang setiap sore membawa pisang goreng dan cerita lama. Ia duduk di beranda gubuk dengan tongkatnya, memperhatikan Banyu yang sedang menganyam tali, lalu bergumam seolah pada diri sendiri tentang dewa-dewa laut yang pernah ia dengar dari kakeknya. “Konon ia punya ratusan mata,” katanya. “Dan setiap mata melihat satu penjuru samudra.” Banyu tersenyum sopan, tidak tahu harus bereaksi bagaimana, dan Kemala hanya menggeleng sambil menahan tawa.
Beberapa menjauh dan menutup pintu rapat-rapat ketika ia lewat. Beberapa meletakkan sesaji kecil di depan gubuk Kemala pada malam hari: bunga kamboja, sebutir telur, segenggam beras kuning. Anak-anak mengintip dari balik pohon kelapa, bertaruh siapa yang berani menyentuh sisik di pergelangan tangannya. Banyu menanggapi semuanya dengan kebingungan yang sopan, seperti tamu yang tidak tahu apakah ia sedang dijamu atau diadili.
Kemala tidak mempermasalahkannya. Ia hanya tahu bahwa laut sudah mulai tenang.
Dan ia juga tahu, walau tidak mau mengakuinya, bahwa ketenangan itu ada hubungannya dengan Banyu.
Setiap pagi, ketika mereka mendayung bersama keluar teluk, ombak yang tadinya bergulung kasar di muara mendadak melunak di bawah lambung perahu. Ikan-ikan, yang sudah berminggu-minggu menghindar, kembali berkumpul di sekeliling jaring, seolah dipanggil oleh sesuatu yang tidak terdengar. Banyu sendiri tidak menyadarinya. Ia hanya mengayuh dengan wajah serius, mengikuti petunjuk Kemala tentang cara menarik jala dan membaca arus.
“Pelan-pelan,” kata Kemala sambil menunjuk simpul di ujung tali. “Kalau kau menarik terlalu keras, ikannya kabur.”
Ia membiarkan Banyu mencoba berkali-kali. Simpul pertama longgar, simpul kedua terlalu erat, simpul ketiga terlilit di jarinya sendiri sampai mereka berdua tertawa terbahak hingga perahu bergoyang. Kemala belajar bahwa Banyu bukan hanya cepat belajar, tetapi juga sangat sabar menerima kegagalan, seolah ia tahu bahwa ada hal-hal yang memang butuh waktu lama untuk dikuasai. Ia mulai menunggu pagi hari dengan perasaan yang sudah lama tidak ia kenal, sesuatu yang mirip pengharapan.
“Aku merasa seperti harus memintanya,” gumam Banyu.
“Memintanya apa?”
“Entahlah. Seperti ada sesuatu di dalam kepalaku yang tahu bagaimana caranya, tetapi tidak mau memberitahuku.” Ia tertawa kecil, menggaruk tengkuknya. “Kedengarannya gila, ya?”
“Kau terdampar tanpa ingatan dengan sisik di pergelangan tangan,” kata Kemala datar. “Aku sudah berhenti menyebut sesuatu gila.”
Mereka berdua tertawa, dan tawa itu mengalun di atas air, menyatu dengan kicau burung camar. Kemala menyadari bahwa sudah bertahun-tahun ia tidak tertawa seperti itu di atas perahu.
Hari-hari berlalu dalam irama yang mudah. Pagi hari melaut, siang hari menjemur ikan dan menambal jala, sore hari duduk di beranda memandangi matahari tenggelam. Banyu belajar memasak ikan bakar dengan sambal terasi yang membuat matanya berair, belajar menganyam tali dari serat kelapa, belajar bernyanyi lagu-lagu nelayan yang dinyanyikan para lelaki tua di warung kopi. Ia pandai sekali menirukan bunyi ombak, begitu pandai sehingga kadang Kemala harus menoleh untuk memastikan bahwa itu suaranya, bukan suara laut sendiri.
Pada suatu sore, seorang anak kecil bernama Sekar memberanikan diri mendekat dan bertanya, “Kak Banyu, apakah benar kakak bisa bicara dengan ikan?” Banyu berlutut agar sejajar dengan matanya dan berbisik serius, “Aku belum pernah mencoba. Tetapi kalau kau mau, kita bisa mencobanya bersama.” Mereka berdua berjongkok di tepi dermaga, memandangi air dengan khidmat selama sepuluh menit penuh, sampai seekor ikan kecil berenang mendekat dan muncul di permukaan. Sekar menjerit kegirangan, dan sejak hari itu, hampir semua anak di desa menganggap Banyu sahabat mereka.
Namun ada malam-malam ketika Banyu terbangun dengan napas tersengal dan mata yang berpendar samar dalam gelap.
“Aku bermimpi,” katanya suatu malam, duduk di tepi dipan dengan tangan gemetar. “Tentang istana yang terbuat dari mutiara, di dasar air yang sangat dalam. Ada lorong-lorong panjang yang diterangi ubur-ubur, dan ribuan suara yang memanggilku, tetapi aku tidak bisa menjawab satu pun.”
Kemala duduk di sampingnya, menyodorkan segelas air hangat. “Mungkin itu ingatanmu.”
“Mungkin.” Ia menatap gelas itu tanpa meminumnya. “Kemala, aku takut.”
“Pada apa?”
“Pada apa yang akan kutemukan jika ingatanku kembali.” Ia menoleh, dan matanya berubah dari hijau menjadi biru tua yang dalam. “Aku merasa aku bukan orang yang baik. Aku merasa aku pernah melakukan sesuatu yang membuat laut marah.”
“Jika kau bukan orang baik,” kata Kemala pelan, “kau tidak akan duduk di sini mengkhawatirkannya.”
Banyu menatap gelas di tangannya, lalu tertawa pendek, getir. “Kau selalu punya jawaban untuk setiap ketakutanku.” “Itu pekerjaan sampinganku,” kata Kemala ringan, meski jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. “Menjadi tempat bersandar bagi orang-orang yang hanyut.” Ia sengaja mengatakannya sebagai gurauan, tetapi begitu kalimat itu keluar, keduanya terdiam, menyadari betapa harfiahnya makna ucapan itu.
Banyu tersenyum lemah, dan untuk beberapa saat, mereka hanya duduk berdampingan dalam gelap, mendengarkan debur ombak yang lembut di kejauhan. Kemala merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya, sesuatu yang selama sepuluh tahun terkunci rapat. Ia tidak tahu namanya, tetapi ia tahu rasanya: seperti pintu yang pelan-pelan terbuka di rumah yang lama ditinggalkan.
Dan jauh di kedalaman laut selatan, di antara lorong-lorong istana mutiara yang sunyi, sesuatu menggeliat bangun.
Bab 4: Utusan dari Dasar Laut
Mereka datang pada malam purnama, tanpa suara dan tanpa pemberitahuan.
Kemala sedang menjemur ikan asin di halaman ketika ia merasakan sesuatu yang aneh di udara: keheningan yang terlalu padat, seperti saat laut menahan napas sebelum badai. Burung-burung camar berhenti berteriak. Ombak berhenti berdebur. Dan dari tepi pantai, bergerak perlahan menyusuri pasir yang berkilau di bawah bulan, tampak tiga sosok yang tidak seharusnya ada di daratan.
Sore itu sebenarnya ia sedang bahagia. Banyu baru saja membawa pulang tangkapan paling banyak dalam sebulan, dan mereka berencana menjual sebagian di pasar pagi besok. Kemala bahkan sempat bersenandung kecil sambil menggantung ikan-ikan itu di tali jemuran, lagu lama yang diajarkan ayahnya. Ia tidak menyadari bahwa itu adalah tawa terakhir yang tenang, sebelum dunia berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa ia tampung.
Yang pertama adalah seekor penyu raksasa yang tempurungnya berlapis lumut dan kerang, berjalan dengan gerakan lambat dan penuh wibawa. Di atas punggungnya duduk seorang perempuan kecil berjubah hijau laut, dengan rambut yang melayang seolah ia masih di dalam air. Dan di belakang mereka, melayang setengah meter di atas pasir, berenang di udara seperti ikan di air, adalah seekor kuda laut sebesar anak sapi.
“Gusti,” kata penyu itu dengan suara serak dan sangat tua, dan ia menurunkan kepalanya sampai menyentuh pasir. “Setelah ratusan malam mencari, akhirnya kami menemukan Paduka.”
Banyu, yang sedang duduk di beranda, berdiri perlahan. Wajahnya pucat, dan matanya berubah warna dengan cepat, dari hijau ke biru ke kelabu. “Kalian… mengenalku?”
“Kami mengabdi pada Paduka selama seribu tahun,” kata perempuan kecil di punggung penyu. Ia turun dengan ringan, lalu berlutut dengan kedua tangan di dada. “Patih Kuda Laut dan Kura-kura Agung adalah hamba-hamba Paduka. Dan hamba, Nyai Karang, penjaga mutiara jiwa kerajaan. Paduka adalah Baruna Segara, Penguasa Laut Selatan, penjaga tujuh samudra.”
Kuda laut raksasa itu, yang sejak tadi hanya melayang diam, kini bergetar pelan dan mengeluarkan suara seperti seruling di dalam air. “Gusti tidak perlu takut,” katanya dengan nada yang lebih lembut dari penampilannya. “Kami tidak datang untuk menuntut. Kami hanya datang karena merindukan.” Banyu menatap makhluk itu, dan sesuatu bergetar di dadanya, seperti ia telah mendengar suara itu sejak sebelum lahir.
Kata-kata itu jatuh di antara mereka seperti batu di danau yang tenang. Banyu menggeleng pelan, mundur selangkah, dan menabrak dinding beranda. “Tidak. Aku hanya seorang nelayan. Aku bahkan tidak bisa menambal jala dengan benar.”
“Paduka kehilangan ingatan karena pengkhianatan,” lanjut Nyai Karang, suaranya bergetar. “Adik Paduka sendiri, Karangtirta, merampas Mutiara Jiwa dari singgasana dan melemparkan Paduka ke daratan dalam badai tujuh malam. Sejak itu, laut menjadi liar. Karangtirta tidak mampu mengendalikannya. Samudra berontak karena yang duduk di singgasana bukan penguasa yang sah.”
Kemala berdiri mematung di halaman, hanya beberapa langkah dari mereka. Ia mendengar semuanya, setiap kata, dan dadanya terasa seperti ditikam. Ia teringat ayahnya, yang hilang di laut tanpa sebab. Ia teringat sepuluh tahun kebenciannya pada air asin itu. Dan kini seseorang yang ia rawat, ia tertawai, ia ajari menambal jala, ternyata adalah makhluk yang memerintah semua itu.
Ia berpegangan pada tiang jemuran, takut lututnya menyerah. Selama berminggu-minggu ia memperhatikan keanehan-keanehan kecil, sisik di pergelangan tangan, mata yang berubah warna, ombak yang melunak setiap kali ia lewat, tetapi ia memilih tidak menyusunnya menjadi gambaran utuh. Mungkin karena jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa jika gambaran itu selesai, Banyu akan pergi. Dan kini, di bawah purnama yang terlalu terang, gambaran itu akhirnya selesai.
“Kemala,” kata Banyu, menoleh padanya dengan mata yang kini sepenuhnya biru tua, penuh keputusasaan. “Aku tidak tahu…”
“Ayahku,” potong Kemala, suaranya serak. “Laut ini yang mengambilnya. Apakah kau… apakah kau tahu sesuatu?”
Banyu menatap Nyai Karang. Perempuan kecil itu menunduk. “Hamba tidak tahu pasti,” katanya pelan. “Tetapi jika ayah Nona hilang pada hari yang cerah, mungkin itu adalah awal dari retakan pertama. Karangtirta sudah lama menyusun rencananya. Sepuluh tahun terakhir banyak kapal yang hilang tanpa sebab.”
Kemala menutup mulut dengan tangannya. Air matanya menetes, deras dan tiba-tiba, setelah sepuluh tahun menahan. Ia tidak menangis karena sedih, tidak sepenuhnya. Ia menangis karena akhirnya, setelah bertahun-tahun, ia punya nama untuk sesuatu yang menghancurkan hidupnya.
Banyu melangkah mendekat, ragu-ragu, seperti seseorang yang takut menyentuh luka. “Aku akan membawa kembali ayahmu,” katanya, suaranya mantap dan asing, bukan lagi suara seorang nelayan. “Jika ia masih hidup di mana pun di lautan ini, aku akan menemukannya. Aku bersumpah.”
“Kau bahkan tidak ingat siapa dirimu.”
“Karena itu aku harus mengingatnya.” Ia menatap bulan, matanya berkilau seperti permukaan samudra di malam hari. “Aku tidak bisa bersembunyi di gubukmu selamanya, Kemala. Laut sedang menderita karena aku. Dan kau, kau berhak mendapatkan jawaban.”
Nyai Karang mengangkat kepala, dan untuk pertama kalinya matanya yang hijau pucat tampak berkaca-kaca. “Gusti,” bisiknya, “ketika Paduka terbaring tidak sadarkan diri di pantai itu, hamba mengikuti dari kejauhan selama tujuh malam. Hamba melihat perempuan ini keluar dengan lentera di tengah badai, dan hamba tahu bahwa laut sedang menguji siapa yang pantas menjaga Paduka. Ia lulus tanpa menyadari bahwa ia sedang diuji.” Kemala menatap perempuan kecil itu dengan campuran haru dan malu, tidak tahu harus berkata apa.
Bab 5: Harga Sebuah Ingatan
Perjalanan menuju Palung Sunyi memakan waktu tiga hari tiga malam.
Banyu tidak mengizinkan Kemala ikut, tetapi gadis itu tidak mengindahkannya. Ia menyiapkan perahu tuanya, mengisi kendi air, membungkus nasi dan ikan asin, dan berdiri di dermaga dengan tangan bersilang. “Kau pikir aku akan duduk di rumah menunggu kabar?” katanya. “Laut itu rumahku juga, entah aku suka atau tidak.”
Mereka berlayar bersama Kura-kura Agung yang berenang di depan sebagai penunjuk jalan. Samudra di sekeliling mereka tidak lagi liar. Setiap ombak yang bertemu perahu mereka merunduk dengan hormat, dan ikan-ikan berenang di sepanjang lambung kapal, seperti pengiring yang setia. Banyu duduk di haluan, dan semakin jauh mereka dari daratan, semakin cepat matanya berubah warna, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang perlahan terbangun.
Malam pertama di laut terbuka terasa panjang dan penuh bintang. Kemala berbaring di dasar perahu menatap langit yang luas, dan Banyu duduk di sampingnya, menceritakan satu per satu rasi yang tiba-tiba ia ingat namanya. “Itu Bintang Pelaut,” katanya sambil menunjuk. “Dan itu yang dulu dipakai ibuku untuk memanggilku pulang.” Kemala menoleh, memandang profil wajah yang diterangi cahaya bintang, dan menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta pada seseorang yang tidak lagi sepenuhnya bisa ia pegang.
Pada malam kedua, ia mulai mengingat.
Ia teringat tahta mutiara yang dingin, aula-aula luas dengan langit-langit dari karang bercahaya, dan para pelayan yang membungkuk setiap kali ia lewat. Ia teringat betapa sepinya seorang penguasa. Seribu tahun duduk di singgasana yang sama, mendengarkan keluhan seribu makhluk, dan tidak seorang pun pernah bertanya apakah ia lelah. Ingatan itu membuatnya tertegun lama, dan ia menyadari bahwa mungkin itulah alasan mengapa ia tidak ingin kembali ketika tinggal di gubuk Kemala yang sempit dan bocor.
Potongan-potongan itu datang seperti kilat. Wajah ibunya, seorang dewi samudra kuno yang tidak pernah menua. Tawa kecil adiknya Karangtirta di taman karang ketika mereka masih kanak-kanak. Janji yang mereka buat untuk menjaga lautan bersama. Lalu perlahan, sebuah bayangan menyelinap masuk: kecemburuan di mata sang adik, tahun demi tahun, ketika ia melihat kakaknya dipuja sementara dirinya hanya menjadi bayangan.
“Aku ingat,” bisiknya pada Kemala di tengah malam, tubuhnya gemetar. “Aku ingat semuanya, tetapi…” Ia menatap tangannya sendiri, yang kini berpendar samar seperti permukaan air di bawah cahaya bulan. “Semakin aku mengingat, semakin aku merasa Banyu menghilang.”
Kemala menggenggam tangan itu erat-erat, tidak peduli betapa dingin dan basahnya. “Banyu tidak akan menghilang.”
“Kau tidak tahu itu.”
“Aku tahu sesuatu yang lain.” Ia menatapnya lurus-lurus. “Aku tahu bahwa seseorang yang bertanya mengapa laut sedih, yang belajar menambal jala dengan sabar, yang meminta maaf atas sesuatu yang bahkan tidak ia ingat, bukan seseorang yang bisa hilang begitu saja hanya karena ia menjadi dewa.”
Banyu tersenyum, dan matanya basah. “Kalau begitu, jangan lepaskan tanganku.”
Pada pagi ketiga, mereka tiba di Palung Sunyi, jurang laut yang begitu dalam hingga cahaya matahari tidak pernah menyentuhnya. Air di sana berwarna hitam pekat, dan dari kedalamannya terdengar gema suara yang tidak bisa dijelaskan, seperti ratusan orang bernyanyi dengan mulut tertutup. Kura-kura Agung berhenti dan menunduk. “Kami hanya bisa mengantar sampai di sini, Gusti. Sisanya adalah jalan Paduka sendiri.”
Sepanjang malam terakhir sebelum mencapai palung, Banyu tidak banyak berbicara. Ia duduk di haluan dengan punggung lurus, menatap cakrawala yang perlahan berubah dari ungu menjadi kelabu, dan Kemala, yang biasanya cerewet, memilih tidak mengganggunya. Hanya sesekali ia menyodorkan kendi air tanpa kata, dan Banyu menerimanya dengan anggukan kecil, seperti dua prajurit yang tidak butuh banyak bahasa untuk saling memahami sebelum perang.
Kemala memperhatikan dari perahu ketika Banyu berdiri di tepi jurang, jubah birunya mulai muncul dari udara kosong, menyelimuti tubuhnya seperti kabut yang memadat. Sisik-sisik di tangannya menyebar naik hingga ke leher, berkilau perak dan biru. Ia tampak asing, agung dan jauh, seperti patung dewa yang dipahat dari air. Tetapi ketika ia menoleh sekilas dan tersenyum, itu masih senyum yang sama, senyum seseorang yang pernah menertawakan atap bocor.
Banyu menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh pada Kemala. “Jika aku tidak kembali…”
“Jangan lanjutkan kalimat itu.”
Ia menyadari tangannya sendiri gemetar, dan menyembunyikannya di balik lipatan lengan baju. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, tetapi semuanya terdengar seperti permohonan, dan ia tahu permohonan hanya akan membuat langkah Banyu lebih berat. Jadi ia memilih sesuatu yang lebih sederhana, sesuatu yang bisa dibawa turun ke kegelapan tanpa menjadi beban. “Aku akan menunggu di sini,” katanya. “Seperti aku menunggu tiap pagi di dermaga. Kau tahu aku keras kepala.”
“Jika aku tidak kembali, aku ingin kau tahu bahwa seluruh hidupku sebelum terdampar di pantaimu hanyalah singgasana kosong. Dan yang paling berharga dari semua yang pernah kualami adalah tujuh malam badai yang membawaku padamu.”
Kemala tidak menjawab. Ia hanya menarik kerah baju Banyu dan mencium bibirnya sekali, cepat dan keras, dengan kemarahan dan ketakutan yang sama besarnya. “Itu agar kau punya alasan untuk kembali,” katanya terengah. “Sekarang pergi.”
Banyu tertegun, jemarinya menyentuh bibirnya sendiri seolah tidak percaya. Lalu ia tertawa pelan, tawa yang sama yang dulu membuat burung camar terbang bubar dari atap gubuk. “Itu alasan terbaik yang pernah diberikan siapa pun padaku,” katanya. Nyai Karang, yang berpura-pura sibuk memeriksa tempurung penyu, berdeham keras. Kemala merasakan wajahnya memanas, dan untuk menyembunyikannya ia mendorong Banyu sedikit lebih keras dari yang diperlukan ke arah tepi perahu.
Dan Banyu terjun ke dalam air hitam itu tanpa menoleh lagi.
Bab 6: Penguasa dan Nelayan
Kemala menunggu di perahu selama sebelas jam.
Untuk mengusir ketakutan, ia mulai berbicara pada Kura-kura Agung tentang ayahnya. Ia menceritakan hari ketika lelaki itu berangkat, cuaca cerah dan langit tanpa awan, jaket kuning yang selalu ia kenakan, dan lambaian tangan terakhir yang tidak pernah ia sangka akan menjadi yang terakhir. Penyu tua itu mendengarkan tanpa menyela, dan ketika cerita itu selesai, ia berkata pelan, “Nona, laut tidak selalu mengambil. Kadang ia hanya menyimpan, menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan.”
Ia tidak makan, tidak minum, tidak bergerak. Ia hanya duduk memandangi permukaan air hitam di bawahnya, dengan tangan yang masih menggenggam sisa kehangatan tangan Banyu. Kura-kura Agung berenang di sisi perahu dalam diam, dan sesekali, dari jauh di bawah, terdengar dentuman dahsyat yang mengguncang air, diikuti kilat biru yang menyambar dari kedalaman.
Pada jam kesepuluh, laut mulai mengamuk lagi. Ombak besar bangkit dari segala penjuru, mengguncang perahu kecilnya seperti mainan. Kemala memegang tepi perahu dengan seluruh kekuatannya, bibirnya terkatup menahan jeritan. Ia teringat ayahnya, teringat badai tujuh malam, dan untuk pertama kalinya ia berdoa pada laut, bukan dengan kebencian, tetapi dengan permohonan yang paling tulus yang pernah ia ucapkan: Jangan ambil dia juga.
Dan pada jam kesebelas, air hitam di hadapannya bergolak, memuntahkan sosok yang bersinar.
Banyu muncul dari kedalaman dengan jubah biru yang berkibar di sekelilingnya seperti sayap, rambutnya menjuntai basah di bahunya, dan di tangannya tergenggam sebutir mutiara sebesar kepalan, memancarkan cahaya putih yang menembus kegelapan. Matanya berpendar dengan seribu warna samudra, tetapi ketika ia memandang Kemala, warna itu mengerucut menjadi satu: cokelat hangat, seperti mata seorang nelayan sederhana.
“Aku kembali,” katanya pelan.
Kemala tidak mampu berkata apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangannya, dan Banyu menggenggamnya dengan tangan yang sudah tidak lagi dingin.
Di belakangnya, dari kedalaman Palung Sunyi, muncul sosok lain yang bergerak lemah: seorang pria muda berwajah mirip Banyu, dengan rambut sehitam arang dan luka-luka di seluruh tubuhnya. Karangtirta tidak lagi garang. Matanya kosong, dan tubuhnya seolah menyusut, seperti sesuatu yang kehilangan alasan untuk membenci. Banyu telah mengalahkannya, bukan dengan membunuhnya, melainkan dengan satu kalimat yang diucapkan di dasar palung: Aku memaafkanmu, Adikku, karena akulah yang lupa melihatmu.
Karangtirta tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan membiarkan para penjaga kerajaan membawanya pergi, ke pengasingan yang akan menjadi penebusan panjangnya.
Di antara rombongan yang mengikuti Banyu keluar dari palung, Kemala melihat sosok-sosok yang membuat napasnya tertahan: puluhan manusia yang pucat dan lemah, sebagian masih mengenakan pakaian nelayan, sebagian lagi dengan pakaian pelaut asing. Mereka adalah para korban yang ditawan Karangtirta selama sepuluh tahun terakhir. Dan di antara mereka, bersandar pada bahu seorang pemuda, berdiri seorang lelaki tua dengan jaket kuning yang sudah memudar.
“Ayah,” bisik Kemala, dan seluruh dunia menyusut menjadi satu kata itu.
Lelaki itu mengangkat wajah, matanya kabur oleh waktu dan kelelahan. Ia memandang perempuan dewasa di atas perahu itu, bingung, lalu perlahan, seperti matahari yang menembus kabut, wajahnya melunak. “Kemala?” bisiknya. “Anakku, kau… sudah sebesar ini?” Kemala melompat ke air dangkal tanpa peduli bajunya basah, dan memeluk ayahnya dengan tangis yang tertahan selama sepuluh tahun.
Laut kembali tenang dalam hitungan jam. Ombak mereda, langit membersih, dan matahari terbit dengan warna yang belum pernah dilihat siapa pun di Teluk Pasir Putih: emas kemerahan yang menyelimuti seluruh cakrawala, seperti perayaan yang tidak diumumkan. Ketika perahu kecil Kemala akhirnya merapat di pantai, seluruh penduduk desa berkumpul di tepi pasir, hening dan terpukau.
Dan dari dasar laut yang paling dalam, di kejauhan, terdengar suara yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya, nyanyian panjang dan lembut seperti ungkapan terima kasih dari ribuan makhluk yang telah lama menderita.
Tetapi masih ada satu hal yang harus diputuskan.
Hari itu, Teluk Pasir Putih merayakan sesuatu yang tidak pernah mereka duga: kembalinya anak-anak yang hilang. Para keluarga berlarian menyongsong orang-orang yang mereka kira telah mati, dan pantai itu dipenuhi tangis, tawa, dan nama-nama yang disebut berulang-ulang seolah takut hilang kembali. Mbah Sarinem berlutut di pasir dan menciumi tangan seorang pria yang ternyata adalah putranya sendiri, yang hilang tiga puluh tahun lalu dan tidak menua sehari pun. Tidak ada yang bertanya bagaimana semua itu mungkin. Mereka hanya bersyukur, dan itu cukup.
Banyu berdiri di tepi pantai bersama Kemala, jubah birunya masih berkibar meski angin telah berhenti. “Aku tidak bisa tinggal di darat selamanya,” katanya pelan. “Laut membutuhkanku. Itu kenyataan yang tidak bisa kuubah.”
“Aku tahu.” Kemala menatap cakrawala, matanya basah tetapi senyumnya tetap. “Aku sudah menduganya sejak malam purnama itu.”
“Tetapi aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Banyu…”
“Dengarkan.” Ia menggenggam kedua tangannya. “Aku adalah penguasa laut, dan kau adalah anak nelayan. Tempat di mana kita berdua bisa bertemu adalah di tepi, di mana ombak menyentuh pasir, di mana darat dan laut berbagi napas yang sama. Setiap fajar dan setiap senja, aku akan datang ke sana. Dan setiap kali kau mendayung keluar, aku akan berada di bawah perahumu, memastikan tidak ada ombak yang menyentuhmu dengan kasar.”
Kemala tertawa di antara tangisnya. “Itu bukan kehidupan yang normal.”
“Tidak.” Banyu tersenyum. “Tetapi mungkin itu lebih baik dari yang normal.”
Dan begitulah mereka menjalaninya, selama puluhan tahun yang damai. Kemala tetap menjadi nelayan, mendayung keluar setiap pagi dengan perahu tua peninggalan ayahnya. Ia tidak pernah lagi kehilangan jala, tidak pernah lagi dihantam badai tak terduga. Dan di bawah perahunya, para penduduk desa sering melihat bayangan biru yang mengikuti dari kejauhan, kadang berbentuk ikan raksasa, kadang berbentuk pria dengan mata yang berubah warna.
Para nelayan Teluk Pasir Putih menceritakan legenda itu kepada anak cucu mereka. Tentang Penguasa Laut Selatan yang kehilangan ingatan, dirawat seorang perempuan yang tidak tahu siapa yang ia rawat. Tentang cinta yang tidak membutuhkan atap, hanya sebuah pantai tempat ombak dan pasir bertemu dua kali sehari.
Dan setiap kali jaring mereka penuh dan laut tenang di pagi hari, mereka berkata sambil tersenyum: “Hari ini Sang Penguasa sedang sarapan bersama istrinya.”
Terima kasih telah membaca novel di web novel online gratis