novel online gratis 1

Cinta dan Penebusan di Langit Kesembilan

Bab 1: Vonis di Aula Cahaya

Di Langit Kesembilan, tempat para dewa bersemayam di atas awan yang tidak pernah bergerak, tidak ada kata yang lebih ditakuti daripada kata pengadilan.

Aula Cahaya berdiri di pusat kerajaan langit, dibangun dari kristal putih yang memantulkan setiap bisikan menjadi gema yang bergaung ke seluruh penjuru. Sembilan singgasana emas melingkar di tengahnya, dan di hadapan singgasana itu, pada pagi yang mestinya cerah, berlutut seorang dewi dengan kedua tangan terbelenggu rantai perak.

Sejak subuh, para dewa sudah berdatangan. Mereka mengenakan jubah-jubah terbaik, berbaris di galeri melingkar dengan ekspresi yang dilatih agar tidak menunjukkan apa pun. Namun Arunika, yang selama berabad-abad membaca raut wajah di antara cahaya, melihat apa yang tersembunyi di baliknya: rasa penasaran yang buas, kelegaan yang malu-malu, dan ketakutan yang disamarkan sebagai kesopanan. Tidak seorang pun dari mereka ingin berada di tempatnya hari ini, tetapi hampir semua tampak senang karena bukan mereka.

Namanya Arunika. Ia dewi penjaga fajar, yang bertugas membuka gerbang timur setiap hari agar matahari bisa naik. Rambutnya berwarna jingga lembut seperti cahaya pertama yang menyentuh awan, dan selama seribu dua ratus tahun, ia tidak pernah terlambat satu detik pun. Para dewa lain menyebutnya yang paling tepercaya. Hari ini, mereka menyebutnya terdakwa.

“Dewi Arunika,” kata Raja Langit Mahatara, suaranya berat dan dingin seperti besi yang direndam es. “Kau didakwa telah membiarkan gerbang timur terbuka tiga jam lebih awal pada malam purnama kemarin. Akibatnya, Bintang Pengikat meledak, dan sembilan puluh sembilan jiwa suci kehilangan jalan pulang ke surga. Mereka kini terperangkap di antara dunia, tersesat tanpa arah.”

Arunika mengangkat wajah. Matanya jernih, tidak gentar. “Hamba tidak membuka gerbang itu, Yang Mulia.”

“Gerbang itu hanya bisa dibuka oleh dewi fajar.”

“Dan hamba bersumpah hamba sedang berada di taman embun pada malam itu, bersama Dewi Sekar Jati. Hamba tidak pernah menyentuh gerbang itu.”

Dari barisan para saksi, seorang dewa berjubah biru melangkah maju dengan wajah dibuat sedih. Namanya Candra Baskara, dewa penjaga catatan langit, lelaki yang dulu pernah menyatakan cinta pada Arunika dan ditolak dengan halus. Ia membawa sebuah gulungan emas yang diserahkan dengan khidmat kepada Raja Langit.

Beberapa hari sebelum sidang, Arunika sempat mengunjungi Sekar Jati di taman embun untuk meminta kesaksiannya. Sahabatnya itu menggenggam tangannya sambil berurai air mata, bersumpah akan mengatakan yang sebenarnya. Kini, melihat Sekar Jati berdiri dengan wajah memucat, Arunika bertanya-tanya apa yang telah dikatakan kepadanya selama tiga hari itu, ancaman apa yang membuat seorang dewi lupa bahwa persahabatan seribu tahun tidak seharusnya selesai dalam satu kalimat.

“Ini adalah catatan gerbang,” katanya, suaranya lembut dan menyakitkan. “Tertulis jelas nama pembukanya pada malam itu. Hamba sangat menyesal, Yang Mulia. Hamba juga berharap ini kesalahan.”

Raja Langit membaca gulungan itu. Keheningan menimpa aula. Dan ketika ia mengangkat wajah, sorot matanya sudah menjatuhkan keputusan bahkan sebelum bibirnya bergerak.

“Nama yang tertulis adalah namamu, Arunika.”

Arunika menatap gulungan itu dari kejauhan, dan dadanya mencelos. Tulisan di sana memang menyerupai tulisannya, setiap lengkung huruf, setiap tarikan tinta. Tetapi ia tahu dengan kepastian yang tidak bisa dijelaskan bahwa ia tidak pernah menulis itu. Ia menoleh pada Sekar Jati, sahabatnya, yang berdiri di barisan saksi. Dewi itu menunduk dalam-dalam, bahunya gemetar, menolak menatap matanya.

Ia mencoba mengingat setiap detik malam purnama itu. Taman embun, aroma melati yang disuling dari awan, tawa kecil Sekar Jati ketika mereka berlomba menyusun kelopak bunga menjadi bentuk burung. Tidak ada gerbang. Tidak ada kunci. Tidak ada jejak tinta. Tetapi di aula yang gemerlap ini, kenangan seorang terdakwa tidak berarti apa-apa dibandingkan gulungan emas yang ditulis dengan rapi oleh dewa terhormat.

Dan saat itulah Arunika mengerti bahwa ia dikhianati, dan bahwa tidak seorang pun akan membelanya.

“Karena dosa ini bukan hanya kelalaian tetapi penghinaan terhadap hukum langit,” lanjut Raja Langit, “maka kau dijatuhi hukuman buangan ke dunia manusia. Kekuatanmu akan disegel. Ingatanmu tentang langit akan dikaburkan. Kau akan hidup sebagai manusia fana, menjalani sakit, lapar, dan kematian, sampai kau menebus dosa dengan menyelamatkan sembilan puluh sembilan jiwa yang kau sesatkan.”

“Hamba tidak bersalah!” Suara Arunika pecah untuk pertama kalinya. “Yang Mulia, hamba mohon, selidikilah…”

“Cukup.” Palu emas jatuh, dentangnya merambat melalui kristal sampai terasa di tulang. “Eksekusi dilaksanakan segera.”

Mahatara tidak memandangnya ketika mengucapkan kalimat itu. Arunika memperhatikan bahwa jemari sang raja yang menggenggam palu bergetar sangat tipis, seolah ada bagian dari dirinya yang tidak sepenuhnya yakin. Tetapi seorang raja yang telah memerintah selama sepuluh ribu tahun tidak dibiasakan menarik keputusannya kembali, dan keraguan kecil itu tenggelam begitu cepat sehingga mungkin hanya Arunika yang menyadarinya.

Dua penjaga bertombak mendekat dan menarik Arunika berdiri. Di tengah gemuruh lonceng, di bawah tatapan ratusan dewa yang diam-diam lega bukan mereka yang dihukum, ia melihat satu pasang mata yang berbeda. Di sudut aula, bersandar pada pilar dengan tangan terlipat, berdiri seorang dewa muda berpakaian perak kelabu. Namanya Dirgantara, dewa penjaga perbatasan langit, lelaki pendiam yang selama ribuan tahun hanya Arunika kenali sebagai bayangan di ujung pandang. Ia tidak memalingkan wajah. Ia menatap Arunika dengan sorot yang tidak bisa dibaca, bukan iba, bukan marah, hanya tekad yang sunyi.

Lalu tanah di bawah kaki Arunika terbuka, dan ia jatuh menembus sembilan lapis awan menuju dunia di bawahnya.

Bab 2: Gadis Tanpa Nama di Desa Lereng Kabut

Ia bangun di atas tumpukan jerami yang berbau tanah basah.

Langit-langit di atasnya rendah dan miring, tersusun dari bilah-bilah bambu yang menghitam oleh asap. Di kejauhan terdengar ayam berkokok dan suara air menetes ke dalam gentong. Tubuhnya terasa seperti dibangun ulang dari tulang-tulang yang tidak cocok. Setiap gerakan menyakitkan, dan kepalanya berdenyut seperti gong yang baru dipukul.

Ia mencoba mengingat bagaimana ia bisa sampai di tempat ini, dan yang muncul hanya warna-warna: jingga, emas, putih keperakan, seperti sisa mimpi yang buyar ketika seseorang menyalakan lampu. Tangannya terasa asing ketika ia mengangkatnya ke depan mata. Jari-jarinya kurus, kuku-kukunya pendek dan kotor, dan di pergelangan kirinya, ada bekas melingkar berwarna kemerahan seperti bekas rantai yang tidak bisa ia ingat.

“Akhirnya sadar,” kata sebuah suara perempuan tua. “Kupikir kau tidak akan bangun lagi.”

Seorang nenek berwajah ramah dengan rambut putih digelung rapi duduk di samping dipannya, sedang mengaduk bubur di mangkuk tanah liat. Namanya Nyi Parmi, tabib kampung di Desa Lereng Kabut, dan ia menemukan gadis ini tergeletak di tengah ladang jagung dengan pakaian aneh dari kain yang berkilau seperti embun. Pakaian itu sudah ia sembunyikan di peti, mengira bahwa seseorang yang jatuh dari langit mungkin tidak ingin dikenali.

“Siapa namamu, Nak?”

Gadis itu membuka mulut, dan tidak ada yang keluar. Ia mengerutkan kening, mencoba menggali. Ada sesuatu di dalam kepalanya, seperti ruangan luas yang diterangi cahaya jingga, tetapi pintunya terkunci rapat. “Aku… tidak tahu.”

Nyi Parmi mengangguk seolah sudah menduganya. “Tidak apa-apa. Orang-orang yang jatuh dari tempat tinggi biasanya lupa banyak hal.” Ia menyodorkan sesendok bubur hangat. “Untuk sementara, kupanggil kau Fajar. Karena kau muncul ketika matahari baru terbit.”

Maka ia menjadi Fajar, gadis tanpa nama dan tanpa masa lalu, yang tinggal di gubuk tabib di lereng gunung yang selalu diselimuti kabut. Ia belajar mengenali hal-hal sederhana yang tidak pernah ia sadari kurang. Ia belajar bahwa perut bisa kosong, bahwa dingin bisa menggigit tulang, bahwa tangan bisa lecet jika terlalu lama menumbuk obat. Ia menangis dua hari penuh ketika pertama kali melukai jarinya dengan pisau dapur, karena darah itu terasa sangat nyata dan sangat tidak adil.

Hari-hari pertamanya dipenuhi kegagalan kecil yang memalukan. Ia menjatuhkan gentong air dan membuat tanah di dapur menjadi lumpur. Ia membakar sebakul singkong sampai hitam. Ia salah menyebut nama-nama tanaman obat hingga Nyi Parmi harus menahan tawa. Tetapi nenek itu tidak pernah menegur dengan kasar. Ia hanya berkata, “Kau tidak bodoh, Nak. Kau hanya belum terbiasa menjadi manusia.” Dan kalimat itu, tanpa Fajar mengerti mengapa, selalu membuat dadanya sesak oleh sesuatu yang mirip syukur.

Namun di antara semua hal yang menyakitkan itu, ia juga belajar tentang sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan: kehangatan sekawanan manusia kecil yang saling bergantung.

Desa itu miskin dan terpencil. Penduduknya bertani jagung dan singkong di lereng-lereng curam, dan setiap musim kemarau panjang membawa penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib mana pun. Anak-anak mati terlalu muda. Para ibu menangis di balik pintu tertutup. Dan setiap kali Fajar membantu Nyi Parmi merawat orang sakit, ia merasakan sesuatu mengalir dari tangannya sendiri, hangat dan lembut, seperti sisa cahaya yang tidak mau padam.

Para penduduk mulai memperhatikan bahwa sejak kedatangan gadis itu, kabut di lereng gunung tidak lagi menyelimuti desa sepanjang hari. Pagi-pagi, ada seberkas cahaya jingga yang menembus awan tipis dan jatuh tepat di halaman gubuk Nyi Parmi. Para ibu mulai menjemur pakaian di sana, para petani menaruh benih di tempat yang sama, dan seorang kakek buta mengaku bahwa untuk pertama kali dalam sepuluh tahun, ia bisa merasakan hangatnya fajar di wajahnya.

“Kau punya tangan yang aneh,” kata Nyi Parmi suatu hari, sambil memperhatikan demam seorang anak mereda hanya setelah Fajar menyentuh dahinya. “Orang-orang sudah mulai berbisik.”

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Itu yang membuatnya aneh.”

Pada suatu sore, ketika Fajar sedang menjemur dedaunan obat di halaman, seorang pemuda bertubuh jangkung datang membawa seikat kayu bakar di bahunya. Ia mengenakan pakaian petani sederhana, dengan caping bambu yang menutupi sebagian wajah. Tetapi ketika caping itu terangkat dan mata abu-abunya bertemu dengan mata Fajar, ada sesuatu yang bergetar di dalam dadanya, sesuatu yang ia kenal tanpa ingatan.

Giri, kata orang desa, adalah pemuda yang aneh. Ia datang entah dari mana tiga bulan sebelum Fajar ditemukan, membeli sepetak ladang kecil di ujung desa, dan menggarapnya dengan ketekunan yang tidak biasa. Ia tidak banyak bicara, tidak ikut berkumpul di warung, dan tidak pernah menjawab ketika ditanya asal-usulnya. Tetapi ia selalu hadir ketika ada yang membutuhkan tenaga, mengangkat atap yang runtuh, memperbaiki jembatan bambu yang lapuk, menggendong orang sakit menuruni lereng tanpa mengeluh sedikit pun.

“Namaku Giri,” katanya pelan. “Aku tinggal di ujung desa. Nyi Parmi memintaku mengantar kayu.”

“Terima kasih.”

Mereka berdiri canggung selama beberapa saat. Giri menaruh kayu di dekat tungku, dan sebelum pergi, ia berhenti di ambang pintu dengan punggung menghadap Fajar. “Kau tahu,” katanya tanpa menoleh, “aku merasa seperti pernah melihatmu sebelumnya.”

“Aku juga,” bisik Fajar. Dan ia sendiri terkejut mendengar jawabannya.

Bab 3: Dosa yang Bukan Miliknya

Hari-hari berlalu dengan cepat di Desa Lereng Kabut.

Fajar tumbuh menjadi bagian dari kehidupan desa. Ia membantu menumbuk padi, memasak di dapur umum, dan menemani para perempuan merajut di beranda pada sore hari. Ia belajar tertawa pada lelucon-lelucon kasar para petani tua, belajar menawar harga di pasar keliling, belajar bahwa gosip adalah mata uang yang paling cepat berputar di tempat kecil. Dan setiap sore, tanpa pernah ia rencanakan, Giri selalu muncul di dekatnya, membawa sesuatu: sekeranjang jambu, seikat bunga liar, atau sekadar bantuan memikul air.

Perlahan, ia menemukan ritme baru dalam hidupnya. Subuh ia bangun mendahului ayam, menyalakan tungku dan merebus air. Pagi ia berkeliling bersama Nyi Parmi mengunjungi pasien-pasien di rumah mereka, membawa keranjang obat dan senyum yang entah mengapa membuat orang sakit merasa lebih ringan. Siang ia menumbuk ramuan, dan sore ia duduk di beranda mendengarkan cerita-cerita yang diulang oleh para tetua. Ia tidak lagi menghitung hari. Ia hanya menjalaninya, satu per satu, seperti manik-manik yang dirajut menjadi kalung.

Mereka tidak pernah membicarakannya. Tetapi seluruh desa tahu.

“Pemuda itu jatuh cinta padamu,” kata Nyi Parmi suatu malam, sambil menumbuk jahe di lumpang. “Dan kau tidak sepenuhnya buta.”

“Aku tidak tahu siapa aku, Nyi.” Fajar menatap lantai tanah. “Bagaimana aku bisa menerima cinta seseorang jika aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas?”

“Pantas itu bukan sesuatu yang diturunkan dari masa lalu. Pantas itu sesuatu yang kau lakukan hari ini.”

Namun masa lalu tidak membiarkan Fajar mengabaikannya begitu lama.

Mimpi-mimpi itu datang pada malam purnama berikutnya. Ia melihat sebuah aula yang berkilau, sembilan singgasana emas, dan wajah-wajah yang menatapnya dengan jijik. Ia melihat gulungan emas yang dibacakan dengan suara dingin. Ia melihat rantai perak melingkar di pergelangan tangannya, dan seorang dewa muda bersandar di pilar dengan tatapan yang sunyi. Ia terbangun dengan air mata mengalir dan napas tersengal, dan di bawah kulitnya, sesuatu terbakar.

Setelah mimpi itu, ia tidak lagi bisa tidur nyenyak. Setiap malam, serpihan baru muncul: gerbang timur yang berkilau, tangan-tangannya menarik tuas raksasa dari emas, matahari yang menyambutnya dengan sinar hangat dan suara yang hanya terdengar di dalam dada. Ia menyimpan semuanya di dalam hati, takut menceritakannya pada siapa pun, takut bahwa dengan menyebutkannya, ia akan kehilangan satu-satunya kehidupan yang pernah ia kenal.

Dan saat itu, pertama kali dalam hidup barunya, ia mengingat sepotong namanya.

Arunika.

Ia berbisik nama itu dalam gelap, mencicipinya seperti rasa yang pernah ia kenal. Dan di luar gubuk, kabut yang selalu menyelimuti desa berputar pelan, seolah mendengar.

Pada malam itu juga, ia keluar dari gubuk dan berjalan sendirian ke tepi sungai. Bulan purnama tergantung penuh di langit, dan di bawah cahayanya, permukaan air tampak seperti perak cair. Ia menatap pantulan wajahnya sendiri, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di balik wajah itu: sepasang mata yang jauh lebih tua dari usianya, penuh dengan cahaya yang lama tertidur. “Aku siapa?” bisiknya pada air. Dan air itu, tentu saja, tidak menjawab. Tetapi dari kejauhan, entah dari mana, terdengar langkah kaki yang ia kenal.

Keesokan paginya, ketika ia menemukan Giri sedang membelah kayu di halaman, ia berdiri lama di ambang pintu tanpa berani mendekat. Pemuda itu meletakkan kapaknya dan menatapnya dengan tatapan khawatir. “Kau pucat sekali.”

“Giri, aku harus memberitahumu sesuatu.” Suaranya bergetar. “Aku tidak tahu siapa aku sebenarnya. Tetapi aku merasa aku bukan manusia biasa. Dan aku merasa aku membawa dosa yang tidak kupahami.”

“Dosa apa?”

“Entahlah. Tetapi seseorang percaya bahwa aku telah menyesatkan sembilan puluh sembilan jiwa.”

Giri tidak tertawa. Ia tidak mundur. Ia hanya menatapnya lama dengan mata abu-abu yang dalam, lalu berkata pelan, “Aku tahu.”

“Kau tahu?”

“Aku tahu sejak hari pertama.” Ia tersenyum getir. “Karena aku salah satu yang menyaksikan vonismu.”

Fajar memegang tiang gubuk untuk menahan lututnya yang gemetar. Berbagai perasaan berebut di dadanya: marah karena disembunyikan, takut karena kebenaran, dan di bawah semua itu, sesuatu yang lebih halus dan lebih berbahaya, yaitu kelegaan. Selama berbulan-bulan, ia merasa seperti seseorang yang hidup di dalam cerita orang lain, tanpa tahu apa peran yang harus dimainkan. Dan kini, seseorang akhirnya mengatakan bahwa ia tidak sedang gila.

Dunia seolah berhenti. Fajar mundur selangkah, tangan menutup mulutnya. Dan di hadapannya, pemuda petani sederhana itu perlahan mengangkat tangan kanannya, dan di bawah cahaya pagi, kulitnya berpendar keperakan, memperlihatkan pola-pola kuno yang hanya dimiliki satu dewa di seluruh Langit Kesembilan.

“Dirgantara,” bisik Fajar.

“Aku menyusulmu turun, Arunika.” Ia berlutut di tanah, kepalanya tertunduk. “Aku melepaskan kedudukanku, memutuskan sebagian kekuatanku, dan menjadi fana agar bisa menemukanmu. Aku tidak pernah percaya kau bersalah.”

Bab 4: Kebenaran yang Dikubur

Mereka duduk berdua di tepi sungai kecil di belakang desa, di bawah pohon jambu yang mulai berbuah. Fajar, yang kini kembali menjadi Arunika dalam bisikan dan mimpi, menggenggam lutut dengan kedua tangan sambil menatap air yang mengalir jernih. Dirgantara duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan, seperti seseorang yang tidak berhak mengambil lebih dari yang diberikan.

Sungai itu mengalir pelan, membawa daun-daun jambu yang gugur seperti perahu-perahu kecil. Di seberangnya, seekor bangau berdiri diam di antara alang-alang, mengamati mereka dengan kepala miring. Suasana begitu damai hingga sulit dipercaya bahwa di dalam percakapan ini tersimpan rahasia yang bisa mengguncang seluruh langit. Dirgantara memilih tempat itu bukan tanpa alasan. Di sini, katanya, tidak ada telinga selain air dan angin.

“Aku tidak ingat apa pun tentang langit,” katanya akhirnya. “Hanya potongan-potongan. Cahaya, gerbang, dan sebuah perasaan bahwa aku pernah dicintai oleh sesuatu yang sangat besar.”

“Matahari,” kata Dirgantara pelan. “Kau membukakan gerbang untuknya setiap pagi selama seribu dua ratus tahun. Ia memanggilmu ‘sahabat kecilnya’.”

Arunika tertawa, kecil dan tidak percaya. “Aku terdengar seperti dewi yang baik.”

“Kau memang dewi yang baik.” Ia menatapnya lurus-lurus. “Itu sebabnya aku tahu kau tidak mungkin melakukan apa yang dituduhkan padamu.”

Ia menceritakan semuanya. Tentang malam purnama yang naas, ketika Bintang Pengikat meledak dan sembilan puluh sembilan jiwa suci kehilangan jalan. Tentang penyelidikan diam-diam yang ia lakukan selama bertahun-tahun, menyelinap di antara arsip-arsip terlarang, menanyai saksi-saksi yang ketakutan. Dan tentang apa yang akhirnya ia temukan.

Dirgantara menjelaskan bahwa ia mulai curiga sejak malam sidang. Ada sesuatu yang janggal dalam cara Candra Baskara menyerahkan gulungan itu: terlalu cepat, terlalu rapi, terlalu siap. Dan ketika ia diam-diam memeriksa tinta pada gulungan tersebut, ia menemukan jejak sihir kegelapan yang samar, seperti sidik jari yang tertinggal pada kaca. Ia tidak berani langsung bertindak karena ia tahu satu gerakan salah akan membuat Candra Baskara menghilangkan seluruh bukti. Maka ia menunggu, mengumpulkan serpihan, sampai ia cukup yakin untuk meninggalkan surga.

“Gerbang itu memang dibuka pada malam itu,” katanya. “Tetapi bukan olehmu. Candra Baskara, dewa penjaga catatan, memalsukan tulisanmu dalam gulungan itu. Ia yang membuka gerbang, tiga jam lebih awal, menggunakan kunci duplikat yang ia curi dari ruang rahasia raja. Dan ia melakukannya bukan karena dendam kepadamu, melainkan karena sesuatu yang lebih besar.”

“Apa?”

“Bintang Pengikat menyimpan kekuatan yang cukup untuk meruntuhkan seluruh Langit Kesembilan. Candra Baskara ingin menghancurkannya, bukan karena ia membenci surga, tetapi karena ia sedang bersekutu dengan sesuatu dari bawah, dengan makhluk-makhluk dari Kegelapan Tanpa Dasar.” Dirgantara mengepalkan tangan. “Sembilan puluh sembilan jiwa suci itu sebenarnya bukan tersesat. Mereka dijadikan umpan. Jiwa-jiwa itu kini ditahan di suatu tempat di dunia manusia, di dalam sebuah segel kuno, sebagai kunci untuk membuka gerbang kegelapan.”

Arunika terdiam lama. Angin menggoyang daun-daun jambu, menjatuhkan satu dua buah ke rumput. “Jadi hukumanku,” katanya pelan, “mengirimku ke dunia manusia untuk menyelamatkan jiwa-jiwa itu… sebenarnya bukan hukuman.”

Ia mencoba mengingat wajah Candra Baskara dari masa lalu yang kabur. Dewa itu selalu sopan, selalu membawakan hadiah kecil pada hari-hari raya langit, selalu bertanya apakah ia lelah. Apakah semua itu kepalsuan? Ataukah ada saat-saat ketika kebaikan itu tulus, dan kegelapan baru menelan dewa itu sedikit demi sedikit? Pertanyaan itu menggantung di benaknya, dan ia sadar bahwa jawabannya, apa pun itu, tidak akan menyembuhkan rasa sakit karena dikhianati oleh seseorang yang pernah ia percayai.

“Itu rencana Candra Baskara.” Dirgantara tersenyum pahit. “Ia ingin kau berada di dunia manusia, dengan kekuatan tersegel dan ingatan terkunci, ketika segel itu terbuka. Karena hanya kau, dewi fajar, yang bisa membuka segel itu dari dalam, tanpa sadar. Ia tidak membuangmu. Ia mengumpankanmu.”

Arunika menggeleng, matanya berkaca. “Mengapa kau memberitahuku ini sekarang?”

“Karena waktunya hampir habis. Segel itu sudah mulai retak. Dan malam purnama berikutnya, tiga hari lagi, adalah kesempatan terakhir Candra Baskara.” Ia meraih tangan Arunika dengan kedua tangannya, hangat dan kasar oleh kerja ladang. “Arunika, aku tidak memintamu mempercayaiku secara buta. Tetapi aku ingin kau tahu bahwa apa pun yang terjadi, aku akan berada di sisimu.”

Arunika menatap tangan-tangan yang menggenggamnya, lalu mendongak dan memandang wajah dewa yang meninggalkan surga demi seseorang yang bahkan tidak mengingatnya. Di dadanya, sesuatu yang selama ini terkunci rapat bergetar pelan.

“Kau bodoh,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Kau meninggalkan segalanya.”

Mereka duduk dalam diam sampai matahari condong ke barat, mewarnai air sungai dengan jingga dan emas. Di sela-sela kesunyian itu, Arunika menyadari bahwa untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia manusia, ia tidak merasa sendirian. Ia mungkin belum mengingat segalanya, tetapi ia mengingat satu hal dengan jernih: tangan yang menggenggamnya sekarang adalah tangan yang tidak pernah melepaskan.

“Tidak.” Ia tersenyum, dan senyum itu seperti fajar pertama di wajahnya yang pendiam. “Aku hanya mengejar sesuatu yang sudah lama membuatku merasa hidup.”

Bab 5: Malam Segel Terbuka

Mereka menemukan segel itu di dalam gua tua di balik air terjun di puncak Gunung Kabut, tempat yang selama ini dianggap keramat oleh penduduk desa dan tidak pernah dijamah siapa pun.

Perjalanan menuju gua itu memakan waktu setengah hari, menyusuri jalur setapak yang licin oleh lumut dan dikelilingi paku-paku batu tajam. Dirgantara berjalan di depan, memeriksa setiap langkah, sementara Arunika mengikuti dengan lentera kecil dari batu bercahaya. Sepanjang jalan, mereka tidak banyak bicara. Hanya sesekali, ketika jalan menjadi terlalu curam, Dirgantara mengulurkan tangan dan Arunika menerimanya tanpa ragu, seperti sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan.

Gua itu luas dan dingin, dindingnya dihiasi ukiran-ukiran kuno yang berpendar samar. Di tengahnya, melayang di atas sebuah lingkaran batu hitam, terdapat sembilan puluh sembilan bola cahaya kecil yang berdenyut pelan, terikat dalam jaring benang hitam yang tampak hidup. Setiap bola cahaya adalah satu jiwa suci yang tersesat. Dari dekat, Arunika bisa mendengar bisikan-bisikan halus dari dalamnya: tangisan lirih, panggilan pada rumah yang tidak bisa mereka temukan.

“Mereka ketakutan,” bisiknya, dan air matanya jatuh tanpa ia sadari.

“Kita akan membebaskan mereka,” kata Dirgantara.

Ia berjalan mendekati lingkaran batu itu dan mengamati ukiran di tepinya. Huruf-hurufnya adalah bahasa kuno surgawi yang masih bisa ia baca meski ingatannya baru setengah pulih. Setiap baris adalah mantra pengikat, ditulis dengan tinta hitam yang tampaknya diambil dari sesuatu yang bukan bagian dari dunia mana pun. Ia menyentuh salah satunya, dan jari-jarinya langsung dingin, seperti menyentuh sesuatu yang menghisap kehangatan.

Namun sebelum mereka sempat melangkah, tepuk tangan pelan menggema dari kegelapan di belakang mereka.

“Luar biasa,” kata sebuah suara lembut yang Arunika kenal dari mimpi-mimpinya. “Kalian menemukan tempat ini lebih cepat dari perkiraanku.”

Candra Baskara melangkah keluar dari bayang-bayang, jubah birunya kini bernoda hitam, dan di belakangnya mengalir bayangan-bayangan pekat yang merayap seperti asap hidup. Wajahnya tidak lagi berpura-pura. Senyumnya dingin, matanya lelah dan dipenuhi sesuatu yang sudah lama membusuk.

“Aku menunggu sampai kau datang, Arunika,” katanya. “Segel ini hanya bisa dibuka oleh dewi fajar. Aku sudah mencoba berkali-kali dengan cara lain, dan gagal. Hanya cahayamu, cahaya yang diberikan dengan tulus, yang bisa menembus belenggu ini.”

“Aku tidak akan membukanya untukmu,” kata Arunika, suaranya mantap meski jantungnya berdebar.

“Tentu saja kau tidak mau. Itu sebabnya aku harus memaksamu.” Ia mengangkat tangannya, dan salah satu bayangan hitam menyambar ke arah Dirgantara, menghempasnya ke dinding gua dengan suara retakan yang mengerikan. Dewa itu jatuh terkulai, dan darah menetes dari sudut bibirnya.

“Dirga!” Arunika berlari ke arahnya, tetapi bayangan lain melilit pergelangan kakinya dan menariknya kembali. Candra Baskara menggenggam dagunya dengan kasar, memaksanya menatap bola-bola cahaya yang bergetar di udara.

“Lihat mereka,” bisiknya. “Sembilan puluh sembilan jiwa. Jika kau membuka segel ini dengan cahayamu, aku akan melepaskan mereka dan membiarkan kalian hidup. Jika tidak, aku akan membunuhnya di depan matamu, lalu membunuh mereka satu per satu.”

“Mengapa kau melakukan ini?” Air mata mengalir di pipi Arunika. “Kau pernah menjadi dewa yang baik.”

“Aku pernah menjadi dewa yang dilupakan.” Suaranya bergetar oleh kepahitan. “Selama dua ribu tahun aku mencatat nama-nama orang lain di gulungan langit tanpa pernah ada yang menuliskan namaku. Dan ketika aku mengaku cinta padamu, kau menolakku dengan kata-kata yang begitu halus hingga aku hampir tidak merasa terhina. Itu lebih menyakitkan daripada kebencian.”

Arunika menggeleng pelan. “Aku tidak menolakmu karena kau tidak layak. Aku menolakmu karena aku tidak mencintaimu.”

“Itu sama saja.”

“Aku mencintaimu dengan caraku sendiri,” lanjut Candra Baskara, suaranya semakin dingin. “Aku menunggu seratus tahun, dua ratus, tiga ratus, berharap kau akan melihatku. Tetapi kau selalu melihat melewatiku, seperti jendela yang hanya dilalui cahaya.” Ia tertawa lirih. “Dan ketika Kegelapan Tanpa Dasar mendatangiku dan menawarkan sesuatu yang tidak pernah kumiliki, yaitu perhatian, aku menerimanya. Aku tidak peduli lagi pada harganya.”

“Tidak.” Ia menatapnya lurus-lurus, dan untuk pertama kalinya, tidak ada ketakutan di matanya. “Itu tidak sama. Dan kau tahu itu.”

Di sudut gua, Dirgantara mencoba bangkit dengan tangan gemetar. Dan di dalam dada Arunika, sesuatu yang telah terkunci selama berbulan-bulan akhirnya pecah, bukan oleh paksaan Candra Baskara, tetapi oleh kemarahan dan cinta yang tak tertahankan. Cahaya jingga menyembur dari tubuhnya, menerangi seluruh gua seperti fajar yang meledak dari dalam bumi.

“Arunika, jangan…” Suaranya serak, terputus oleh batuk darah. “Jangan lakukan karena aku. Lakukan karena kau percaya.”

Arunika menoleh padanya, dan di dalam kekacauan itu, ia teringat pada semua yang telah ia pelajari. Tentang bubur hangat yang menjadi anugerah, tentang tangan Nyi Parmi yang tidak pernah menghakimi, tentang desa kecil yang mengajarinya bahwa keberanian kadang hanya berarti tetap bangun esok hari. Ia menyadari bahwa cahaya yang diminta Candra Baskara adalah cahaya yang dipaksa, dan cahaya yang dipaksa tidak pernah berhasil menerangi apa pun. Tetapi cahaya yang lahir dari kasih, itu lain ceritanya.

Bab 6: Fajar di Langit Kesembilan

Cahaya itu bukan lagi cahaya yang diminta Candra Baskara.

Ia menyembur dari tubuh Arunika dengan arah yang tidak bisa dikendalikan, menyapu bayangan-bayangan hitam seperti api membakar kertas, menghancurkan jaring benang yang melilit bola-bola cahaya di tengah gua. Candra Baskara menjerit dan mundur, mengangkat lengan untuk melindungi matanya, tetapi bayangan di belakangnya sudah meleleh, menguap menjadi asap abu-abu yang menghilang di udara.

Satu per satu, sembilan puluh sembilan bola cahaya terlepas dari belenggunya. Mereka berputar di udara gua, berpendar keemasan, lalu melesat naik menembus langit-langit batu seperti anak panah yang akhirnya menemukan sasaran. Dan di tempat mereka melintas, batu-batu mencair menjadi cahaya, membuka jalan lurus menuju langit.

Candra Baskara jatuh berlutut di tengah gua yang kini terang benderang, jubah birunya compang-camping dan wajahnya basah oleh sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi. “Kau tidak mengerti,” katanya terbata. “Aku hanya ingin diingat.”

Arunika melangkah mendekat. Cahaya di tubuhnya sudah mereda menjadi nyala lembut yang hangat. Ia berlutut di hadapannya dan menatapnya tanpa kebencian. “Aku mengingatmu,” katanya pelan. “Aku mengingat dewa yang dulu membawakan embun di kelopak bunga untukku ketika aku kelelahan membuka gerbang. Aku mengingatnya, Candra. Tetapi ia sudah memilih menjadi orang lain.”

Candra Baskara menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya dalam dua ribu tahun, ia menangis dengan suara yang bukan suara dewa.

Ketika para penjaga langit akhirnya tiba, dipanggil oleh sembilan puluh sembilan jiwa yang naik kembali ke surga dan menyampaikan kebenaran dengan cahaya mereka sendiri, mereka menemukan pemandangan yang tidak pernah mereka duga. Seorang dewi duduk bersimpuh di lantai gua, memeluk kepala seorang dewa yang terluka di pangkuannya, sementara seorang dewa lain yang telah jatuh ke dalam kegelapan menunduk dengan tangan terikat, tidak melawan.

Raja Langit Mahatara turun sendiri ke dunia manusia pada hari ketiga. Ia berdiri di hadapan Arunika dengan wajah yang tidak lagi dingin, dan untuk pertama kalinya seorang raja langit menundukkan kepalanya di hadapan seorang dewi yang pernah ia hukum.

Di hadapan Arunika, sang raja melepaskan mahkotanya dan meletakkannya di atas batu, sesuatu yang tidak pernah dilakukan seorang penguasa langit di hadapan siapa pun. Para dewa pengiringnya terkesiap, tetapi tidak ada yang berani menegur. Dalam keheningan itu, Mahatara tampak jauh lebih tua dari sepuluh ribu tahun usianya, seperti sesuatu yang selama ini ditopang oleh keangkuhan dan kini runtuh perlahan.

“Aku bersalah,” katanya, suaranya berat. “Aku memercayai catatan di atas hati yang sudah kuketahui selama seribu tahun. Itu dosa seorang penguasa yang lebih mencintai kepastian daripada kebenaran.”

“Hamba tidak membutuhkan permintaan maaf, Yang Mulia,” jawab Arunika pelan. “Hamba hanya ingin satu hal.”

“Sebutkan.”

“Jiwa-jiwa itu pulang. Dan Candra Baskara diadili dengan adil, bukan dengan kebencian.”

Raja Langit mengangguk dalam, dan sejak hari itu, hukum langit mengalami perubahan yang tidak pernah terjadi selama ribuan tahun: setiap catatan harus diverifikasi oleh dua saksi, dan setiap terdakwa berhak didengar tanpa belenggu.

Arunika dipulihkan kedudukannya sebagai dewi fajar. Ia mendapatkan kembali seluruh ingatannya, setiap sinar, setiap gerbang, setiap sapaan lembut dari matahari yang menyebutnya sahabat kecil. Tetapi pada hari ia diminta kembali ke Langit Kesembilan, ia berdiri di tepi desa kecil di lereng gunung, memandangi gubuk bambu Nyi Parmi, dan memutuskan sesuatu.

“Aku akan kembali,” katanya pada Dirgantara, yang kini juga pulih sebagai dewa perbatasan. “Tetapi tidak sepenuhnya.”

“Maksudmu?”

“Setiap fajar, aku akan membuka gerbang di timur seperti biasa. Tetapi setiap senja, aku akan turun ke sini. Ke desa ini. Aku ingin tetap menjadi gadis yang pernah belajar bahwa darah bisa terasa tidak adil, dan bahwa bubur hangat bisa menjadi anugerah paling besar di dunia.” Ia tersenyum, matanya berkaca. “Dan aku ingin tetap menjadi seseorang yang dicintai oleh pemuda yang meninggalkan surga hanya untuk mencarinya.”

Dirgantara terdiam beberapa saat, lalu tertawa, tawa yang pecah dan lepas, tawa yang belum pernah Arunika dengar darinya selama seribu tahun. “Itu perjanjian yang tidak masuk akal bagi seorang dewa.”

“Itu satu-satunya hal yang masuk akal bagiku.”

Dan begitulah mereka menjalaninya. Setiap fajar, Desa Lereng Kabut dibangunkan oleh cahaya jingga yang jatuh lebih lembut dari tempat lain mana pun, seolah matahari sendiri sedang tersenyum. Para petani bersumpah bahwa jagung mereka tumbuh lebih manis, bahwa penyakit-penyakit berhenti berkunjung, bahwa di tepi jalan setapak yang menuju gunung, selalu ada dua sosok yang berjalan bergandengan tangan pada waktu senja, seorang gadis berambut jingga dan seorang pemuda bermata abu-abu.

Dan di Langit Kesembilan, di dinding Aula Cahaya, dipahatkan sebuah kalimat baru oleh tangan raja sendiri, agar semua dewa yang masuk ke sana selalu mengingatnya:

Penebusan sejati bukan untuk mereka yang bersalah, melainkan untuk mereka yang tetap menyalakan cahaya meski dihukum oleh gelap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *