Novel misteri dipadukan dengan nuansa petualangan akan menemanimu kali ini. baca dengan runut agar kisah dalam novel online gratis ini bisa dimaknai. selamat menikmati.
Bab 1: Sumpah di Bawah Pohon Persik
Pada zaman ketika Kerajaan Karangsari masih berdiri di antara dua sungai besar, di halaman belakang istana tumbuh sebatang pohon persik yang usianya lebih tua daripada raja pertama. Tidak ada yang pernah menanamnya. Para pujangga bercerita bahwa pohon itu tumbuh dari setetes air mata seorang dewi yang jatuh ke bumi, dan karena itulah bunganya tidak pernah mekar sembarangan. Ia hanya berbunga ketika ada dua hati yang benar-benar saling mengenal.
Seruni, putri bungsu raja, sering menghabiskan sore di bawah pohon itu. Usianya baru delapan belas tahun, dan hidupnya terasa seperti sangkar emas yang pintunya dikunci dari luar. Ia diajari menari, menyulam, dan menyusun kalimat sopan, tetapi tidak pernah diajari apa yang harus dilakukan ketika hatinya berdebar tanpa alasan. Maka ia membawa gulungan puisi ke bawah pohon persik, membacanya keras-keras kepada dahan-dahan yang diam, dan berharap suatu hari pohon itu akan menjawab.
Pohon itu tidak pernah menjawab. Tetapi suatu sore di awal musim semi, seseorang melakukannya.
“Puisimu bagus,” kata sebuah suara dari balik batang pohon, “tetapi kau salah membaca baris ketiga. Seharusnya nadanya turun, bukan naik.”
Seruni terlonjak, hampir menjatuhkan gulungannya. Dari balik batang yang kasar muncul seorang pemuda berbaju prajurit, berambut hitam yang diikat asal-asalan, dengan bekas luka tipis di alis kirinya dan senyum yang tidak terlihat bersalah sama sekali. Ia berlutut dengan hormat yang dibuat-buat, jelas lebih untuk bergurau daripada untuk memberi hormat.
“Siapa yang mengizinkanmu masuk ke taman ini?” tanya Seruni, berusaha terdengar galak.
“Tidak ada. Itu sebabnya aku bersembunyi.” Ia mengangkat bahu. “Namaku Arya. Aku panglima muda di pasukan perbatasan. Aku datang melapor pada ayahmu tadi pagi, dan salah belok menuju taman ini. Kemudian aku mendengarmu membaca puisi pada sebatang pohon, dan menganggapnya jauh lebih menarik daripada laporan perbatasan.”
Seruni seharusnya marah. Seorang putri raja tidak boleh bercakap dengan prajurit tanpa pendamping. Tetapi ia justru tertawa, tawa yang sudah lama tidak ia keluarkan, tawa yang membuat burung-burung di dahan terbang kaget. Dan Arya, yang mendengarnya, merasa dadanya seperti dihantam sesuatu yang lembut.
Begitulah awalnya. Sore demi sore, Arya menemukan alasan untuk salah belok. Ia membawa cerita dari perbatasan, tentang gunung yang berkabut, tentang sungai yang bernyanyi pada malam hari, tentang prajurit tua yang selalu menangis ketika mendengar seruling. Seruni mendengarkan dengan mata yang berbinar. Ia membalasnya dengan puisi-puisi baru yang kali ini ia bacakan dengan nada turun di baris ketiga, dan Arya akan tersenyum seolah baru saja memenangkan perang.
Ketika musim semi mencapai puncaknya, pohon persik yang sudah mati suri selama bertahun-tahun mulai menumbuhkan kuncup. Para tukang kebun tercengang. Mereka menyebutnya pertanda baik, lalu tanpa sadar berbisik bahwa mungkin sang putri sedang jatuh cinta.
Pada suatu malam purnama, ketika bunga-bunga persik mekar sepenuhnya dan kelopaknya turun pelan seperti salju merah muda, Arya menggenggam tangan Seruni untuk pertama kalinya.
“Aku tidak punya emas,” katanya, suaranya serak dan tidak lagi bergurau. “Aku tidak punya gelar, dan ayahmu pasti akan menertawakanku jika aku meminta restunya. Tetapi aku punya satu hal. Aku punya kesetiaan yang tidak mengenal ujung.”
“Aku tidak membutuhkan emas,” jawab Seruni pelan, matanya berkaca-kaca. “Aku hanya ingin seseorang yang tidak takut mendengar puisiku.”
Mereka berlutut berhadapan di bawah pohon itu, dikelilingi kelopak yang berguguran. Arya memetik setangkai bunga persik dan menyelipkannya di rambut Seruni. “Jika kita tidak bisa bersatu di kehidupan ini,” katanya, “aku bersumpah akan mencarimu di kehidupan berikutnya. Dan berikutnya lagi, sampai kita benar-benar bisa bersama.”
“Aku bersumpah juga,” bisik Seruni. “Di bawah pohon ini, di hadapan siapa pun yang mendengarkan.”
Angin berembus lembut. Pohon persik bergetar, dan satu kelopak jatuh tepat di antara telapak tangan mereka yang saling menggenggam. Mereka tidak tahu bahwa sumpah yang diucapkan di bawah pohon yang diciptakan dari air mata seorang dewi memiliki bobot yang tidak dimiliki sumpah-sumpah lain. Mereka tidak tahu bahwa ada sesuatu yang mendengar, dan mencatat setiap kata.
Namun kebahagiaan di Karangsari tidak pernah berlangsung lama. Tiga bulan kemudian, pasukan dari seberang sungai menyeberangi perbatasan dengan ribuan prajurit dan ribuan obor. Arya dipanggil kembali ke garis depan pada malam yang sama ketika kabar itu tiba. Ia hanya sempat berlari ke taman, napasnya terengah, baju zirahnya masih belum terpasang sepenuhnya.
“Tunggu aku,” katanya, menekan sesuatu ke telapak tangan Seruni. Sebuah liontin kayu kecil, berbentuk bunga persik, yang ia ukir sendiri dengan pisau saku selama berminggu-minggu. “Aku akan kembali sebelum bunga persik berikutnya mekar.”
Seruni memeluknya erat, lebih erat dari yang diperbolehkan tata krama istana mana pun. “Janji?”
“Janji.”
Ia berlari pergi menembus malam. Seruni berdiri di bawah pohon persik sampai langkahnya lenyap, menggenggam liontin kayu itu begitu erat hingga ukirannya meninggalkan garis di kulitnya. Di atas kepalanya, kelopak-kelopak persik masih berguguran, merah muda dan lembut, seperti hujan yang tidak tahu bahwa musim sudah berganti.
Bab 2: Layu yang Pertama
Musim semi berikutnya datang, dan pohon persik itu tidak berbunga.
Seruni menunggu di bawahnya setiap hari. Ia membawa kain sulam dan gulungan puisi, tetapi lebih sering hanya duduk memandangi jalan dari gerbang istana, berharap melihat sosok berambut hitam yang diikat asal-asalan berlari ke arahnya. Para dayang menasihatinya untuk berhenti. Ayahnya, sang raja, mulai membicarakan pinangan dari kerajaan tetangga. Tetapi Seruni hanya menggeleng pelan dan terus menunggu.
Berita dari medan perang datang berkeping-keping. Mula-mula kabar kemenangan di tepi sungai. Lalu kabar kekalahan di lembah. Lalu kabar bahwa pasukan perbatasan terkepung di bukit batu, dan tidak ada yang tahu siapa yang masih hidup.
Setiap malam Seruni menyalakan sebuah lentera kecil dan meletakkannya di bawah pohon persik, seperti yang dilakukan para penduduk desa untuk arwah yang tersesat. Ia tidak berani menyebut dirinya sedang berduka, karena berduka berarti mengakui bahwa penantian itu sia-sia. Ia hanya berkata pada para dayang bahwa ia sedang menjaga api, dan mereka, yang mencintainya, pura-pura mempercayainya.
Pada hari ketika kuncup-kuncup yang seharusnya mekar justru mengering dan jatuh satu per satu, seorang kurir kerajaan tiba dengan kuda yang kelelahan dan wajah yang tidak berani menatap sang putri. Ia membawa sesuatu yang dibungkus kain hitam: sehelai ikat kepala yang robek dan berlumur darah. Di salah satu ujungnya, terjahit dengan benang kasar, tersulam sekuntum bunga persik kecil.
Seruni tidak menangis. Ia hanya menerima kain itu dengan kedua tangan, melipatnya dengan hati-hati, lalu berjalan ke taman. Di sana, di bawah pohon yang telah menjadi saksi sumpahnya, ia duduk dan memandangi dahan-dahan yang kering seperti tangan yang meraih sesuatu yang tidak pernah kembali.
“Kau sudah mendengar semuanya, bukan?” bisiknya kepada pohon itu. “Kau yang mendengar sumpah kami. Katakan padaku, apakah itu tidak berarti apa-apa?”
Angin berhenti. Dan dari balik batang pohon, di tempat Arya pernah bersembunyi, muncul seorang perempuan yang tidak pernah Seruni lihat sebelumnya.
Ia mengenakan jubah merah muda pucat yang tampak terbuat dari kelopak bunga, dan rambutnya hitam panjang, dihiasi bunga persik yang tidak pernah layu. Wajahnya tidak muda dan tidak tua, seperti wajah seseorang yang sudah menyaksikan terlalu banyak musim semi untuk dihitung. Matanya lembut, tetapi ada kesedihan kuno di dalamnya.
“Aku mendengar setiap kata,” katanya. Suaranya seperti daun yang bergesekan. “Namaku Nyai Taoyuan, penjaga pohon ini. Dan sumpah yang kalian ucapkan terlalu berat untuk satu kehidupan.”
Seruni tidak bergerak. Ia sudah terlalu lelah untuk merasa takut. “Apa maksudmu?”
“Sumpah di bawah pohon ini bukan sekadar kata. Ia mengikat jiwa. Kalian berjanji akan saling mencari sampai benar-benar bersatu, dan pohon ini, yang tumbuh dari air mata seseorang yang pernah gagal mencintai, tidak bisa mengabaikannya.” Nyai Taoyuan berlutut di hadapan sang putri, menyentuh pipinya dengan jari yang dingin dan harum. “Aku akan memberi kalian tiga kehidupan. Tiga kesempatan untuk menepati janji itu. Namun aturannya sederhana dan kejam: di setiap kehidupan, kalian akan lahir tanpa ingatan, dan harus menemukan satu sama lain dari awal.”
“Dan jika kami gagal?”
“Jika gagal di ketiga kehidupan itu, sumpah akan putus. Jiwa kalian akan terlepas dan kembali menjadi debu, tidak lagi mengenal satu sama lain selamanya.” Ia tersenyum sedih. “Itu bukan hukuman. Itu belas kasihan. Karena jiwa yang gagal tiga kali tidak seharusnya terus menderita.”
Seruni memejamkan mata. Di balik kelopaknya, ia melihat Arya tertawa, Arya berlutut, Arya berlari menembus malam. “Aku menerimanya,” katanya pelan. “Berapa pun harganya.”
“Harganya adalah ingatanmu,” kata Nyai Taoyuan. “Kau akan melupakan segalanya.”
“Jika aku melupakannya, bagaimana aku akan mengenalinya?”
“Itulah yang harus kalian temukan sendiri.” Nyai Taoyuan mengulurkan sebuah cawan porselen kecil, berisi cairan bening yang beriak dengan sendirinya. “Minumlah. Dan ketika kau bangun di kehidupan berikutnya, pohon ini akan menunggu.”
Seruni menatap cawan itu lama. Ia teringat liontin kayu yang masih tergenggam di tangannya, teringat suara Arya yang berkata tunggu aku. Ia ingin menolak, ingin mempertahankan setiap kenangan sampai napas terakhirnya. Tetapi ia juga tahu bahwa ingatan yang terlalu perih akan membunuhnya lebih dulu.
Ia meminum cairan itu sampai habis. Rasanya seperti embun, seperti hujan pertama di musim semi, seperti sesuatu yang terlalu lembut untuk menjadi racun. Dan ketika kegelapan datang, ia merasa ada sesuatu yang tersangkut di sudut hatinya, sehelai kelopak kecil yang tidak mau lepas, meski seluruh dunia ingin menghapusnya.
Di bawah pohon persik, Seruni jatuh tertidur. Ia tidak pernah terbangun sebagai putri Karangsari lagi.
Dan di suatu tempat yang jauh, di bukit batu tempat pasukan perbatasan gugur, seorang panglima muda menghembuskan napas terakhir dengan nama seorang putri di bibirnya. Cairan bening yang sama menyentuh lidahnya dalam mimpi, dan dunia pun gelap.
Pohon persik di taman istana layu sepenuhnya malam itu. Tetapi di antara akar-akarnya yang kering, tersembunyi dari mata siapa pun, tumbuh satu kuncup kecil yang menolak mati.
Bab 3: Pelabuhan Tirtamas
Dua ratus tahun berlalu.
Karangsari telah menjadi reruntuhan yang ditumbuhi lumut, dan di tempatnya berdiri kota pelabuhan Tirtamas yang riuh oleh teriakan pedagang, dentang lonceng kapal, dan bau garam yang menempel di setiap dinding. Di sebuah kedai tua di tepi dermaga, yang halaman belakangnya masih ditumbuhi sebatang pohon persik tua, bekerja seorang gadis penyanyi bernama Laras.
Ia tidak tahu mengapa ia selalu merasa sedang mencari sesuatu. Setiap malam ia menyanyikan lagu-lagu rakyat di hadapan para pelaut yang mabuk, dan setiap malam pula, di tengah lagu, matanya menyapu pintu masuk seolah menunggu seseorang yang tidak pernah datang. Pemilik kedai menyebutnya sentimental. Laras sendiri menyebutnya kebiasaan.
Pada suatu malam badai, seorang pelaut muda memasuki kedai dengan jaket basah kuyup dan senyum yang entah mengapa terasa seperti sesuatu yang pernah ia lihat dalam mimpi. Namanya Dirga. Ia kapten sebuah kapal dagang kecil yang baru berlabuh setelah tiga bulan berlayar. Ketika ia mendengar Laras bernyanyi, ia berhenti di ambang pintu, melupakan hujan yang menetes dari rambutnya.
“Lagu itu,” katanya setelah Laras selesai. “Dari mana kau mempelajarinya?”
“Tidak tahu.” Laras mengangkat bahu. “Aku sudah menyanyikannya sejak kecil. Mungkin aku mendengarnya dari ibuku.”
“Aku juga mengenalnya. Padahal tidak ada seorang pun yang pernah mengajarkannya padaku.” Dirga duduk di bangku dekat panggung, memandangi gadis itu dengan tatapan yang membuat pipinya hangat. “Aneh, bukan? Seolah-olah kita sudah saling mengenal.”
Mereka berbicara sampai kedai kosong dan lampu minyak mulai redup. Mereka tertawa tentang hal-hal bodoh, mengeluhkan makanan yang selalu terlalu asin, menebak-nebak mengapa laut selalu terdengar seperti seseorang yang berbisik. Untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, Laras merasa dadanya tidak lagi kosong.
Keesokan harinya, Dirga datang lagi sebelum matahari terbenam, membawa sekantong jeruk dari pelabuhan seberang yang ia curi dari muatan kapalnya sendiri. Laras berpura-pura marah, lalu menghabiskan tiga buah dalam satu duduk. Mereka berjalan menyusuri dermaga sambil saling melempar kulit jeruk ke arah burung camar, dan ketika seorang nelayan tua menegur mereka karena membuat kegaduhan, keduanya berlari sambil tertawa seperti dua anak kecil. Di ujung dermaga, Dirga berhenti dan menatap laut yang memerah. “Aku sudah menjelajahi sembilan pelabuhan,” katanya, “dan baru kali ini aku tidak ingin berlayar ke mana-mana.”
Mereka jatuh cinta dengan cara yang cepat dan alami, seperti dua arus yang akhirnya bertemu di muara. Dirga menunda pelayarannya satu minggu, lalu dua minggu, lalu satu bulan. Laras meninggalkan kedai di siang hari untuk menemaninya berjalan di tepi dermaga, di bawah langit yang selalu tampak seperti akan hujan. Pada suatu sore, mereka duduk di bawah pohon persik tua di halaman belakang kedai, dan Dirga memetik setangkai bunga yang baru mekar.
“Aku tidak tahu mengapa,” katanya sambil menyelipkan bunga itu di rambut Laras, “tetapi aku merasa aku pernah melakukan ini sebelumnya.”
Laras menyentuh bunga itu dengan ujung jari. Ada sesuatu di dalam dadanya yang bergetar, seperti ingatan yang hampir tiba di permukaan tetapi tenggelam kembali setiap kali ia mencoba meraihnya. “Aku juga,” bisiknya.
Namun cinta mereka diuji oleh sesuatu yang lebih kejam daripada perang: kesalahpahaman. Seorang saudagar licik yang menginginkan kapal Dirga menyebarkan kabar bahwa Laras telah menerima uang untuk menjebaknya. Surat-surat palsu beredar. Pesan-pesan dibelokkan. Dan pada malam sebelum Dirga hendak melamar, sepucuk surat dari seseorang yang meniru tulisan Laras sampai ke tangannya, berisi kata-kata yang menghancurkan: Aku tidak pernah mencintaimu. Pergilah.
Dirga tidak bertanya. Harga dirinya terlalu terluka, ketakutannya terlalu besar. Pagi berikutnya, kapalnya berlayar tanpa pamit, meninggalkan Laras yang berlari di dermaga dengan gaun setengah terpasang, berteriak memanggil nama yang sudah menjauh di balik kabut.
Di atas geladak, di tengah laut yang kelabu, ia membaca surat itu berulang-ulang sampai kertasnya lembek dan tintanya meleleh oleh air laut. Ia mencoba membencinya, tetapi kebencian ternyata lebih sulit daripada yang dikatakan orang. Setiap kali ia memejamkan mata, yang muncul bukan wajah seorang penipu, melainkan seorang gadis yang bernyanyi dengan mata menyapu pintu, menunggu seseorang yang belum tiba.
Ia menunggu selama bertahun-tahun. Pohon persik di halaman kedai berbunga setiap musim semi, dan setiap kali itu terjadi, Laras akan duduk di bawahnya dengan lagu yang tidak pernah selesai di bibirnya. Dirga tidak pernah kembali. Kapalnya, kata orang, tenggelam dihantam badai di selat selatan, dua tahun setelah ia pergi.
Laras meninggal pada usia lima puluh tahun, sendirian, di kamar kecil di atas kedai itu. Pada malam terakhirnya, ia bermimpi tentang seorang pemuda yang berlutut di bawah pohon persik. Ia tersenyum dalam tidur, tanpa tahu mengapa air matanya mengalir.
Dan di bawah pohon persik tua di halaman kedai, seorang perempuan berjubah merah muda pucat berdiri menyaksikan, wajahnya sendu.
“Dua kali,” bisik Nyai Taoyuan. “Tinggal satu kesempatan.”
Bab 4: Yang Bangun dengan Ingatan
Raka berusia tujuh tahun ketika ia mulai bermimpi tentang pohon persik.
Awalnya ia mengira itu hanya mimpi biasa, seperti mimpi tentang terbang atau jatuh. Tetapi mimpi itu datang setiap malam, selalu sama: seorang perempuan berlutut di bawah pohon yang berbunga, rambutnya dihiasi kelopak merah muda, tersenyum padanya dengan cara yang membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat. Dan setiap pagi, ia bangun dengan air mata di pipi.
Ibunya mengira ia sakit. Dokter mengatakan bahwa anak-anak sering mengalami mimpi yang jelas. Tetapi pada suatu sore ketika ia duduk sendirian di halaman belakang rumah neneknya, memandangi tanah kosong di dekat pagar, semuanya runtuh sekaligus. Ingatan datang seperti banjir yang akhirnya menjebol bendungan.
Ia mengingat Karangsari. Ia mengingat bau darah di bukit batu, dan nama yang ia sebut di napas terakhirnya. Ia mengingat dermaga Tirtamas, surat palsu itu, dan kapal yang tenggelam di selat selatan sementara ia memanggil nama yang tidak lagi bisa menjawab. Tiga puluh tahun hidupnya sebagai Arya. Empat puluh tahun sebagai Dirga. Dan bocah tujuh tahun bernama Raka yang gemetar di halaman belakang, memeluk lututnya, menangis dengan suara yang bukan suara anak-anak.
Tidak seorang pun akan mempercayainya, jadi ia tidak mengatakannya pada siapa pun. Ia tumbuh menjadi anak yang pendiam, dengan mata yang tampak terlalu tua untuk wajahnya. Ia belajar dengan tekun, bukan karena ambisi, tetapi karena ia tahu ia membutuhkan sesuatu untuk mengisi waktu penantian. Sebab di dalam hatinya, ia membawa satu pertanyaan yang tidak pernah berhenti menggema: apakah kali ini aku bisa menemukannya sebelum terlambat?
Ia bekerja sebagai arsitek restorasi, pekerjaan yang membuatnya sering berurusan dengan bangunan tua dan peta kota-kota yang sudah hilang. Rekan-rekannya mengagumi ketelitiannya yang aneh, caranya menebak lokasi fondasi lama hanya dengan menyentuh dinding. Mereka tidak tahu bahwa ia sedang mencari satu halaman yang hilang dari buku yang jauh lebih tua, dan bahwa setiap reruntuhan yang ia gali adalah doa yang belum terjawab.
Dua puluh tahun ia mencari. Ia berkeliling dari kota ke kota, memandangi wajah-wajah perempuan di jalanan, di stasiun, di toko buku. Ia belajar bahwa jiwa yang sama bisa memiliki wajah yang berbeda, bahwa mata bisa berubah tetapi tatapan tetap sama. Ia pernah salah mengira seseorang, sekali, dan merasakan malu yang begitu dalam hingga ia hampir berhenti.
Pada tahun kedua puluh delapan hidupnya, ia menemukannya.
Perempuan itu duduk di kafe kecil di sudut jalan, sendirian, dengan buku sketsa terbuka di hadapannya. Rambut hitamnya diikat sederhana, dan jarinya yang ramping bergerak lincah di atas kertas, menggambar sesuatu yang tidak bisa Raka lihat dari tempatnya berdiri. Namanya Kirana, ia belajar kemudian. Ia seorang ilustrator lepas, yang tinggal sendirian di apartemen kecil di dekat taman kota.
Raka berdiri di ambang pintu kafe selama hampir sepuluh menit, tidak mampu bergerak. Tubuhnya gemetar, dan napasnya tersangkut di tenggorokan seperti ia baru saja berlari melintasi tiga kehidupan. Ketika perempuan itu mengangkat kepala dan tatapan mereka bertemu, ia melihat sesuatu berkilat di mata Kirana, sesaat saja, seperti kilat di kejauhan.
Lalu kilat itu padam, dan Kirana hanya tersenyum sopan pada orang asing.
Ia tidak ingat. Tentu saja ia tidak ingat. Raka sudah tahu bahwa itu akan terjadi, dan tetap saja rasanya seperti ditikam di tempat yang paling lemah.
Ia duduk di meja di sebelahnya, memesan kopi yang tidak ia inginkan, dan memutuskan sesuatu dengan kesadaran yang dingin dan sangat jernih. Ia tidak akan menceritakan apa pun. Tidak akan menyebutkan Karangsari, tidak akan membahas Tirtamas. Ia tidak akan menjadi hantu dari masa lalu yang menyeret seseorang kembali ke rasa sakit yang telah dihapus.
Malam itu ia pulang dengan langkah yang aneh, ringan dan berat sekaligus. Di apartemennya yang sepi, ia membuka laci dan mengeluarkan sebuah liontin kayu kecil berbentuk bunga persik yang ukirannya sudah aus dimakan zaman. Entah bagaimana benda itu selalu ada di tangannya setiap kali ia lahir kembali, seperti kenang-kenangan dari seseorang yang tidak mau dilupakan. Ia menggenggamnya sampai tertidur, dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak bermimpi tentang kehilangan.
Ia akan membiarkan Kirana mengenalnya sebagai orang baru. Ia akan menjadi seseorang yang bisa dicintai tanpa beban sumpah. Dan jika perempuan itu mengingat dengan sendirinya, itu akan menjadi keajaiban. Jika tidak, ia akan belajar mencintainya sekali lagi dari awal.
“Gambarmu bagus,” katanya akhirnya, dengan suara yang ia usahakan terdengar biasa saja.
Kirana mendongak, sedikit terkejut. “Terima kasih. Kau bahkan belum melihatnya.”
“Aku bisa melihat caramu menggambar. Itu sudah cukup.”
Dan Kirana tertawa. Tawa yang sama, persis tawa yang pernah mengejutkan burung-burung di taman istana Karangsari. Raka menggenggam cangkir kopinya sampai buku-buku jarinya memutih, dan memaksa dirinya untuk tidak menangis di tempat umum.
Bab 5: Cinta yang Tak Boleh Dipaksa
Mereka bertemu lagi pada hari Selasa berikutnya, kemudian Kamis, lalu hampir setiap hari. Raka tidak merencanakannya. Ia hanya tahu bahwa tubuhnya selalu menemukan jalan ke kafe itu, seperti sungai yang menemukan laut.
Kirana ternyata seseorang yang jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan. Ia pemarah ketika terburu-buru, pelupa ketika sedang menggambar, dan keras kepala dalam hal-hal kecil seperti cara menyeduh teh. Ia tertawa dengan seluruh wajahnya, dan menangis dengan diam. Ia memelihara tiga tanaman pot yang selalu hampir mati, dan memberi mereka nama-nama konyol. Dan setiap kali ia tersenyum, Raka merasa seperti sedang melihat seluruh abad di balik matanya.
Mereka menjadi kebiasaan satu sama lain dengan cara yang tidak disadari keduanya. Raka belajar bahwa Kirana tidak bisa menggambar dalam keheningan total, jadi ia membawa radio tua dan memutar lagu-lagu lawas pelan-pelan di sudut meja. Kirana belajar bahwa Raka selalu memesan kopi tanpa gula tetapi diam-diam menambahkan sesendok madu ketika mengira tidak ada yang melihat. Pada suatu hujan deras, mereka terjebak di teras toko buku dan menghabiskan dua jam berbagi satu payung yang bocor sambil mendebatkan akhir sebuah novel. Itu bukan percakapan besar, bukan adegan dari dongeng. Tetapi Raka tahu, dengan kejernihan yang menyakitkan, bahwa inilah yang tidak pernah mereka miliki di dua kehidupan sebelumnya: hari-hari biasa yang tidak diburu waktu.
Namun ada satu hal yang selalu menghantuinya. Kirana sering bermimpi.
“Aku bermimpi tentang pohon,” katanya suatu malam, ketika mereka berjalan pulang di bawah lampu jalan yang berpendar kuning. “Pohon dengan bunga merah muda. Dan seseorang menungguku di bawahnya, tetapi aku tidak pernah bisa melihat wajahnya.” Ia tertawa kecil, menggeleng. “Aneh, ya? Aku bahkan tidak suka bunga persik.”
Raka merasa jantungnya berhenti. “Persik?”
“Aku tidak tahu mengapa aku menyebutnya begitu. Terdengar seperti itu saja di kepalaku.”
Ia hampir mengatakan semuanya malam itu. Kata-kata sudah berada di ujung lidahnya, siap meledak seperti bendungan yang retak. Tetapi ia teringat aturan Nyai Taoyuan yang samar-samar masih menggema dalam ingatannya, bahwa sesuatu yang dipaksakan akan layu lebih cepat daripada yang dibiarkan tumbuh. Maka ia menelan semuanya kembali, dan hanya berkata pelan, “Mungkin itu pertanda.”
“Pertanda apa?”
“Entahlah. Mungkin kau memang sedang mencari sesuatu.”
Kirana memandanginya lama, dengan tatapan yang membuat Raka hampir lupa bernapas. “Atau seseorang,” katanya akhirnya, lirih.
Raka tidak berani menjawab. Ia hanya menyodorkan payungnya yang lebih besar ke arah Kirana, membiarkan bahunya sendiri basah. Di bawah lampu jalan yang berpendar, mereka berjalan berdampingan tanpa bicara, dan keheningan itu terasa seperti sebuah janji yang tidak membutuhkan kata. Dari kejauhan terdengar seorang pengamen memainkan lagu yang entah mengapa terasa sangat akrab bagi keduanya, dan mereka berhenti serentak, saling menatap, lalu tertawa gugup seperti dua orang yang tertangkap basah.
Musim semi tiba. Di halaman rumah sakit tua di dekat apartemen Kirana, yang kebetulan berdiri di atas tanah bekas dermaga Tirtamas, Raka menemukan sebatang pohon persik tua yang batangnya miring dan dahannya hampir kering. Ia tahu seketika bahwa itu pohon yang sama. Ia berdiri di hadapannya seperti seseorang yang bertemu kembali dengan sahabat lama yang sedang sekarat.
Pohon itu hanya memiliki satu kuncup, kecil dan pucat di ujung dahan paling atas.
“Kau datang juga,” kata sebuah suara di belakangnya.
Nyai Taoyuan berdiri di sana, jubah merah mudanya tampak lebih pudar dari yang ia ingat. “Ini kesempatan terakhir kalian. Jika pohon ini mati sebelum kuncupnya mekar, sumpah itu akan putus selamanya.”
“Aku tahu,” kata Raka. “Apa yang harus kulakukan?”
“Kau tahu apa yang harus dilakukan. Kau sudah menjalani tiga kehidupan untuk mempelajarinya.”
“Aku tidak bisa memaksa ingatannya kembali.”
“Tidak.” Nyai Taoyuan tersenyum, dan untuk pertama kalinya senyum itu tidak sedih. “Di dua kehidupan sebelumnya, kalian gagal karena kalian mencintai masa lalu, bukan satu sama lain. Kau mencintai janji, dia mencintai kenangan. Kali ini, pertanyaannya sederhana. Apakah kalian bisa mencintai orang yang berdiri di hadapan kalian hari ini, tanpa sumpah, tanpa ingatan, tanpa jaminan?”
Raka memandangi kuncup kecil itu. Ia menyadari bahwa selama dua puluh delapan tahun, ia telah mencari seorang putri dari Karangsari dan seorang penyanyi dari Tirtamas. Ia tidak pernah benar-benar bertanya siapa sebenarnya Kirana, perempuan yang sekarang tertawa dengan seluruh wajahnya dan memberi nama konyol pada tanaman pot.
“Aku mengerti,” katanya pelan. “Aku tidak akan meminta ia mengingatku. Aku hanya akan memintanya memilihku.”
Nyai Taoyuan mengangguk, lalu memudar seperti kabut pagi. Dan di atas kepala Raka, kuncup persik kecil itu bergetar pelan, seolah menanti.
Malam itu Raka tidak bisa tidur. Ia berbaring menatap langit-langit, membayangkan seribu kemungkinan buruk. Bagaimana jika Kirana menolaknya? Bagaimana jika ia memilih orang lain? Bagaimana jika semua ini hanyalah akhir dari sebuah kutukan yang memang tidak pernah bisa dipatahkan? Tetapi di antara semua ketakutan itu, ada satu ketenangan kecil yang tidak mau pergi: untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berlari mengejar masa lalu. Ia sedang berdiri di masa kini, dan itu terasa seperti hal paling berani yang pernah ia lakukan.
Bab 6: Mekar yang Terakhir
Raka mengajak Kirana ke halaman rumah sakit tua pada sore hari yang berangin lembut.
Ia tidak mengatakan apa-apa tentang pohon itu. Ia hanya berkata bahwa ia ingin menunjukkan tempat favoritnya, dan Kirana, yang selalu penasaran, mengikutinya sambil menggerutu tentang sepatu yang tidak nyaman. Namun ketika mereka tiba di hadapan pohon persik yang miring itu, Kirana berhenti.
Ia berdiri diam selama beberapa saat, tangannya terangkat setengah, seolah ingin menyentuh sesuatu yang tidak terlihat. Napasnya berubah pendek. Dan ketika ia berbicara, suaranya gemetar.
“Aku mengenal tempat ini,” bisiknya. “Aku tidak tahu bagaimana, tetapi aku mengenalnya.”
“Mungkin kau pernah melihatnya dalam mimpi.”
“Bukan itu.” Ia menoleh, matanya basah dan bingung. “Raka, mengapa aku merasa seperti sudah menunggumu di sini bertahun-tahun?”
Raka menarik napas dalam. Ia sudah menyiapkan kalimat ini selama berminggu-minggu, tetapi semuanya lenyap dari kepalanya. Yang tersisa hanyalah kejujuran yang paling sederhana. “Aku tidak bisa menjelaskannya, dan aku tidak akan memaksamu mengerti. Tetapi aku ingin mengatakan sesuatu. Dan aku ingin kau tahu bahwa apa pun jawabanmu, aku akan menerimanya.”
Kirana mengangguk pelan, menunggu.
“Aku mencintaimu. Bukan karena mimpi, bukan karena takdir, bukan karena sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku mencintaimu karena kau tertawa dengan seluruh wajahmu. Karena kau memberi nama konyol pada tanaman yang hampir mati. Karena kau keras kepala tentang cara menyeduh teh.” Ia tersenyum, dan matanya ikut basah. “Aku mencintai perempuan yang berdiri di hadapanku hari ini. Dan aku akan terus mencintainya, bahkan jika ia tidak pernah mengingat apa pun tentangku.”
Angin berhenti. Burung-burung berhenti bernyanyi. Kirana berdiri tanpa suara, dan air mata mengalir pelan di pipinya.
“Aku tidak mengingat apa pun,” katanya akhirnya, suaranya pecah. “Itu yang paling menyakitkan. Aku tidak mengingat apa pun, tetapi tubuhku mengenalmu. Hatiku mengenalmu. Setiap kali kau tertawa, ada sesuatu di dalam diriku yang berkata, akhirnya.” Ia menyeka wajahnya dengan punggung tangan. “Aku tidak tahu apakah itu cinta atau sihir atau kegilaan. Tetapi aku tahu aku ingin memilihmu. Bukan karena sesuatu di masa lalu. Tetapi karena kau adalah orang yang membuatku merasa pulang.”
Dan pada saat kalimat itu selesai, sesuatu terjadi di atas kepala mereka.
Kuncup kecil di ujung dahan paling atas bergetar, lalu perlahan terbuka. Satu kelopak merah muda, lalu dua, lalu tiga, membuka seperti tangan yang akhirnya diizinkan melepaskan beban. Dan dari dahan-dahan yang tampak mati, ratusan kuncup lain bermunculan serentak, mekar dalam hitungan detik, menyelimuti pohon tua itu dengan awan merah muda yang hampir tidak masuk akal.
Kelopak-kelopak berguguran, perlahan, seperti salju musim semi. Kirana menengadah dengan mulut terbuka, dan Raka menangkap pandangannya. Di dalam mata perempuan itu, ia melihat sesuatu berkilat, sebuah kilat yang tidak padam kali ini. Dan sepotong kecil ingatan, hanya sepotong, hanya selembar kelopak kenangan, mengalir naik ke permukaan.
“Aku pernah membacakan puisi pada pohon ini,” bisik Kirana, tidak percaya. “Dan seseorang bilang nadaku salah di baris ketiga.”
Raka tertawa dan menangis sekaligus. “Seharusnya turun, bukan naik.”
Mereka berpelukan di bawah hujan kelopak yang tidak berhenti, dan untuk pertama kalinya setelah tiga kehidupan, tidak ada yang memisahkan mereka. Tidak ada perang di perbatasan, tidak ada surat palsu, tidak ada badai di selat selatan. Hanya dua orang yang berdiri di bawah pohon yang akhirnya berbunga.
Para perawat yang kebetulan lewat di lorong rumah sakit berhenti dan memandang keluar jendela. Seorang dokter tua, yang sudah bekerja di sana selama tiga puluh tahun dan tidak pernah sekali pun melihat pohon itu berbunga lebat, menjatuhkan berkas di tangannya. Seorang anak kecil di ranjang pasien menunjuk dan berseru bahwa langit sedang menurunkan permen berwarna merah muda. Tidak ada yang mencoba menjelaskan keajaiban itu. Mereka hanya berdiri berdampingan di jendela, menyaksikan, seperti orang-orang yang tahu bahwa mereka sedang menjadi saksi sesuatu yang lebih besar dari diri mereka.
Di kejauhan, di balik kabut pagi yang tidak pernah ada, Nyai Taoyuan memandang dengan mata yang basah. Ia menyentuh batang pohon dengan ujung jarinya, dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, ia mengucapkan sesuatu yang bukan kesedihan.
“Terima kasih,” bisiknya. “Akhirnya ada yang menyelesaikannya.”
Sumpah itu terlepas malam itu, bukan karena putus, melainkan karena akhirnya terpenuhi. Pohon persik yang miring di halaman rumah sakit tua itu terus berbunga setiap musim semi sesudahnya, lebih lebat dari pohon mana pun di kota, dan para pasien yang melihatnya dari jendela sering merasa dada mereka menghangat tanpa sebab.
Raka dan Kirana menikah setahun kemudian, di bawah pohon itu, dengan kelopak merah muda sebagai satu-satunya hiasan. Mereka tidak pernah mengingat semuanya. Tetapi kadang, di malam-malam yang sunyi, salah satu dari mereka akan terbangun dengan senyum di bibir dan air mata di pipi, tanpa tahu mengapa. Yang lain akan menggenggam tangannya dan berkata, “Tidak apa-apa. Kita sudah sampai.”
Karena sebagian cinta tidak perlu diingat untuk menjadi nyata. Cukup dipilih, hari demi hari, di bawah pohon yang akhirnya berani berbunga lagi.