novel online gratis 6

Hingga Bulan Terakhir Padam

Bagi pecinta novek misteri, aku rekomendasikan banget novel yang satu ini, novel hingga bula terakhir padam. Novel ini ditulis sepenuhnya oleh penulis hebat web novel online gratis. silahkan baca sepuasnya sampai bab akhir dengan gratis.

Bab 1: Tujuh Bulan di Langit

Pada awal segala zaman, langit memiliki tujuh bulan. Tidak ada yang tahu mengapa jumlahnya tujuh, sama seperti tidak ada yang tahu mengapa sungai selalu mengalir ke laut. Para dewa hanya mengetahui bahwa setiap bulan menjaga satu zaman, dan ketika sebuah bulan padam, zaman itu berakhir dan zaman baru dimulai di bawah cahaya bulan berikutnya.

Tugas menyalakan bulan-bulan itu jatuh pada Candrawati, dewi berambut perak yang tinggal di istana kaca di tepi cakrawala. Ia bukan dewi yang paling kuat, bukan pula yang paling dipuja. Namun tidak ada yang sanggup menandingi kesabarannya. Setiap malam ia merawat bulan seperti seorang ibu merawat anak yang sakit: memoles permukaannya dengan kain awan, menyuapinya dengan embun bintang, dan menyanyikan lagu-lagu pengantar tidur yang hanya ia ketahui.

Sementara itu, di sisi lain langit, tinggallah Bayusena, dewa angin. Ia tidak memiliki istana. Ia tidak pernah singgah terlalu lama di satu tempat. Rambutnya yang kusut selalu beterbangan, jubahnya robek di ujung-ujungnya, dan senyumnya, yang selalu terlihat setengah mengejek, menyembunyikan pikiran seseorang yang terlalu lama berjalan sendirian. Tugasnya adalah tugas yang tidak diinginkan siapa pun: meniup bulan yang sudah tua hingga padam, agar zaman yang usang tidak berlarut-larut menjadi penderitaan.

Hukum Langit telah menetapkan bahwa Penyala dan Peniup tidak boleh bertemu. Para tetua dewa tidak pernah menjelaskan alasannya dengan terang. Mereka hanya berkata bahwa cahaya dan angin yang bersentuhan pada waktu yang salah akan melahirkan sesuatu yang tidak dapat dikendalikan. Maka selama ribuan tahun, Candrawati menyalakan, Bayusena memadamkan, dan keduanya tidak pernah saling memandang.

Candrawati tidak pernah mempertanyakan hukum itu. Ia bukan dewi yang suka menantang, dan kesunyian sudah menjadi sahabat lamanya. Namun pada malam-malam tertentu, ketika bulan sedang tertidur di pangkuannya dan sepi di istana kaca terasa terlalu pekat, ia kadang merasakan sesuatu yang aneh: seolah-olah ada seseorang di luar sana yang juga sedang memandangi langit yang sama, seseorang yang juga sedang bertanya-tanya mengapa dunia dibagi menjadi dua tugas yang saling bertentangan. Ia selalu menepis perasaan itu seperti menepis debu dari kain. Tetapi debu, seperti yang ia tahu, selalu kembali.

Sampai pada malam ketika bulan pertama mulai meredup.

Candrawati duduk di tepi istananya, menggenggam bulan yang kini sebesar telapak tangan dan sedingin batu sungai. Ia sudah menjaganya selama seribu tahun. Ia tahu setiap bekas luka di permukaannya, setiap kawah kecil yang pernah ia usap dengan jari. Dan ia tahu bahwa malam ini adalah malam terakhirnya.

“Maafkan aku,” bisiknya pada bulan itu. “Kau sudah bekerja keras.”

Angin berembus lembut dari arah timur, membawa wangi hujan yang belum turun. Candrawati tidak menoleh. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran angin yang tak terlihat setiap kali sebuah bulan menjelang ajalnya. Itu bagian dari irama yang diwariskan padanya, seperti detak jantung yang tidak pernah ia pilih.

Namun malam itu, angin tidak segera menghembuskan napas terakhirnya pada bulan. Ia berputar di sekitar bahunya, seperti seseorang yang ragu mengetuk pintu.

“Kau terlambat,” kata Candrawati akhirnya, tanpa mengangkat pandangan. “Biasanya kau sudah selesai pada saat ini.”

“Biasanya aku tidak punya alasan untuk berlama-lama.”

Suara itu dalam dan serak, dan membuat jantungnya terlonjak. Candrawati berbalik. Di hadapannya, di atas pagar istana kaca yang tidak seharusnya dapat disentuh siapa pun selain dirinya, bersandar seorang pria dengan jubah compang-camping dan mata sewarna langit sebelum badai.

“Kau tidak boleh berada di sini,” katanya, setengah berbisik. “Hukum—”

“Aku tahu hukumnya.” Bayusena melompat turun dengan ringan, selembut daun yang jatuh. “Aku sudah membacanya seribu kali. Dan seribu kali pula aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang selama ini menyalakan cahaya yang kupadamkan.”

Mereka berdiri berhadapan di bawah bulan yang sekarat. Cahayanya yang redup jatuh di antara mereka seperti benang perak yang rapuh. Candrawati menyadari bahwa ia tidak merasa takut, dan itu justru menakutkannya.

Ia memperhatikan wajah dewa itu lebih saksama. Ada garis-garis halus di sudut matanya, bekas tawa yang terlalu lama dipaksakan, dan ada kelelahan yang tidak berhasil disembunyikan oleh senyum miringnya. Ia tampak seperti seseorang yang sudah menyaksikan terlalu banyak akhir dan tidak pernah sekali pun diundang menyaksikan awal. Candrawati tiba-tiba merasa kasihan, dan perasaan itu lebih berbahaya daripada rasa takut mana pun.

“Aku hanya ingin melihat wajah orang yang merawat sesuatu begitu lama padahal tahu akhirnya akan kupadamkan,” kata Bayusena pelan. “Aku ingin tahu bagaimana rasanya mencintai sesuatu yang pasti akan hilang.”

“Rasanya,” jawab Candrawati, matanya mulai panas, “seperti menyalakan lilin di tengah angin.”

Bayusena tertawa kecil, tetapi tawa itu retak di tengah. “Itu kalimat paling menyakitkan yang pernah kudengar, dan aku sudah mendengar jeritan badai.”

Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi selama beberapa saat. Bulan di tangan Candrawati berkedip, sekali, dua kali, seolah ingin mengingatkan bahwa waktu tidak menunggu. Bayusena melangkah mendekat. Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, tangan yang selalu bergerak itu terdiam, hanya untuk menyentuh ujung jemari sang dewi.

“Aku akan meniupnya dengan lembut,” katanya. “Ia tidak akan merasa sakit. Itu satu-satunya hal yang bisa kujanjikan.”

Candrawati mengangguk. Di antara mereka, bulan pertama padam tanpa suara, dan malam yang mengikutinya gelap seperti belum pernah ada cahaya sebelumnya. Dalam kegelapan itu, dua dewa berdiri sangat dekat, dan tidak satu pun dari mereka yang berani mengakui bahwa Hukum Langit baru saja dilanggar.

Bab 2: Bulan Kedua, Kejar-kejaran Pertama

Dewan Langit mengetahuinya sebelum fajar berikutnya terbit.

Para tetua dewa tidak perlu mata untuk melihat pelanggaran. Mereka merasakannya dalam getar tipis di benang-benang takdir, seperti laba-laba yang menyadari sehelai sutranya telah disentuh. Mereka memanggil Candrawati dan Bayusena ke aula perak di puncak langit, dan di sanalah, di hadapan dua belas singgasana yang menjulang, keduanya menerima hukuman yang tidak akan pernah mereka lupakan.

“Kalian telah menyatukan cahaya dan angin,” kata Dewa Agung Wirabuana, janggutnya putih seperti awan musim dingin. “Itu yang terlarang. Maka mulai hari ini, kalian tidak akan lagi diizinkan berada di zaman yang sama dalam waktu yang sama. Candrawati akan menyalakan bulan kedua di sisi timur langit, dan Bayusena akan menunggu di sisi barat. Jika salah satu dari kalian melintasi batas itu, bulan yang sedang dijaga akan padam sebelum waktunya.”

“Itu tidak adil,” kata Bayusena, suaranya rendah dan berbahaya. “Kami tidak melakukan apa pun selain berbicara.”

“Kalian melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada berbicara. Kalian mulai peduli.”

Mereka dipisahkan seperti dua sungai yang dipaksa mengalir ke arah yang berlawanan. Candrawati dikurung di istana kacanya dengan bulan kedua, bulan yang lebih besar dan lebih terang, bulan yang menyilaukan seolah ingin menyembunyikan sesuatu. Bayusena dikirim ke barat, ke padang pasir yang tidak berpenghuni, ke tempat di mana angin hanya berbicara pada dirinya sendiri.

Di padang pasir barat, Bayusena duduk di atas bukit pasir dan menatap hamparan kosong yang bergulung tanpa ujung. Angin di sana tidak punya siapa pun untuk diajak bicara, dan kesunyiannya begitu tebal hingga hampir bisa disentuh. Ia melemparkan segenggam pasir ke udara dan memperhatikannya jatuh, butir demi butir, seperti waktu yang bocor dari tangan yang terlalu lemah untuk menggenggamnya. Ia tidak pernah mengira bahwa seseorang bisa merindukan wajah yang hanya ia lihat sekali, di bawah cahaya bulan yang sedang sekarat.

Namun hukum tidak pernah cukup kuat untuk menghentikan seseorang yang sudah belajar merindu.

Pada malam ketujuh puluh dari bulan kedua, Candrawati menemukan sehelai daun kering tersangkut di jendela istananya. Di permukaannya, ditulis dengan goresan yang bergetar, hanya ada satu kalimat: Apakah bulanmu baik-baik saja?

Ia tertawa, untuk pertama kalinya dalam sebulan, dan tawa itu terdengar seperti lonceng kecil yang pecah. Ia membalas dengan membasahi ujung jarinya dalam cahaya bulan dan menuliskan pada sehelai awan tipis: Ia merindukan seseorang yang meniup dengan lembut. Awan itu terbang ke barat, dibawa angin yang menunggu.

Begitulah mereka berbicara selama berabad-abad, lewat daun dan awan, lewat kabut pagi dan embun malam. Bayusena mengirimkan wangi bunga dari lembah-lembah yang ia lewati, dan Candrawati membalasnya dengan cahaya yang dikirim miring, jatuh tepat di jendela tempat daun-daun itu singgah. Mereka belum pernah melihat wajah satu sama lain sejak malam pertama, tetapi mereka sudah mengenal napas satu sama lain lebih baik daripada mengenal diri sendiri.

Dan pada satu malam, ketika bulan kedua mulai menua, Bayusena memutuskan bahwa surat tidak lagi cukup.

Sebelum ia berangkat, seekor angin tua dari padang pasir, sahabat lamanya yang telah menemaninya sejak zaman pertama, mencoba menahannya. “Kau tahu apa yang akan mereka lakukan,” desisnya di antara butir-butir pasir. “Mereka tidak akan menghukummu. Mereka akan menghukumnya.” Bayusena terdiam. Itulah ketakutan terbesarnya, dan ia sudah menimbang-nimbangnya selama berminggu-minggu. “Mungkin,” katanya akhirnya. “Tetapi jika aku tidak pergi, aku akan menghukum diriku sendiri lebih kejam daripada yang bisa mereka lakukan.” Dan ia melesat pergi sebelum keraguan sempat menahannya.

Ia melintasi batas barat dengan kecepatan yang belum pernah ia kerahkan, melesat melewati gunung-gunung dan samudra, membiarkan kemarahan Dewan Langit berembus di punggungnya seperti badai yang tak berani menyentuhnya. Di tepi cakrawala timur, ia melihat istana kaca yang berkilau, dan di balkon tertingginya berdiri seorang dewi dengan rambut perak yang melambai tertiup angin yang ia bawa sendiri.

“Kau gila,” bisik Candrawati ketika ia mendarat di hadapannya. “Bulannya akan padam.”

“Bulan itu sudah hampir mati.” Bayusena terengah, rambutnya berantakan, senyumnya miring dan penuh kemenangan. “Dan aku sudah terlalu lama menunggu seribu tahun tanpa melihat matamu.”

Mereka hanya diberi waktu sebentar. Ketika alarm Dewan Langit berbunyi di kejauhan, seperti dentang ribuan lonceng perunggu, Candrawati menekan sesuatu ke telapak tangan Bayusena: sehelai perak tipis dari bulan yang mereka jaga bersama.

“Aku akan memindahkan bulan ketiga jauh dari istana ini,” katanya cepat. “Jika kau ingin menemukanku, kau harus mengejarnya. Kita tidak akan pernah bisa bersama di sini. Tetapi di tempat yang tidak mereka awasi, mungkin.”

“Aku akan mengejarmu,” kata Bayusena. “Sampai bulan terakhir sekalipun.”

Ia menghilang tepat sebelum para penjaga Dewan Langit tiba. Bulan kedua padam malam itu, lebih cepat dari seharusnya, dan zaman kedua berakhir dengan jeritan badai yang tidak pernah dijelaskan oleh siapa pun.

Candrawati berdiri lama di balkonnya setelah sang dewa pergi, menggenggam sehelai perak itu sampai ujungnya meninggalkan garis merah di telapak tangannya. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa seperti seseorang yang baru saja belajar bahwa rindu bisa memiliki berat, dan berat itu akan ia pikul sampai akhir.

Dan itulah awal dari kejar-kejaran terpanjang dalam sejarah para dewa.

Bab 3: Ribuan Tahun Surat Tanpa Alamat

Bulan ketiga muncul di langit yang berbeda dari yang sebelumnya.

Candrawati telah menyembunyikannya di balik awan badai di atas samudra selatan, jauh dari mata Dewan Langit, jauh dari semua yang ia kenal. Ia tinggal di sebuah pulau karang yang sepi, di mana ombak adalah satu-satunya yang menemaninya. Ia menyalakan bulan itu setiap malam, dan setiap malam pula ia berdoa pada siapa pun yang sudi mendengar bahwa Bayusena akan menemukannya.

Ia tidak perlu menunggu lama. Pada musim ketiga, sebuah angin hangat menyapu pulau itu, dan di antara deru ombak ia mendengar sebuah suara yang ia kenali dari seribu surat daun.

“Kau memilih tempat yang sulit dicari,” kata Bayusena, terengah dengan senyum lelah. “Aku sudah melewati sembilan benua.”

“Aku mengira kau akan lebih cepat.”

“Aku sengaja lambat. Aku ingin tahu seberapa lama kau akan menungguku.”

Candrawati memukul bahunya pelan, setengah marah, setengah ingin tertawa. “Kau tahu betapa lamanya malam-malam itu tanpa kabarmu?” “Aku tahu,” kata Bayusena, kali ini tanpa senyum. “Karena aku menghitung setiap malamnya juga.” Ombak memecah di batu karang, dan untuk beberapa saat tidak ada yang bersuara. Hanya itu yang perlu mereka katakan tentang betapa panjangnya penantian itu.

Mereka menghabiskan beberapa malam yang singkat bersama di pulau itu, duduk di atas batu karang yang masih hangat oleh matahari terakhir, berbagi cerita tentang segala yang terjadi selama mereka terpisah. Bayusena bercerita tentang gurun yang menyanyi, tentang puncak es tempat ia pernah tersesat tiga ratus tahun, tentang manusia pertama yang menamainya angin dan menganggapnya dewa. Candrawati bercerita tentang bulan yang tidak pernah mengeluh, dan tentang malam-malam panjang ketika ia berbicara sendirian pada cermin air.

Namun Dewan Langit tidak pernah benar-benar lengah. Pada malam kelima, awan hitam berkumpul di cakrawala, dan dua belas cahaya putih menyambar laut, menandai posisi pelarian itu dengan garis api.

Candrawati ingat betul malam itu. Ia sedang menyisir rambutnya di tepi laut ketika cahaya putih pertama menyambar karang di dekat kakinya, membuat air berdesis dan menguap. Bayusena menarik tangannya dan mereka berlari menyusuri pantai, tertawa dan terengah di antara semburan api putih, seperti dua anak nakal yang tertangkap basah mencuri apel. Mereka terpisah di ujung pulau, di bawah langit yang mulai pecah, hanya sempat bertukar satu kalimat: “Sampai zaman berikutnya.” Dan ketika Candrawati menoleh sekali lagi, yang tersisa hanyalah angin yang berputar-putar di tempat sang dewa berdiri tadi.

Mereka kembali berpisah. Bulan ketiga dipindahkan ke pegunungan tinggi, bulan keempat ke hutan di balik kabut, bulan kelima ke padang rumput yang bergoyang. Setiap zaman, Candrawati menemukan tempat baru untuk bersembunyi, dan setiap zaman pula Bayusena menemukannya, kadang dalam hitungan hari, kadang setelah seabad. Mereka menciptakan permainan yang aneh dan pahit, saling mengejar di antara zaman-zaman yang berganti, dan setiap pertemuan lebih singkat dari yang sebelumnya.

Manusia, yang tinggal di bawah bulan-bulan itu, tidak pernah tahu apa yang terjadi di atas kepala mereka. Mereka hanya menyadari bahwa di beberapa malam yang aneh, angin berembus lebih lembut dari biasanya, dan bulan tampak seolah tersenyum. Para penyair menulis puisi tentang itu. Para pelaut menyebutnya malam keberuntungan. Para kekasih muda berjanji untuk saling menemukan di bawah cahaya yang sama.

Di zaman bulan kelima, Candrawati tinggal di sebuah padang rumput yang luas, dan untuk pertama kalinya ia mencoba hidup di antara manusia. Ia menyamar sebagai penenun tua di sebuah desa kecil, menumbuhkan rambut perak yang tidak mau ia sembunyikan. Anak-anak desa menyukainya, dan para tetua menganggapnya pertanda baik. Ia belajar menyulam dan memasak sup yang selalu terlalu asin. Dan setiap kali angin timur berembus melewati jendela, ia berhenti menenun, mengangkat kepala, dan tersenyum pada ruangan kosong, karena ia tahu sebuah surat daun akan segera tiba.

Dan di antara semua pertemuan itu, ada satu yang paling Candrawati kenang. Di sebuah lembah di bawah bulan keempat, mereka sempat duduk berdua selama tiga hari tanpa gangguan. Ia bertanya pada Bayusena apakah ia pernah merasa lelah mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa ia genggam.

“Setiap hari,” jawab Bayusena jujur. “Tetapi aku jauh lebih lelah membayangkan tidak mengejar.”

“Bagaimana jika suatu hari aku berhenti berlari?”

“Maka aku akan berhenti juga.” Ia menyentuh pipinya dengan punggung tangan, seringan angin pertama di pagi hari. “Dan kita akan menemukan apa yang terjadi pada dunia ketika angin dan cahaya akhirnya diam di tempat yang sama.”

Candrawati tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di bahu sang dewa, dan untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, ia membiarkan dirinya merasa aman.

Namun kedamaian itu terlalu singkat. Ketika bulan keempat mulai redup, sebuah utusan Dewan Langit turun dengan jubah putih dan wajah tanpa ekspresi. Ia menyampaikan satu pesan yang membuat darah Candrawati membeku.

“Bulan keenam dan ketujuh bukan seperti yang kalian kira. Kalian tidak lagi punya waktu untuk bermain.”

Ia menghilang sebelum keduanya sempat bertanya. Tetapi untuk pertama kalinya sejak permainan kejar-kejaran itu dimulai, Bayusena berhenti tersenyum.

Bab 4: Rahasia Bulan Keenam

Untuk memahami pesan utusan itu, Candrawati harus melakukan sesuatu yang tidak pernah berani ia lakukan selama ribuan tahun: ia harus membuka kitab tertutup di perpustakaan para tetua.

Ia menyelinap pada malam ketika bulan keenam baru saja dinyalakan, ketika para penjaga sibuk mengawasi jalur langit di sisi barat. Di ruang bawah tanah aula perak, di antara rak-rak yang dipenuhi gulungan kuno, ia menemukan sebuah buku dengan sampul hitam tanpa judul. Halaman-halamannya dingin, dan tinta di dalamnya berpendar samar seperti api yang takut ketahuan.

Ia membaca dengan jari gemetar. Setiap kalimat adalah paku yang menancap lebih dalam.

Tujuh bulan bukanlah tujuh benda, melainkan tujuh tahap dari satu jantung. Penyala dan Peniup bukan pekerjaan, melainkan pengorbanan. Pada bulan ketujuh, Penyala harus menyerahkan jantungnya sendiri sebagai cahaya terakhir, dan Peniup, dengan napasnya sendiri, harus memadamkannya. Hanya dengan itulah dunia dapat beralih dari zaman para dewa menuju zaman manusia.

Candrawati menutup buku itu dan menahan napas. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi, seperti ruangan yang kehilangan udara. Ia mengerti sekarang mengapa Hukum Langit melarang mereka bertemu. Para tetua tidak ingin cinta tumbuh di antara dua orang yang ditakdirkan menjadi korban dan pelaksana.

Ia teringat semua malam yang dihabiskannya merawat bulan, semua lagu pengantar tidur yang ia nyanyikan pada benda-benda yang kelak akan padam. Ia bertanya-tanya apakah para tetua dulu juga pernah menjadi Penyala, apakah mereka pernah berdiri di tempat yang sama dengan buku ini terbuka di tangan, menyadari bahwa seluruh pekerjaan mereka hanyalah persiapan menuju pengorbanan. Ia tidak menemukan jawaban di halaman mana pun. Dan itu, entah mengapa, membuatnya semakin takut.

Ia menemukan Bayusena di puncak gunung tertinggi, tempat angin paling kencang dan sepi. Sang dewa berdiri dengan punggung menghadap bulan, rambutnya berkibar liar. Ketika Candrawati menceritakan semuanya, ia tidak menjawab selama beberapa saat. Hanya angin yang berbicara, menderu tanpa kata di antara bebatuan.

“Aku sudah menduganya,” katanya akhirnya, suaranya lebih tenang dari yang Candrawati harapkan. “Tidak seluruhnya. Tetapi aku selalu merasa ada sesuatu yang tidak mereka katakan. Mengapa Peniup tidak pernah tahu siapa yang menyalakan? Mengapa kita tidak pernah diberi kesempatan untuk bertanya?”

“Karena jika kita tahu, kita tidak akan mau melakukannya.”

“Dan sekarang kita tahu.” Bayusena akhirnya berbalik. Mata abu-abunya basah, dan untuk pertama kalinya Candrawati melihat dewa yang selalu tertawa itu hampir menangis. “Jadi katakan padaku, Candra. Apa yang harus kulakukan dengan napas yang kuhirup ini, jika pada akhirnya aku harus menggunakannya untuk memadamkanmu?”

Candrawati ingin mengatakan sesuatu yang menghibur, tetapi semua kata yang ia punya terasa terlalu kecil. Akhirnya ia hanya berdiri di sampingnya, menatap jurang gelap di bawah puncak, dan membiarkan kesunyian melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh kalimat. Angin menyentuh rambutnya, hangat dan tahu diri, seolah ikut meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahnya. Di bawah mereka, kota-kota manusia berkelip seperti ladang bintang yang jatuh, dan Candrawati bertanya-tanya apakah mereka layak mendapat pengorbanan sebesar itu.

Candrawati meraih kedua tangannya. Telapak tangan Bayusena dingin dan kasar karena ribuan tahun mengembara. “Kita punya satu bulan lagi sebelum bulan ketujuh. Mungkin lebih, jika kita menyembunyikannya cukup baik. Mari kita gunakan sebaik-baiknya.”

“Kau ingin berlari lagi?”

“Aku ingin hidup,” jawabnya. “Sekali saja, tanpa dikejar, tanpa mengejar.”

Mereka menghabiskan seluruh zaman bulan keenam dalam pelarian yang aneh dan manis. Mereka tidak lagi bersembunyi dari Dewan Langit, melainkan hanya memastikan tidak ada yang menemukan mereka sebelum waktunya. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat bersama: kota pelabuhan yang ramai, pasar-pasar yang berbau rempah, desa nelayan yang menyalakan lampu minyak setiap malam. Mereka menyamar sebagai manusia, dengan nama pinjaman dan pakaian sederhana, dan belajar bagaimana rasanya makan roti hangat dan tidur di bawah atap jerami.

Ada malam ketika hujan turun deras, dan mereka berdua berteduh di sebuah kedai kecil yang pemiliknya, seorang perempuan tua berpipi merah, memaksa mereka makan semangkuk bubur panas. “Kalian pasangan yang baru menikah?” tanyanya sambil mengaduk kuali. Candrawati dan Bayusena saling bertukar pandang, lalu tertawa tanpa bisa menahan diri. “Sudah lama sekali,” jawab Bayusena. “Lebih lama dari yang bisa kau bayangkan.” Perempuan tua itu mengangguk bijak, seolah ia mengerti lebih banyak daripada yang mereka kira, dan menambahkan sesendok bubur lagi ke mangkuk mereka tanpa diminta.

Pada suatu malam di sebuah desa kecil, Candrawati duduk di tepi dermaga, kakinya menggantung di atas air. Bayusena duduk di sampingnya, menyandarkan kepala di bahunya.

“Kau tahu bagian yang paling lucu?” bisiknya. “Selama ribuan tahun aku berpikir aku mengejarmu. Ternyata aku hanya mencoba mengejar rasa hidup yang kau bawa.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku takut.” Ia memejamkan mata. “Karena aku akhirnya punya sesuatu yang bisa hilang.”

Candrawati menggenggam tangannya. Di langit, bulan keenam bergantung rendah, sangat besar dan sangat terang, dan dari kejauhan, seperti lonceng yang tak terdengar, ia merasakan bulan ketujuh mulai terbentuk dalam kegelapan, seperti jantung yang menunggu untuk berdetak.

Bab 5: Bulan Terakhir

Pada malam ketika bulan keenam padam, Bayusena melakukan sesuatu yang paling sulit dalam hidupnya yang panjang: ia mematuhi hukum.

Ia meniup bulan itu dengan lembut, selembut yang ia janjikan pada malam pertama, dan zaman keenam berakhir dalam keheningan yang menyayat. Candrawati berdiri di sampingnya dengan mata terpejam, dan ketika ia membuka mata, langit di atas mereka sudah berubah.

Bulan ketujuh telah lahir.

Bulan itu kecil, jauh lebih kecil dari yang sebelumnya, dan cahayanya lembut seperti napas yang tertahan. Ia menggantung rendah di langit, seolah malu pada kegelapan di sekelilingnya. Dan di dalam cahayanya, Candrawati mendengar sesuatu yang membuatnya menggigil, detak yang pelan dan teratur, detak jantungnya sendiri.

“Berapa lama kita punya?” tanya Bayusena.

“Satu zaman penuh. Seribu tahun.” Candrawati tersenyum getir. “Cukup lama untuk menjadi manusia, jika kita mau.”

“Bagaimana rasanya menjadi manusia?” Bayusena bertanya, setengah bergurau. “Kudengar mereka mudah lelah dan sering lapar.” “Kudengar juga begitu,” jawab Candrawati. “Dan kudengar mereka punya satu kelebihan yang tidak dimiliki dewa mana pun.” “Apa itu?” “Mereka tahu bahwa waktu mereka terbatas, jadi mereka tidak menyia-nyiakannya.”

Dan itulah yang mereka lakukan. Mereka melepaskan kesaktian sedikit demi sedikit, bukan sebagai pengorbanan melainkan sebagai hadiah. Mereka membangun rumah kecil di lereng bukit, menanam sayuran, memelihara kambing. Mereka bertengkar tentang hal-hal sepele, siapa yang lupa menutup pintu kandang, siapa yang terlalu banyak menaburkan garam, dan berbaikan dengan cara-cara yang membuat mereka tertawa sampai menangis. Seribu tahun yang seharusnya terasa panjang mengalir seperti sungai yang kehilangan bendungannya.

Para tetangga di lereng bukit mengenal mereka sebagai pasangan aneh yang selalu keluar rumah saat malam hari. Mereka memanggil sang suami Bayu dan sang istri Candra, tanpa pernah curiga bahwa nama-nama itu bukan sekadar nama. Anak-anak desa sering datang bermain di halaman mereka, dan Candrawati, yang tidak pernah memiliki anak, menemukan bahwa ia sangat pandai mendongeng. Ia menceritakan kisah tentang dewi yang menyalakan bulan, dan anak-anak mendengarkan dengan mata bulat, tidak menyadari bahwa dongeng itu adalah kisah hidup perempuan yang duduk di hadapan mereka.

Namun Dewan Langit tidak lupa. Pada malam terakhir dari zaman ketujuh, ketika bulan telah menyusut menjadi sebesar buah apel dan cahayanya hampir tidak mampu menerangi halaman rumah, dua belas cahaya putih turun dari langit dan berdiri melingkari rumah kecil mereka.

Candrawati sudah merasakan kedatangan mereka sejak sore. Burung-burung berhenti bernyanyi lebih awal, dan udara terasa berat seperti sebelum badai. Ia dan Bayusena duduk di beranda, bergandengan tangan, menikmati malam terakhir dengan cara yang paling sederhana: dua cangkir teh hangat dan keheningan yang mereka bagi seperti selimut. “Kau takut?” tanya Bayusena. “Sedikit,” jawabnya jujur. “Tapi lebih sedikit daripada seribu tahun yang lalu.”

“Waktunya telah tiba,” kata Dewa Agung Wirabuana. Janggutnya kini tidak hanya putih, tetapi hampir transparan, seolah ia sendiri sudah mulai memudar. “Candrawati, serahkan jantungmu pada bulan. Bayusena, padamkan.”

Candrawati melangkah keluar dengan rambut perak yang tergerai. Di sampingnya, Bayusena berdiri dengan jubah yang sudah tidak lagi compang-camping, jubah wol sederhana yang dijahit tangan istrinya.

“Kami sudah menjalani hukuman kami,” kata Candrawati dengan tenang. “Kami sudah membayar apa yang harus dibayar.”

“Kalian belum membayar apa-apa.” Suara sang tetua dingin dan tanpa belas kasihan. “Seribu tahun yang kalian habiskan hanyalah penundaan. Dunia membutuhkan pergantian zaman. Jika bulan terakhir tidak padam, tidak akan ada matahari yang terbit.”

“Matahari?” Bayusena mengerutkan alis. “Kau tidak pernah menyebutkan matahari.”

Wirabuana terdiam sesaat. Dan dalam keheningan itu, Candrawati mengerti bahwa Dewan Langit sendiri tidak pernah benar-benar yakin akan apa yang terjadi setelah bulan ketujuh. Mereka hanya mengikuti ramalan kuno yang diwariskan tanpa pertanyaan, takut pada akhir yang tidak mereka pahami.

Seorang tetua perempuan di barisan belakang, yang selama ini hanya berdiri diam, tiba-tiba bersuara lirih. “Dulu aku juga seorang Penyala,” katanya. “Aku menyerahkan jantungku tanpa bertanya. Dan aku tidak pernah tahu apakah pengorbananku berarti.” Keheningan menyelimuti lingkaran itu. Beberapa tetua lain menunduk, dan Candrawati menyadari bahwa para penguasa langit ini bukan makhluk kejam, melainkan makhluk yang terlalu lama memegang kebohongan yang sama hingga lupa bagaimana melepaskannya.

“Kalian tidak tahu,” katanya pelan. “Kalian belum pernah melihat apa yang menunggu di balik bulan terakhir. Kalian hanya menyuruh kami mati demi sesuatu yang kalian sendiri takutkan.”

Cahaya putih para tetua bergetar. Salah satu dari mereka melangkah maju, tangan terangkat, siap memaksa Bayusena untuk melaksanakan perintah. Dan pada saat itu, Bayusena melakukan sesuatu yang membuat semua dewa tercengang.

Ia tertawa.

“Kalian pikir aku peniup yang patuh,” katanya. “Kalian benar. Selama ribuan tahun, aku patuh. Tetapi napas ini bukan lagi milik kalian.”

Dan ia menarik napas yang sangat dalam, lebih dalam dari apa pun yang pernah dihirup seorang dewa.

Bab 6: Hingga Bulan Terakhir Padam

Bayusena tidak meniup bulan itu.

Ia meniup ke arah langit, ke arah dua belas cahaya putih yang melingkari rumah mereka, dengan seluruh kekuatan yang ia kumpulkan selama ribuan tahun mengembara. Angin itu melesat seperti badai yang tidak punya nama, menyapu para tetua ke belakang, meniup jubah-jubah mereka hingga robek, memporak-porandakan formasi cahaya yang telah berdiri sejak awal segala zaman.

“Candra, sekarang!” teriaknya.

Candrawati mengangkat tangan. Dari telapak tangannya yang terbuka, bulan ketujuh melayang naik, bergetar pelan, seolah ikut mendengar. Ia tidak menyerahkan jantungnya seperti yang diminta hukum. Ia melakukan sebaliknya: ia membuka dadanya, dan membiarkan cahaya bulan mengalir masuk, bukan keluar.

Cahaya itu menyatu dengan dirinya, menyala di dalam dadanya seperti api yang akhirnya menemukan rumah. Dan ia mengerti, dengan kejernihan yang hanya datang pada saat-saat terakhir, bahwa para tetua selama ini keliru. Bulan terakhir bukan untuk dipadamkan, melainkan untuk diterima.

“Jantungku,” bisiknya sambil menatap Bayusena, “bukan untuk diserahkan. Ia untuk dibagi.”

Ia meraih tangan Bayusena dan menekannya ke dadanya sendiri. Cahaya mengalir dari satu telapak ke telapak lain, melingkar di antara mereka seperti pita perak yang tidak memiliki ujung. Napas Bayusena dan cahaya Candrawati bertemu, bercampur, dan menjadi sesuatu yang tidak pernah ada di langit mana pun.

Dewan Langit menjerit. Para tetua mencoba menarik mereka kembali, tetapi kekuatan itu terlalu besar. Dua belas cahaya putih satu per satu padam seperti lilin yang tertiup, bukan karena dibunuh, melainkan karena dunia akhirnya tidak lagi membutuhkan mereka. Zaman para dewa menua, dan seperti semua yang menua, ia berhak beristirahat.

Wirabuana, yang terakhir bertahan, menatap kedua dewa itu dengan mata yang kini terlihat sangat lelah. “Kalian telah menghancurkan hukum,” katanya parau. “Kalian tidak tahu apa yang menunggu.”

“Tidak,” Candrawati mengakui. “Tetapi kami tahu apa yang kami pilih.”

Wirabuana menatap bintang-bintang baru yang mulai berkelip di langit pagi, dan untuk pertama kalinya, wajahnya yang keras melunak. “Mungkin,” katanya hampir tak terdengar, “ketakutan kami selama ini hanya sebuah kesalahan yang diwariskan terlalu lama.” Ia membungkuk pada keduanya, dalam hormat yang paling tulus yang pernah diberikan seorang dewa agung, lalu memudar bersama cahaya putihnya, menjadi debu emas yang bergabung dengan sinar matahari pertama.

Bulan ketujuh padam, tetapi tidak dengan cara yang diharapkan siapa pun. Ia tidak menghilang. Ia pecah menjadi ribuan kepingan perak yang mengambang di langit seperti serbuk bunga, berkilau, berputar lembut, lalu menempel di kegelapan seperti kunang-kunang yang menolak pulang. Dan di timur, di balik cakrawala yang selama ribuan tahun hanya mengenal malam, sebuah warna yang belum pernah dilihat siapa pun mulai merekah: jingga pucat yang perlahan menjadi emas.

Matahari terbit untuk pertama kalinya.

Candrawati dan Bayusena berdiri di halaman rumah kecil mereka, tangan masih saling menggenggam, menyaksikan cahaya itu merayap di atas bukit dan lembah. Ribuan kepingan perak di langit kini menjadi bintang, dan di antara mereka, sebuah bulan sabit tipis menggantung, kecil dan pucat, seolah mengingat siapa dirinya.

“Kita berhasil,” bisik Candrawati.

“Kita memulai sesuatu,” Bayusena mengoreksi, dengan senyumnya yang setengah mengejek dan sepenuhnya penuh cinta. “Aku tidak tahu apakah itu berhasil.”

Mereka tidak lagi menjadi dewa setelah hari itu. Kekuatan mereka mengalir ke dunia, ke angin yang kini berembus dengan irama baru, ke bulan yang mulai tumbuh dan menyusut setiap bulan dalam siklus yang lembut. Mereka menjadi sepasang manusia biasa yang menua perlahan di lereng bukit, saling memegangi tangan di beranda ketika hujan turun, saling bertengkar tentang hal-hal kecil dan saling memaafkan dengan cara yang hanya dimiliki mereka yang telah mengejar satu sama lain sepanjang zaman.

Hari-hari mereka berjalan lambat dan sederhana. Bayusena belajar memperbaiki atap, meskipun ia selalu lupa bahwa ia tidak bisa lagi memanggil angin untuk membantunya mengangkat genting. Candrawati belajar membaca kalender musim, menandai tanggal-tanggal ketika bulan akan penuh dengan lingkaran kecil di dinding. Anak-anak desa tumbuh dewasa, memiliki anak, dan anak-anak mereka pun datang bermain di halaman yang sama. Tidak ada yang bertanya mengapa sepasang suami istri itu tidak pernah tampak menua secepat orang lain, sampai pada akhirnya mereka menua juga, perlahan, seperti buah yang matang di dahan.

Dan setiap kali malam datang, mereka duduk berdua menatap langit. Bulan sabit tipis itu selalu ada di sana, kadang gemuk, kadang kurus, selalu kembali.

Manusia di bawahnya tidak pernah tahu bahwa setiap embusan angin malam yang lembut adalah napas seseorang yang pernah mengejar cahaya melintasi ribuan tahun. Mereka tidak tahu bahwa setiap bulan purnama adalah janji dari seorang dewi yang menolak menyerahkan jantungnya sebagai pengorbanan, dan memilih membaginya sebagai cinta.

Mereka hanya merasakan bahwa pada beberapa malam yang aneh, ketika angin dan cahaya berpadu di waktu yang sama, dunia terasa sedikit lebih hangat. Dan itu sudah cukup.

Karena kisah dua dewa itu tidak berakhir ketika bulan terakhir padam. Ia hanya berpindah dari langit ke bumi, dari kejaran menjadi pelukan, dari ribuan tahun kerinduan menjadi satu kehidupan yang diisi sepenuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *